BERAU POST - Setiap orang pasti pernah menunda sebuah pekerjaan setidaknya sekali seumur hidup. Banyak orang menganggap rasa malas itu murni sebagai bentuk kemalasan semata.
Banyak pakar kesehatan jiwa menyebut menyembuhkan rasa malas ekstrem saat harus menghadapi realita harian butuh trik. Selama ini sebagian orang terjebak dengan pendekatan keliru, yaitu cara terus menghindar.
Padahal itu justru rentan memicu gangguan kesehatan. Stres berlebih juga akan perlahan muncul jika kebiasaan buruk ini terus dibiarkan.
Berbagai literatur psikologi menyatakan bahwa menyembuhkan rasa malas ekstrem saat harus menghadapi realita harian sangatlah dibutuhkan.
Tugas yang dianggap terlalu membosankan memang cenderung lebih sering dihindari otak. Oleh karena itu, kita harus mencari tahu akar penyebab penundaan tersebut secepatnya.
Berikut adalah lima terapi mandiri yang dilansir dari laman Psychology Today, untuk membantu pemulihan produktivitas harian. Terapi sederhana itu bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu merasa ribet.
“Dalam psikologi meyakini bahwa orang yang menunda-nunda pekerjaan memiliki persepsi waktu yang salah—bahwa mereka berpikir akan memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan sesuatu daripada yang sebenarnya mereka miliki.” (Psychology Today).
1.Ubah Pola Pikir yang Negatif
Terapi pertama adalah menghilangkan kecenderungan berpikir terlalu negatif secara berlebihan. Banyak orang menganggap suatu kewajiban harian sebagai bencana besar yang sangat menyakitkan.
Pikiran bahwa pekerjaan tersebut sangat berat justru menjadi penghambat utama kesuksesan.
Faktanya, sebuah tantangan atau kebosanan sama sekali tidak akan membuat tubuh sakit. Menghindari pekerjaan itulah yang sebenarnya justru memicu stres di kemudian hari.
Mulailah meyakinkan diri sendiri dengan kalimat positif setiap pagi hari agar rintangan terlewati.
2. Fokus pada Alasan dan Tujuan
Para penunda biasanya hanya fokus pada keuntungan jangka pendek semata tanpa pikir panjang. Mereka sekadar ingin menghindari sebuah kesulitan yang ada tepat di depan mata.
Konsekuensi panjang dari kebiasaan menghindari tugas ini justru sering dilupakan begitu saja.
Kita perlu mengalihkan fokus pada alasan utama mengapa tugas tersebut memang ada. Pikirkan saja mengapa pekerjaan itu memang harus segera diselesaikan secepatnya hari ini.
Bayangkan manfaat nyata yang akan didapat setelah semua tanggung jawab tersebut tuntas.
3. Pecah Tugas Menjadi Lebih Kecil
Rasa kewalahan sering kali menjadi alasan utama seseorang memilih menunda pekerjaannya. Proyek yang terlihat terlalu besar otomatis membuat mental terasa terbebani hebat. Perasaan berat ini biasanya sudah muncul sejak awal pekerjaan tersebut belum dimulai.
Solusi paling logis adalah membagi pekerjaan berat tersebut menjadi beberapa bagian. Pecahan tugas yang lebih kecil tentu saja akan lebih mudah dikelola pikiran.
Susunlah kerangka kerja secara bertahap agar langkah penyelesaiannya semakin jelas dan terarah.
4. Jauhkan Segala Godaan di Sekitar
Lingkungan kerja punya peran besar dalam menentukan tingkat produktivitas harian. Berbagai gangguan teknologi di sekitar bisa dengan mudah merusak fokus pikiran. Konsentrasi yang sudah susah payah terbangun bisa hancur berantakan dalam hitungan detik.
Notifikasi media sosial dan pesan instan adalah musuh utama para pekerja. Fitur yang awalnya berniat membantu ini justru kerap mengalihkan perhatian tajam. Selama waktu kerja, biasakan mengatur ponsel ke mode hening agar pekerjaan cepat rampung.
5. Berhenti Mengejar Kesempurnaan
Sifat perfeksionis ternyata sering kali menjadi bumerang bagi produktivitas seseorang. Prinsip serba sempurna membuat orang cenderung menunggu waktu yang paling tepat. Terkadang mereka hanya mau memulai jika semua kondisi sudah terasa sangat mendukung.
Menunggu kondisi yang tanpa cela hanya akan berujung pada penundaan panjang. Mentalitas serba sempurna atau tidak sama sekali ini harus segera dihilangkan selamanya. Menyelesaikan sebuah pekerjaan jauh lebih berharga daripada menuntut hasil sempurna namun fiktif. (jpg/smi)
Editor : Nurismi