Tren tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor harga, tetapi juga berkaitan dengan gaya hidup, keberlanjutan lingkungan, hingga kejenuhan terhadap teknologi modern.
Berikut 5 alasan mengapa banyak Gen Z kembali beralih ke headphone berkabel, seperti dilansir dari laman T2 Online.
1. Headphone Berkabel Dianggap Lebih Awet dan Ramah Lingkungan
Banyak Gen Z mulai menyadari bahwa headphone nirkabel memiliki masa pakai terbatas karena bergantung pada baterai lithium-ion.
Ketika baterai rusak atau menurun performanya, perangkat sering kali sulit diperbaiki dan berakhir menjadi limbah elektronik.
Sebaliknya, headphone berkabel dinilai lebih tahan lama karena tidak menggunakan baterai internal.
Faktor keberlanjutan lingkungan ini membuat sebagian anak muda lebih memilih perangkat yang dapat dipakai dalam jangka panjang.
2. Harga Lebih Terjangkau dan Minim Biaya Tambahan
Headphone berkabel umumnya dijual dengan harga lebih murah dibandingkan perangkat audio nirkabel premium.
Selain itu, pengguna tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk penggantian baterai atau aksesori pengisian daya.
Dalam situasi ekonomi yang menuntut penghematan, banyak Gen Z lebih mempertimbangkan fungsi dibanding fitur mewah. Kondisi tersebut menjadikan headphone berkabel sebagai pilihan yang lebih realistis dan ekonomis.
3. Faktor Estetika Retro Semakin Digemari Generasi Z
Kembalinya tren mode awal 2000-an atau Y2K turut mendorong popularitas headphone berkabel. Perangkat tersebut dianggap memiliki nuansa nostalgia yang selaras dengan kebangkitan gaya lama, seperti kamera sekali pakai dan busana klasik.
Sejumlah figur publik dan kreator konten juga mulai terlihat menggunakan earphone berkabel dalam keseharian mereka.
Kehadiran tren ini membuat headphone berkabel tidak hanya dianggap alat audio, tetapi juga bagian dari gaya hidup.
4. Kesederhanaan Dianggap Lebih Praktis Dibanding Teknologi Berlebihan
Sebagian Gen Z mulai merasa lelah dengan banyaknya perangkat yang harus terus diperbarui dan diisi ulang dayanya.
Headphone berkabel dipilih karena dapat langsung digunakan tanpa perlu mengisi baterai atau memperbarui perangkat lunak.
Banyak pengguna menilai kesederhanaan menjadi keunggulan utama dibanding fitur tambahan yang jarang dipakai. Bagi mereka, fungsi dasar mendengarkan musik tanpa gangguan sudah dianggap cukup.
5. Nostalgia dan Kelelahan Digital Memengaruhi Pilihan Teknologi
Para peneliti menyebut nostalgia cenderung meningkat saat masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi dan tekanan sosial.
Bagi sebagian Gen Z yang tumbuh di tengah pandemi dan intensitas teknologi tinggi, perangkat lama memberikan rasa nyaman tersendiri.
Headphone berkabel dianggap menghadirkan pengalaman yang lebih sederhana dan tidak membebani perhatian pengguna.
Fenomena ini juga dinilai menjadi bentuk penolakan halus terhadap budaya teknologi yang terus mendorong pembelian perangkat baru.