Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Barang Ini Mendominasi Impor Kaltara: Mesin Elektrik, Tembakau, dan Aluminium Jadi Penyumbang Terbesar!

Beraupost • Kamis, 11 Desember 2025 | 07:15 WIB
ILUSTRASI: Pelabuhan Kayan I Tanjung Selor yang digunakan untuk aktivitas bongkar muat barang. (HRK)
ILUSTRASI: Pelabuhan Kayan I Tanjung Selor yang digunakan untuk aktivitas bongkar muat barang. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat nilai impor Provinsi Kalimantan Utara sepanjang Januari—Oktober 2025 mengalami penurunan cukup signifikan.

Total impor turun 4,19 persen dibanding periode yang sama tahun 2024, yakni dari USD 750,81 juta menjadi USD 718,62 juta.

Penurunan ini terjadi terutama pada kelompok nonmigas, meski komoditas ini masih menjadi penyumbang 99,38 persen dari keseluruhan impor Kaltara.

Nilai impor nonmigas tercatat mencapai USD 746,17 juta atau turun 4,69 persen secara tahunan.

“Tekanan impor tahun ini lebih disebabkan turunnya permintaan terhadap produk-produk hasil industri dan hasil tambang,” jelas Kepala BPS Kaltara Masud Rifai, Selasa (9/12) lalu.

Hasil industri yang selama ini mendominasi impor Kaltara kembali menempati posisi tertinggi dengan nilai USD 743,56 juta, meski turun 4,17 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu, impor hasil tambang anjlok hingga 62,46 persen menjadi hanya USD 2,61 juta.

Adapun hasil pertanian tercatat tidak melakukan transaksi impor selama sepuluh bulan pertama 2025.

Di sisi lain, impor migas justru menunjukkan kenaikan, meski porsinya hanya 0,62 persen dari total impor. Transaksi migas tercatat senilai USD 4,64 juta, seluruhnya berasal dari Tiongkok.

Meski secara kumulatif turun, impor Kaltara pada Oktober 2025 mengalami peningkatan bulanan cukup besar.

Nilai impor tercatat USD 51,54 juta, naik 27,20 persen dibanding Oktober 2024. Kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya impor hasil industri.

Dari sisi negara asal, Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Kaltara. Pada Januari—Oktober 2025, impor nonmigas dari Tiongkok mencapai USD 603,46 juta atau berkontribusi 80,87 persen terhadap total impor nonmigas.

Disusul Singapura dengan USD 71,78 juta (9,62 persen) dan Vietnam USD 4,63 juta (5,98 persen).

“Total impor dari tiga negara tersebut mencapai 96,47 persen dari seluruh impor nonmigas Kaltara tahun 2025,” sebutnya.

Jika dilihat berdasarkan golongan barang HS 2 digit, kelompok mesin/perlengkapan elektrik (HS 85) menjadi barang dengan nilai impor terbesar, yaitu USD 206,49 juta.

Disusul tembakau dan produk turunannya (HS 24) USD 120,93 juta, serta aluminium dan barang turunannya (HS 76) USD 60,12 juta.

Meski beberapa golongan barang mengalami penurunan, kebutuhan bahan baku industri masih menjadi penopang utama aktivitas impor di Kaltara.

Fluktuasi ini menggambarkan dinamika industri dan perdagangan di Kawasan. Terutama yang bertumpu pada sektor pengolahan.

Ia mencatat bahwa pola impor Kaltara dalam tiga tahun terakhir menunjukkan volatilitas yang tinggi.

Sebagaimana terlihat pada pergerakan nilai impor bulanan 2023—2025. Meski ada penguatan pada Oktober 2025, penurunan kumulatif tetap harus menjadi perhatian.

“Penting bagi pelaku usaha dan pemerintah untuk mencermati pergerakan global. Terutama terkait pasokan bahan baku dan permintaan industri,” tutupnya. (fai/uno)

Editor : Nurismi
#BPS Kaltara #penurunan #impor