Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Sering Cemas Jauh dari HP? Kenali Tanda Digital Burnout dan 7 Cara Ampuh Mengatasinya

Nurismi • Senin, 25 Mei 2026 | 10:40 WIB
Ilustrasi membaca buku. (Freepik)
Ilustrasi membaca buku. (Freepik)

BERAU POST - Pernahkah Anda merasa cemas hanya karena ponsel tertinggal di meja makan? Atau merasa lelah luar biasa padahal hanya duduk menatap layar seharian? 

Ponsel pintar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas setiap hari. Tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga menunjang pekerjaan dan komunikasi yang berlangsung tanpa henti. 

Di balik kemudahan tersebut, muncul kelelahan yang kerap tidak disadari fokus mudah terpecah, pikiran terasa penuh.

Kondisi ini sejalan dengan tingginya koneksi internet di Indonesia. DataReportal 2026 mencatat, sebanyak 80,5 persen masyarakat telah terhubung ke internet. 

Sementara itu, data RescueTime menunjukkan pekerja rata-rata memeriksa email atau pesan instan setiap tiga menit. Situasi ini membuat ruang untuk bekerja secara mendalam semakin terbatas.

Paparan digital yang terus-menerus pun berpotensi memicu digital burnout. Alodokter menyebut, gejalanya meliputi stres setelah melihat konten, kesulitan berkonsentrasi, hingga gangguan tidur akibat penggunaan layar yang berlebihan.
 
Kabar baiknya, pemulihan mental tidak harus dilakukan dengan cara ekstrem, berikut adalah tujuh cara untuk melakukan detoks digital secara bertahap tanpa mengganggu ritme kerja: 

1. Terapkan Jadwal Cek Gadget

Alih-alih merespons setiap denting notifikasi, cobalah menetapkan "jendela waktu". Misalnya, hanya buka email dan WhatsApp saat memulai kerja, setelah makan siang, dan sebelum closing. 

Cara ini menjaga alur kerja (flow) tetap terjaga tanpa interupsi yang merusak deep work. Dengan pola ini, alur kerja menjadi lebih terstruktur.

Seseorang dapat menyelesaikan satu tugas tanpa gangguan berulang yang menghambat konsentrasi.

2. Menonaktifkan Notifikasi yang Tidak Mendesak

Tidak semua notifikasi memerlukan respons segera. Notifikasi dari media sosial atau aplikasi non-esensial dapat dinonaktifkan sementara. 

Langkah sederhana ini membantu mengurangi distraksi yang muncul secara tiba-tiba, sehingga perhatian tetap terjaga pada pekerjaan utama.

3. Memisahkan Ruang Kerja dan Akses Hiburan

Bukan hanya soal bunyi notifikasi, jika memungkinkan gunakan perangkat yang berbeda untuk keperluan kerja dan aktivitas pribadi. 

Sebagai alternatif, buat batasan digital, seperti keluar dari akun media sosial saat jam kerja atau memanfaatkan fitur mode fokus. Cara ini membantu menciptakan batas yang lebih jelas antara pekerjaan dan distraksi.

4. Membuat Rutinitas Bebas Layar dalam Skala Kecil

Langkah berikutnya adalah mengurangi paparan layar pada waktu-waktu tertentu, misalnya 30 menit setelah bangun tidur atau satu jam sebelum tidur. 

Menurut Alodokter, penggunaan media sosial berlebihan dapat memengaruhi kualitas tidur. Dengan mengurangi paparan tersebut, tubuh memiliki kesempatan untuk beristirahat dengan lebih optimal.

5. Mengganti Kebiasaan Mengakses Media Sosial dengan Aktivitas Lain

Ketika dorongan untuk membuka media sosial muncul, alihkan ke aktivitas lain yang lebih sederhana. Misalnya berjalan sejenak, membaca, atau melakukan peregangan ringan. 

Pendekatan ini membantu mengubah pola kebiasaan tanpa harus menghilangkan akses secara drastis.

6. Mengenali Tanda Kelelahan Digital

Perhatikan beberapa indikator, seperti keinginan terus-menerus memeriksa ponsel, kesulitan berkonsentrasi, atau rasa cemas saat tidak terhubung.
 
Kesadaran terhadap tanda-tanda ini menjadi langkah penting untuk menentukan kapan perlu melakukan penyesuaian dalam penggunaan digital.

7. Menjadwalkan Waktu Khusus untuk Mengakses Media Sosial

Detoks digital tidak berarti menghindari media sosial sepenuhnya. Tetapkan waktu khusus untuk mengaksesnya secara sadar, misalnya setelah pekerjaan selesai.

 

Editor : Nurismi
#mudah lelah #sulit fokus #detoks digital