HARIAN RAKYAT KALTARA - Upaya memastikan rumah sakit tetap berfungsi sebagai garda terdepan penyelamatan jiwa saat bencana terjadi, terus diperkuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Utara (Kaltara).
Salah satunya melalui gladi simulasi vertical rescue yang digelar di RSUD dr H Jusuf SK, Selasa (16/12).
Simulasi ini dirancang untuk menguji kesiapan menghadapi situasi darurat seperti gempa bumi dan kebakaran Gedung. Di mana proses evakuasi pasien tidak dapat dilakukan melalui jalur normal.
Rumah sakit dipilih sebagai lokasi simulasi. Karena memiliki tingkat kerentanan tinggi, sekaligus tanggung jawab besar dalam menyelamatkan nyawa.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltara Andi Andiampa menegaskan, latihan ini bukan sekadar agenda seremonial.
Melainkan sarana mengukur kecepatan respons, ketepatan prosedur, serta soliditas koordinasi lintas instansi saat krisis terjadi.
Simulasi vertical rescue ini penting untuk memastikan seluruh personel siap menghadapi gempa bumi atau kebakaran bangunan.
Dalam skenario latihan, korban digambarkan terjebak di lantai atas gedung akibat akses tangga darurat yang tidak dapat digunakan.
Tim gabungan kemudian mengevakuasi korban menggunakan teknik vertical rescue. Dengan menurunkan korban dari ketinggian sebelum dibawa menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Latihan ini juga menjadi sarana uji mental bagi para petugas di lapangan. Sebab, kondisi darurat kerap diwarnai tekanan psikologis, keterbatasan waktu, serta risiko keselamatan yang tinggi.
“Respons cepat tidak muncul secara instan. Dibutuhkan latihan berulang agar personel terbiasa bekerja di bawah tekanan dan tetap mengikuti prosedur keselamatan,” kata Andi.
Meski berjalan lancar, BPBD mencatat sejumlah bahan evaluasi. Salah satunya terkait skenario evakuasi yang dinilai perlu dimatangkan, agar proses penyelamatan dapat berlangsung lebih efektif.
“Tadi korban diturunkan dari lantai enam ke lantai empat. Idealnya, korban bisa langsung dievakuasi ke lantai dasar agar tidak perlu evakuasi lanjutan. Ini menjadi catatan penting untuk perbaikan ke depan,” jelas Andi.
Ia menekankan pentingnya penyusunan rencana kontingensi dan rencana operasional yang detail.
Tidak hanya untuk gempa dan kebakaran, tetapi juga seluruh potensi bencana yang dapat terjadi di Kaltara.
BPBD juga mendorong setiap rumah sakit untuk membentuk tim siaga bencana internal, lengkap dengan sarana dan prasarana pendukung.
Menurut Andi, latihan kebencanaan harus dilakukan secara rutin agar kesiapsiagaan terus terjaga.
“Latihan ini bukan hanya untuk petugas, tapi juga edukasi bagi tenaga kesehatan dan bahkan pasien. Agar tidak panik saat terjadi kondisi darurat,” ungkapnya.
Sementara itu, Koordinator Tim Fire and Rescue RSUD dr H Jusuf SK, Martinus Amir mengatakan, keterlibatan tim rumah sakit awalnya bersifat partisipatif.
Namun dalam pelaksanaan, tim K3 rumah sakit turut terlibat langsung dalam proses evakuasi korban.
“Tim BPBD menurunkan korban dari atas gedung, sementara kami dari rumah sakit menyambut dan membawa korban ke IGD untuk penanganan medis,” ujarnya.
Martinus menilai simulasi berjalan tanpa kendala berarti, namun menegaskan bahwa kekompakan tim menjadi kunci utama jika skenario tersebut terjadi dalam kondisi nyata.
Simulasi kebencanaan merupakan bagian dari standar akreditasi rumah sakit yang wajib dilaksanakan secara berkala, minimal dua kali dalam setahun. Guna memastikan seluruh unsur rumah sakit siap menghadapi kejadian luar biasa.
“Dengan latihan rutin, kepanikan bisa dikendalikan dan keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama,” pesan Martinus. (sas/uno)
Editor : Nurismi