BERAU POST - Tidur adalah kebutuhan biologis yang sangat penting bagi tubuh untuk memulihkan energi, memperbaiki sel-sel tubuh, dan menjaga fungsi otak tetap optimal.
Saat tidur tubuh tidak benar-benar berhenti bekerja, tetapi justru menjalankan banyak proses penting dalam tubuh.
Tidur yang cukup membantu menjaga keseimbangan fisik, emosional, dan mental seseorang.
Kekurangan jam tidur akan berdampak negatif pada kesehatan, seperti kelelahan, sulit berkonsentrasi, penurunan daya ingat dan emosi yang tidak stabil.
Namun, pernahkah kamu merasa tidak bisa bergerak atau berbicara saat bangun tidur atau ketika akan tidur?
Fenomena tersebut sering juga disebut dengan istilah ketindihan, untuk mengetahui penyebabnya mari simak penjelasan berikut.
Apa Itu Ketindihan
Dikutip dari Alodokter, ketindihan atau yang sering dikenal sebagai sleep paralysis merupakan gangguan tidur.
Ketika seseorang tiba-tiba tidak mampu menggerakkan tubuh atau berbicara saat bangun tidur atau ketika akan tidur.
Kondisi ini biasanya berlangsung singkat, mulai dari beberapa detik hingga beberapa menit.
Ketindihan juga sering disertai halusinasi yang terasa sangat nyata, orang yang mengalaminya mungkin merasa, melihat, mendengar atau bahkan merasakan sentuhan dari sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar ada.
Penyebab Ketindihan
Secara garis besar, proses tidur terdiri dari dua fase utama yaitu Non-rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM).
Fase NREM merupakan tahap awal tidur yang kemudian masuk ke tidur lelap. Pada fase ini, tubuh mulai rileks, detak jantung melambat, sel-sel tubuh memperbaiki jaringan, sementara aktivitas otak menurun dan tidak memunculkan mimpi.
Sedangkan, fase REM terjadi setelah tahap NREM dan merupakan periode saat mimpi terjadi.
Pada fase ini, sistem saraf simpatis menahan aktivitas otot agar tidak bergerak sehingga tubuh berada dalam kondisi lumpuh sementara.
Ketindihan terjadi ketika seseorang terbangun di tengah fase ini. Ketika keadaan tersebut otak sudah kembali sadar, tetapi otot-otot tubuh masih berada dalam kondisi tidak bisa digerakkan.
Selain itu ada beberapa faktor lain yang dapat memicu kondisi ini, seperti kurang tidur, pola tidur tidak teratur, stres dan penggunaan obat tertentu.
Gejala saat Mengalami Ketindihan
Dikutip dari Halodoc, orang yang mengalami ketindihan umumnya tidak dapat menggerakkan tubuhnya dan hanya terbaring kaku di tempat tidur.
Selain itu, saat mengalami ketindihan biasanya seseorang akan merasakan halusinasi yang cukup realistis.
Halusinasi tersebut mulai dari hal visual seperti melihat sosok bayangan yang menyeramkan.
Kemudian, halusinasi auditori seperti mendengar bisikan aneh dan langkah kecil yang bergerak mendekat.
Terakhir ada halusinasi taktil, yaitu seseorang akan merasa seperti tertindih, ditekan bahkan sampai merasa dicekik.
Perasaan takut dan cemas yang kuat sering menyertai fenomena ketindihan. Kondisi ini kerap terjadi bersamaan dengan rasa panik dan diliputi kecemasan.
Akibat dari rasa takut dan kecemasan itu, seseorang akan kesulitan untuk mengatur napas.
Upaya Mengatasi Kondisi Ketindihan
Penanganan kondisi ketindihan umumnya bergantung pada penyebab dan frekuensi kejadiannya.
Bila kondisi ini terkait dengan gangguan tidur seperti narkolepsi, dokter biasanya meresepkan obat antidepresan jenis SSRI atau SNRI untuk membantu mengatur siklus tidur.
Namun, jika ketindihan muncul secara mandiri tanpa gangguan tidur lain, dokter umumnya akan menyarankan perubahan gaya hidup dan perbaikan pola tidur.
Perbaikan pola tidur yang disarankan meliputi kebiasaan tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari meskipun di akhir pekan.
Selain itu, ciptakan suasana rileks sebelum tidur dengan melakukan rutinitas yang menenangkan seperti membaca buku atau mendengarkan musik.
Pastikan juga kondisi kamar tidur mendukung kualitas istirahat, misalnya dengan menjaga pencahayaan tetap redup dan meminimalkan kebisingan. (jpg/smi)
Editor : Nurismi