HARIAN RAKYAT KALTARA — Penemuan sesosok mayat pria tanpa identitas di sebuah pondok kebun di kawasan Gang Latimojong 2, RT 15, Kelurahan Kampung Enam, Tarakan Timur, masih menyisakan banyak pertanyaan di masyarakat.
Selain karena lokasinya yang terpencil, kondisi tubuh korban yang telah membusuk membuat proses identifikasi berjalan lambat.
Peristiwa ini pertama kali diketahui seorang warga yang kebetulan melintas dan mencium aroma menyengat dari sekitar pondok, Minggu (7/12) pagi.
Setelah dilaporkan ke polisi, tim gabungan Satreskrim Polres Tarakan bersama Unit Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) dan Polsek Tarakan Timur segera menuju lokasi.
Setibanya di pondok berukuran sekitar 3 x 4 meter tersebut, polisi menemukan mayat pria memakai kaos hitam dan celana pendek biru dalam keadaan tergantung dengan tali nilon yang diikat pada bagian gelagar atap.
Kondisi tubuh telah menunjukkan tanda-tanda pembusukan dan terdapat belatung pada bagian wajah dan leher.
Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik melalui Kasat Reskrim Polres Tarakan AKP Ridho Pandu Abdillah mengatakan, dugaan sementara kematian disebabkan karena gantung diri.
Dugaan tersebut diperkuat dengan ditemukannya tali nilon dengan simpul hidup yang melingkar di bagian leher korban.
“Tak terdapat tanda kekerasan lain selain bekas jeratan tali. Hasil pemeriksaan luar dokter forensik menunjukkan luka berbentuk huruf V pada leher, khas jeratan tali gantung diri,” ujarnya, Senin (8/12).
Selain itu, lebam pada ujung jari tangan dan kaki, serta kondisi kulit bagian leher yang mengeras seperti perkamen juga menjadi indikasi kuat penyebab kematian korban.
Dari pemeriksaan luar, diperkirakan korban telah meninggal selama 7 hingga 8 hari sebelum ditemukan.
Beberapa barang ditemukan di sekitar pondok antara lain telepon genggam, alat minum, uang tunai, sepotong jaket dan sebilah parang.
Barang tersebut diduga milik korban, namun belum bisa mengungkap identitasnya. Polisi juga telah mengoperasikan alat Mobile Automatic Multi Biometric Identification System (MAMBIS) milik Inafis yang mampu menghubungkan sidik jari ke database e-KTP, namun hasilnya nihil.
“Kami tidak menemukan adanya laporan warga kehilangan anggota keluarga dengan ciri-ciri serupa. Kami menduga korban kemungkinan bukan berasal dari wilayah sekitar,” ucapnya.
Polres Tarakan mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan kerabat untuk melapor ke kantor polisi terdekat.
“Kami berharap ada pihak keluarga yang mengenali ciri korban, agar proses identifikasi bisa segera dilakukan,” pungkas Ridho. (sas/uno)
Editor : Nurismi