BERAU POST - Fenomena lari Marathon dan tren joki STRAVA kini menjadi hal yang lumrah di media sosial.
Berlari kini tidak hanya sekedar olahraga biasa, tetapi juga telah menjadi bagian dari lifestyle modern.
Terutama Gen Z yang kerap diketahui membagikan momen sedang mengikuti event lari marathon. Bahkan sebagian Gen Z rela terbang ke luar kota demi mengikuti event lari marathon.
Di balik tren viral ini, tren lari marathon juga membawa dampak positif. Selain meningkatkan kesadaran pada kesehatan, lari juga dapat membantu mental health, memperluas relasi, sampai mendorong seseorang untuk lebih aktif daripada menatap gadget.
Meski demikian, banyak muncul pertanyaan maraknya tren lari di kalangan Gen Z ini. Apa yang sebenarnya memotivasi begitu banyak Gen Z yang mengikuti tren lari ini.
Lantas apakah fenomena lari ini membawa dampak positif? atau justru menekan Gen Z untuk selalu mengikuti tren?.
Berikut beberapa alasan mengapa Gen Z hobi lari dan bagaimana sebaiknya menyikapi fenomena ini, yang sudah kami rangkum dari laman keslan.kemkes.go.id dan mpoin.co.
FOMO
Lari marathon kerap menjadi konten di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Strava. Mulai dari konten persiapan sebelum lari, pengalaman mengikuti lari marathon, jenis sepatu lari, sampai inspirasi outfit berlari.
Konten lari marathon yang dibagikan influencer secara konsisten seperti ini kemudian membuat banyak orang menginginkan untuk ikut merasakan pengalaman yang sama.
Olahraga yang murah
Dibandingkan dengan olahraga lain, lari marathon cenderung menghabiskan biaya yang murah. Peralatannya juga tidak mahal, hanya cukup sepatu dan pakaian olahraga.
Kemudahan pelaksanaan olahraga yang satu inilah yang menjadi alasan lari marathon lebih mudah diikuti oleh banyak orang.
Keinginan menguji diri
Banyak orang berlari marathon untuk menguji ketahanan diri. Berawal dari jarak 10.000 km, lalu bertahap menjadi 21.000 km, sampai akhirnya berhasil menyelesaikan full marathon di 42.195 km.
Saat anda berhasil menyelesaikan full marathon dapat memberikan rasa puas dan bangga. Terutama jika berhasil mendapatkan medali, membuktikan bahwa kelelahan tubuh akhirnya bisa terbayarkan.
Pengaruh komunitas
Komunitas lari terbentuk dari hobi running yang sama dari banyak orang. Saat ini menjamur komunitas di berbagai kota-kota.
Banyak kemudian anak muda yang bergabung bukan hanya untuk berolahraga, namun juga mencari koneksi, dan pengalaman baru.
Lifestyle kekinian
Event marathon yang diadakan oleh berbagai perusahaan, instansi, dan brand berperan tidak hanya menawarkan sebuah aktivitas olahraga bersama.
Banyak juga yang menawarkan hadiah medali unik, merchandise eksklusif, konser musik, jersey, dan spot foto yang estetik. Event inilah yang turut serta membangun lifestyle kekinian di era modern saat ini.
Personal Branding
Gen Z menjadikan event lari sebagai ajang untuk membangun citra positif, sebagai pribadi yang sehat, produktif, aktif, dan disiplin.
Personal branding atau citra diri seperti inilah bisa menjadi bekal dan lebih dihargai dalam kehidupan di dunia medsos saat ini.
Cara Mengatasi agar Tidak FOMO Lari
FOMO berlari juga bisa membawa dampak positif. Di sisi lain, fenomena ini dapat mendorong Gen Z untuk lebih aktif bergerak dan melakukan aktifitas fisik di luar ruangan.
Berlari juga menawarkan berbagai manfaat bagi tubuh, meningkatkan kesehatan mental, sampai memperluas koneksi antar sesama pelari dan komunitas.
Namun, FOMO lari marathon ini juga bisa membawa dampak negatif, jika tidak disikapi dengan bijak.
Gen Z cenderung memaksakan diri untuk berlari. Biasanya hal tersebut hanya demi konten media sosial, mengejar target STRAVA, dan mengikuti marathon lari tanpa persiapan yang matang.
Bukannya mendapatkan manfaat, Gen Z justru hanya akan merugikan diri sendiri. Seperti mendapati tubuh dalam kondisi kelelahan, cedera, dan stress mental.
Oleh karena itu, penting untuk menjadikan lari sebagai aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan. Cara yang bisa Anda lakukan antara lain:
1. Melatih diri untuk lebih mindfulness
Berlari dengan mindfulness bisa menjadi cara Anda, supaya tidak terbebani dengan target-target dan ekspektasi sosial di luar sana.
Jadikan berlari marathon sebagai ajang untuk memberikan manfaat bagi kesehatan dan bukan hanya sekedar pencitraan atau demi pujian di media sosial.
2. Gunakan metode screentime
Membatasi waktu penggunaan gadget bisa mencegah Anda menjadi FOMO. bijaklah memilih konten supaya dapat membatasi diri dari tekanan yang tidak perlu.
Terjebak terlalu lama di dalam media sosial dapat membuat Anda mudah terpengaruh dan lakhirnya menjadi FOMO.
3. Bangun sisi positif dari komunitas
Lari marathon tanpa harus mengunggah ke media sosial atau mengejar validasi dari upload STRAVA dapat membantu mengurangi FOMO.
Selain membuat Anda lebih menghargai setiap momen, kebiasaan ini dapat melatih kemampuan mindfulness agar aktivitas yang dilakukan atas kesadaran, bukan semata-mata demi konten.
Editor : Nurismi