Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Siklon Tomoe Penyebab Cuaca Kering di Kaltara: BMKG Imbau Waspada Karhutla

Beraupost • Rabu, 30 Juli 2025 | 07:45 WIB
Ilustrasi cuaca panas. (Freepik)
Ilustrasi cuaca panas. (Freepik)

HARIAN RAKYAT KALTARA – Kota Tarakan dan sekitarnya beberapa hari terakhir dilanda cuaca panas.

Kepala BMKG Kota Tarakan Muhammad Sulam Khilmi menjelaskan, kondisi ini bukan merupakan kemarau ekstrem, melainkan dampak dari beberapa faktor atmosfer dan pengaruh Siklon Tomoe yang telah berlalu.

"Suhu tertinggi di Tarakan mencapai 34 derajat Celcius, yang masih dianggap normal dan tidak ekstrem. Secara normal kita masih di 32-34 derajat Celcius," ujarnya, Senin (28/7).

Minimnya intensitas hujan dalam seminggu terakhir disebabkan oleh Siklon Tomoe di Filipina yang menarik massa udara dari Kalimantan Utara (Kaltara) ke utara.

Hal ini mengakibatkan angin kencang dan berkurangnya pertumbuhan awan.

Terkait kondisi gelombang laut, Khilmi menjelaskan, pada awal minggu lalu gelombang cukup tinggi.

Namun di akhir minggu sudah kembali normal di kisaran 0,5 hingga 0,7 meter. Untuk tiga hari ke depan, cuaca Kaltara masih berpotensi hujan sedang hingga lebat, khususnya di Malinau, Bulungan, dan Nunukan.

Namun, durasi hujan tidak akan sepanjang bulan-bulan sebelumnya. Sehingga tidak meningkatkan intensitas hujan secara signifikan. "Dominan di malam dan dini hari," imbuhnya.

Gelombang laut di beberapa wilayah perairan Kaltara juga diperkirakan masih dalam kategori rendah, antara 0,5 hingga 0,7 meter.

Meskipun beberapa area yang lebih tengah bisa mencapai 1 meter hingga 30 Juli. Setelah tanggal 1 dan 2 Agustus, gelombang cenderung relatif lebih rendah lagi.

Meskipun beberapa wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau, Kaltara tidak demikian. Sulam menegaskan musim kemarau di Kaltara hanya terjadi di tiga lokasi.

Yakni Pulau Nunukan, Pulau Sebatik, dan sebagian kecil wilayah Tanjung Palas Timur. Saat ini, hanya sebagian kecil wilayah Tanjung Palas Timur yang sedang mengalami masa kemarau.

"Cuaca kering yang melanda Tarakan beberapa hari terakhir murni diakibatkan oleh pengaruh Siklon Tomoe yang menarik monsun Australia yang kering dan tidak mengandung uap air. Tidak adanya belokan atau perlambatan angin di wilayah utara saat ini juga berkontribusi pada minimnya pertumbuhan awan hujan," jelasnya.

BMKG juga mengidentifikasi dua titik panas (hotspot) kategori menengah di Nunukan dan Bulungan. Meskipun tidak sebanyak di Kalimantan Barat atau Sumatera, Sulam mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

"Ketika tidak hujan 3 atau 4 hari saja, permukaannya itu mudah terbakar. Masyarakat, terutama yang melakukan aktivitas pembakaran, kami imbau untuk lebih berhati-hati karena kondisi tanah sangat mudah terbakar saat ini. Siklon Tomoe sendiri sudah tidak aktif, namun dampaknya masih terasa," pesannya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#cuaca panas #bmkg tarakan #Tarakan