Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Overcrowding Lapas Tarakan Tiga Kali Lipat: Dihuni 1.300 WBP, Petugas Hanya 88 Orang

Beraupost • Rabu, 26 November 2025 | 10:40 WIB
KELEBIHAN KAPASITAS: Daya tampung 400 warga binaan kini mencapai 1.300 orang di Lapas Tarakan. (HRK)
KELEBIHAN KAPASITAS: Daya tampung 400 warga binaan kini mencapai 1.300 orang di Lapas Tarakan. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA  — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tarakan kembali menghadapi persoalan serius terkait kelebihan kapasitas atau overcrowding.

Dengan daya tampung hanya 400 orang, lapas kini dihuni lebih dari 1.300 warga binaan, termasuk titipan dari Kabupaten Malinau dan Bulungan.

Kondisi ini dinilai berdampak langsung terhadap keamanan, kesehatan dan pelayanan pembinaan.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik Lapas Kelas IIA Tarakan, Fitroh Qomarudin mengatakan, jumlah penghuni tiga kali lipat lebih banyak dibanding kapasitas ideal, sementara petugas hanya sekitar 86—88 orang.

“Sekarang warga binaan sudah sampai 1.300. Kapasitas kita hanya 400 dan petugas tidak bertambah,” ujarnya, Selasa (25/11).

Overcrowding membuat pengawasan dan pelayanan kesehatan menjadi tantangan.

Meski fasilitas kesehatan lapas telah meningkat menjadi klinik pratama dan dua dokter dari RSUD dijadwalkan memeriksa tiga hingga empat kali seminggu, kebutuhan medis tetap tinggi.

Untuk kondisi darurat, warga binaan diperbolehkan keluar lapas dengan rekomendasi dokter sebelum surat resmi menyusul.

“Kami memperketat pemeriksaan barang bawaan keluarga untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan. Obat dan suplemen yang dibawa keluarga juga diatur dosisnya oleh petugas medis,” tegasnya.

Dari sisi keamanan, Lapas Tarakan melakukan asesmen psikologis untuk penempatan warga binaan guna mencegah keributan.

Kelompok rentan seperti lansia, anak, perempuan dan penderita penyakit tertentu ditempatkan di blok terpisah. Razia rutin dilakukan untuk menyita benda berpotensi berbahaya.

“Senjata di dalam itu tidak harus pisau. Benda keras apa pun bisa menjadi senjata,” kata Fitroh.

Meski dibayangi overcrowding, Lapas Tarakan tetap menjalankan program pembinaan dan kemandirian, termasuk kegiatan pertanian, peternakan, dan produksi makanan seperti amplang dan keripik pisang. Warga binaan yang terlibat memperoleh upah premi.

“Proses remisi dan pembebasan bersyarat juga dibuat transparan, dengan sosialisasi kepada warga binaan sejak hari pertama masuk lapas. Petugas bahkan membantu warga binaan mengurus jika lupa mengajukan,” ucap Fitroh. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#overcrowding #lapas tarakan