Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kaltara Waspada Bencana Hidrometeorologi, Polda dan BPBD Fokus Tiga Jenis Ancaman Utama

Beraupost • Kamis, 6 November 2025 | 07:00 WIB
POTENSI BENCANA: Kapolda Kaltara Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy (kanan) memeriksa sarana dan prasarana penanggulangan bencana. (POLDA KALTARA)
POTENSI BENCANA: Kapolda Kaltara Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy (kanan) memeriksa sarana dan prasarana penanggulangan bencana. (POLDA KALTARA)

HARIAN RAKYAT KALTARA – Menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang meningkat seiring masuknya musim hujan, Kepolisian Daerah Kalimantan Utara (Polda Kaltara) menggelar apel gelar pasukan kesiapsiagaan, Rabu (5/11).

Kegiatan ini digelar secara serentak di seluruh Indonesia, mulai dari Mabes Polri hingga jajaran Polres.

Sebagai langkah awal dalam memastikan seluruh personel dan peralatan siap menghadapi ancaman bencana.

Kapolda Kaltara Irjen Pol Djati Wiyoto Abadhy dalam amanatnya menegaskan, apel ini bukan sekadar kegiatan seremonial.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kesiapsiagaan Polri, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana di wilayah Kalimantan Utara.

"Apel ini menunjukkan kesiapan kita semua Polri, TNI, BPBD, PMI, dan BMKG untuk bersinergi menghadapi berbagai potensi bencana. Kita ingin memastikan semua unsur siap bergerak cepat jika sewaktu-waktu bencana terjadi," ujarnya.

Kaltara termasuk daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.

Beberapa wilayah sudah mengalami hujan lebat, angin puting beliung, hingga gelombang tinggi yang berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

"Curah hujan di Kaltara cukup tinggi, dan potensi angin kencang serta gelombang tinggi perlu terus diwaspadai. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi hal yang sangat penting," katanya.

Dalam apel tersebut, ditampilkan pula berbagai sarana dan prasarana penanggulangan bencana.

Seperti speedboat milik Ditpolairud Polda Kaltara, kendaraan taktis, serta tim medis dari Biddokkes Polda Kaltara yang siap diterjunkan ke lokasi terdampak.

"Kami juga menyiapkan dukungan trauma healing, karena dampak bencana bukan hanya kerugian material. Tapi juga bisa memengaruhi kondisi psikologis korban, terutama anak-anak," jelasnya.

Ia menambahkan, kesiapsiagaan bencana harus dilaksanakan secara menyeluruh, meliputi tiga tahapan utama: pra-bencana, saat bencana, dan pasca-bencana. Sebelum bencana, dilakukan edukasi dan penyuluhan.

"Saat bencana, kita bergerak cepat untuk mitigasi dan penyelamatan. Setelah bencana, kita bantu masyarakat melalui pemulihan sosial dan psikologis," ungkapnya.

Ia menegaskan sinergi antarinstansi menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana.

"Kita tidak berharap bencana datang, tetapi jika itu terjadi, seluruh personel sudah siap turun memberikan pertolongan secepat mungkin kepada masyarakat," tegasnya.

Gelar pasukan juga terlaksana di Polres Tarakan bersama BPBD dan instansi lainnya. Berdasarkan pemetaan risiko, tiga jenis bencana mencakup banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem menjadi fokus utama penanganan di Tarakan.

Menuntut adanya kolaborasi pentahilik dari seluruh stakeholder untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah.

Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik menegaskan pentingnya sinergi seluruh unsur dalam penanganan kebencanaan. Mulai dari tahap pencegahan hingga penanganan pascabencana.

"Hari ini kami melaksanakan apel kesiapsiagaan dalam rangka tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Tujuannya untuk mengecek kesiapan personel, baik dari sisi sumber daya manusia, jumlah kekuatan, serta sarana dan prasarana pendukung," ujar Kapolres.

Kapolres menambahkan, kegiatan ini akan ditindaklanjuti dengan simulasi penanganan bencana serta rapat koordinasi teknis bersama instansi terkait. Sesuai amanah Kapolri, agar pola penanganan di lapangan bisa lebih efektif dan terarah.

Kepala BPBD Kota Tarakan, Yonsep yang turut hadir dalam apel tersebut, menjelaskan, dari delapan potensi bencana di Tarakan, saat ini fokus terhadap tiga jenis bencana yang paling sering terjadi yakni banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem.

"Kalau dari potensinya ada delapan, tetapi yang menjadi atensi kita adalah banjir dan cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem ini juga bisa memicu longsor, jadi tiga itu yang kita fokuskan," terang Yonsep.

Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor atau yang disebut kolaborasi pentahilik yang melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, Basarnas, dunia usaha, dan masyarakat sebagai kunci dalam memperkuat penanganan bencana di tingkat kota.

"Penanganan kebencanaan tidak bisa dilakukan satu instansi saja. Sesuai undang-undang, BPBD memang menjadi koordinator, tetapi seluruh stakeholder berfungsi sesuai dengan tugasnya masing-masing," ujarnya.

Yonsep menilai Kota Tarakan dalam kondisi cukup siap menghadapi potensi bencana berkat dukungan dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah hingga sektor swasta.

Sistem penanganan kebencanaan di Tarakan pun telah tersusun dengan baik, mulai dari tahap operasi hingga penanganan pascabencana.

"Bila pun ada kekurangan, bisa ditopang dari sektor lain. Misalnya dari unsur TNI Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Darat, hingga Polri semuanya sudah memiliki kemampuan dasar penyelamatan dan penanganan bencana," harapnya. (fai/sas/uno)

Editor : Nurismi
#siaga bencana #Hidrometeorologi #polda kaltara