BERAU POST - Perjalanan mudik lebaran sering kali identik dengan jarak tempuh yang panjang, waktu istirahat yang berkurang, serta perubahan pola aktivitas.
Kondisi ini mungkin tidak terlalu bermasalah bagi sebagian orang. Namun bagi penderita gangguan irama jantung atau aritmia, perjalanan jauh perlu dipersiapkan dengan lebih matang agar tetap aman dan nyaman.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia Heartology Cardiovascular Hospital, Dr. dr. Dicky Armein Hanafy, Sp.JP(K) mengatakan bahwa pasien aritmia pada dasarnya masih bisa melakukan perjalanan, termasuk mudik jarak jauh, selama kondisi jantungnya stabil dan pengobatan berjalan dengan baik.
“Sebagian besar pasien aritmia tetap dapat melakukan perjalanan dengan aman. Namun faktor seperti kelelahan, dehidrasi, stres perjalanan, atau terlambat minum obat dapat memicu keluhan seperti jantung berdebar atau pusing,” ujar dr. Dicky, Senin (16/3).
Sejumlah penelitian dan panduan klinis internasional juga menunjukkan bahwa perjalanan jauh, termasuk penerbangan, umumnya aman bagi pasien aritmia yang kondisi klinisnya stabil.
Meski begitu, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum dan selama perjalanan.
Tips Aman Mudik bagi Pasien dengan Gangguan Irama Jantung
1. Pastikan kondisi jantung stabil sebelum berangkat
Sebelum melakukan perjalanan jauh, pasien aritmia sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
Pemeriksaan ini bertujuan memastikan kondisi jantung berada dalam keadaan stabil sekaligus mengevaluasi apakah terapi dan obat yang dikonsumsi sudah sesuai.
Dengan evaluasi medis sebelum mudik, pasien juga bisa mendapatkan saran tambahan terkait aktivitas yang aman selama perjalanan.
2. Jangan melewatkan obat
Pasien aritmia dianjurkan membawa obat yang cukup selama perjalanan, bahkan menyiapkan cadangan jika terjadi keterlambatan perjalanan.
Kepatuhan minum obat menjadi faktor penting untuk menjaga irama jantung tetap stabil.
Mengonsumsi obat sesuai jadwal juga membantu mencegah munculnya keluhan seperti jantung berdebar atau pusing selama perjalanan.
3. Hindari kelelahan dan kurang tidur
Perjalanan mudik sering membuat seseorang kurang istirahat, terutama jika harus menempuh jarak jauh dalam waktu lama.
Padahal, kurang tidur dan kelelahan fisik dapat memicu kambuhnya aritmia pada sebagian pasien.
Karena itu, penting untuk mengatur waktu istirahat yang cukup sebelum dan selama perjalanan.
4. Jaga hidrasi dan pola makan
Dehidrasi dapat memperburuk kondisi jantung dan memicu keluhan pada penderita aritmia.
Oleh sebab itu, penting untuk memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan cukup minum air putih.
Pasien juga dianjurkan membatasi minuman berkafein atau minuman berenergi karena dapat memicu jantung berdebar lebih cepat.
5. Lakukan istirahat secara berkala
Bagi pemudik yang menggunakan kendaraan darat, disarankan berhenti sejenak setiap beberapa jam.
Istirahat singkat dapat membantu tubuh kembali segar setelah duduk dalam waktu lama.
Selain itu, peregangan ringan atau berjalan sebentar juga bermanfaat untuk menjaga sirkulasi darah tetap lancar selama perjalanan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Gejala Aritmia Muncul di Perjalanan?
Dalam beberapa kondisi, penderita aritmia dapat mengalami gejala seperti jantung berdebar cepat, pusing, atau sesak napas saat sedang bepergian.
Jika keluhan tersebut muncul, dr. Dicky menyarankan beberapa langkah awal yang dapat dilakukan, antara lain menghentikan aktivitas dan duduk atau berbaring dengan tenang.
Pasien juga dapat menarik napas dalam secara perlahan untuk membantu menenangkan denyut jantung.
Pada jenis aritmia tertentu, manuver sederhana seperti mengejan ringan atau batuk juga dapat membantu menormalkan kembali irama jantung.
Minum air putih juga dianjurkan untuk mencegah dehidrasi yang bisa memperburuk gejala.
Namun jika keluhan tidak membaik, semakin berat, atau disertai nyeri dada, sesak napas berat, hingga pingsan, pasien perlu segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Menurut dr. Dicky, kunci utama agar pasien aritmia tetap aman selama mudik adalah persiapan yang baik sebelum perjalanan serta disiplin dalam menjalani pengobatan.
“Dengan kondisi jantung yang stabil, pengobatan yang terkontrol, serta perencanaan perjalanan yang baik, pasien aritmia tetap dapat bepergian dengan aman dan menikmati perjalanan bersama keluarga,” pungkasnya. (jpg/smi)
Editor : Nurismi