Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Wajib Tahu! Ini Diabetes Tipe 5: Beda dari Tipe 1 dan 2, Bukan Autoimun/Resistensi Tapi Gizi Buruk

Beraupost • Jumat, 17 Oktober 2025 | 15:10 WIB
Ilustrasi cek guladarah. (Freepik)
Ilustrasi cek guladarah. (Freepik)

BERAU POST - Selama ini, dunia media hanya mengklasifikasikan 3 jenis utama diabeter yaitu tipe 1, tipe 2, dan gestasional. 

Namun, penelitian terbaru mengungkap adanya bentuk lain yang sebelumnya terlupakan, yaitu diabetes tipe 5. 

Penyakit ini tidak muncul karena gaya hidup tidak sehat atau faktor keturunan, melainkan karena kekurangan gizi pada masa kanak-kanak.

Penemuan ini menggugah perhatian dunia medis karena diperkirakan 20 hingga 25 juta orang di seluruh dunia hidup dengan kondisi ini tanpa mengetahuinya.  

Banyak di antara mereka berasal dari wilayah Asia dan Afrika, tempat kekurangan gizi masih menjadi masalah serius.

Kini, setelah lebih dari 7 dekade sejak pertama kali diamati, diabetes tipe 5 akhirnya diakui secara resmi oleh para ahli kesehatan. 

Pengakuan ini menjadi langkah penting dalam upaya memahami, mendiagnosis, dan menangani penyakit yang selama ini terabaikan.

Berikut penjelasan diabeter tipe 5 yang dirangkum Berau Post dilansir dari livescience.com.

Apa Itu Diabetes Tipe 5

Diabetes tipe 5 adalah bentuk diabetes yang disebabkan oleh kerusakan pankreas akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada masa pertumbuhan. 

Kondisi ini membuat pankreas tidak mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang memadai. 

Meskipun tampak mirip dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2, penyakit ini memiliki perbedaan mendasar.

Menurut Dr. Rachel Reinert, ahli endokrinologi dari Universitas Michigan, diabetes tipe 5 tidak disebabkan oleh reaksi autoimun seperti pada tipe 1 dan tidak pula disebabkan oleh resistensi insulin seperti pada tipe 2. 

"Diabetes tipe 5 ditandai dengan sekresi insulin yang tidak mencukupi yang menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah, mirip dengan bentuk diabetes lainnya," Dr. Rachel Reinert, seorang ahli endokrin dan asisten profesor di Universitas Michigan.

Artinya, tubuh masih dapat merespons insulin, tetapi produksi insulin terganggu akibat kerusakan pada pankreas sejak dini.

"Individu dengan diabetes tipe 5 biasanya memiliki berat badan rendah dan riwayat kekurangan gizi yang dimulai sejak awal kehidupan," ungkapnya.

Penderita diabetes tipe 5 umumnya memiliki berat badan rendah serta riwayat kekurangan gizi sejak kecil. 
 
Kondisi ini sering ditemukan di wilayah dengan akses terbatas terhadap pangan bergizi dan layanan kesehatan, sehingga menjadi masalah sosial dan kesehatan masyarakat sekaligus.

Bagaimana Penyakit Ini Ditemukan Kembali

Meski baru dinamai secara resmi, diabetes tipe 5 sebenarnya telah diamati sejak lama. 
 
Pada tahun 1950-an, seorang dokter asal Inggris bernama Philip Hugh Jones menemukan sekelompok pasien di Jamaika dengan gejala yang tidak sesuai dengan diabetes tipe 1 maupun tipe 2. 

Ia menamai kondisi tersebut sebagai diabetes tipe J, mengacu pada Jamaika. Namun, karena kurangnya penelitian lanjutan, istilah itu lama-lama hilang dari catatan medis.

Beberapa dekade kemudian, penelitian berjudul Young Onset Diabetes in Sub Saharan Africa (YODA) yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology kembali menemukan pola serupa. 

Studi terhadap hampir 900 pasien muda di Kamerun, Uganda, dan Afrika Selatan menunjukkan bahwa sebagian besar tidak memiliki tanda autoimun seperti diabetes tipe 1, tetapi juga tidak menunjukkan resistensi insulin seperti pada tipe 2.

Temuan ini menegaskan bahwa terdapat jenis diabetes yang belum terklasifikasi dengan benar. 

Para ahli kemudian menyepakati istilah baru, yaitu diabetes tipe 5, untuk menggambarkan kondisi yang berakar dari kekurangan gizi dan berhubungan dengan produksi insulin yang terbatas.

Mengapa Penamaan Ini Penting

Memberi nama pada suatu penyakit bukan sekadar urusan akademis. 

Menurut Dr. Chittaranjan Yajnik dari Rumah Sakit KEM di Pune, India, penamaan yang tepat membantu dokter memahami penyebab penyakit dan menentukan penanganan yang sesuai. 

Tanpa pengakuan resmi, jutaan penderita diabetes tipe 5 berisiko tidak mendapatkan perawatan yang benar karena kondisi mereka sering disalahartikan sebagai tipe 1 atau tipe 2.

Pendanaan penelitian yang lebih besar. 

Dengan demikian, para ilmuwan dapat mempelajari penyebab, mekanisme, serta pengobatan yang paling efektif untuk kondisi ini. 

Hal ini juga menjadi awal dari perhatian global terhadap masalah gizi yang sering diabaikan di negara berpenghasilan rendah.

Dr. Yajnik menekankan bahwa pengakuan terhadap diabetes tipe 5 merupakan langkah menuju keadilan kesehatan global, terutama bagi mereka yang hidup di daerah miskin dan kekurangan gizi. 

Dengan nama dan identitas yang jelas, penyakit ini kini mendapat tempat yang layak dalam penelitian medis.

Tantangan Pengobatan Diabetes Tipe 5

Perawatan bagi penderita diabetes tipe 5 harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena sebagian besar penderita memiliki berat badan rendah dan asupan gizi terbatas.

Pemberian insulin berlebihan tanpa keseimbangan makanan dapat menimbulkan bahaya berupa kadar gula darah yang terlalu rendah atau hipoglikemia.

Penanganan terbaik membutuhkan dua pendekatan utama, yaitu terapi insulin dalam dosis yang terukur dan pemulihan gizi secara bertahap. 

Tujuannya agar tubuh memperoleh energi yang cukup sekaligus menjaga kadar gula darah tetap stabil. 

Pendekatan ini harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, mengingat latar belakang gizi dan daya tahan tubuh mereka berbeda-beda.

Selain pengobatan medis, edukasi masyarakat juga berperan penting.  Mengetahui jenis diabetes yang dimiliki membantu pasien memahami cara merawat diri, mengenali gejala, dan mencegah komplikasi. 

Kesadaran akan pentingnya gizi seimbang sejak masa kanak-kanak juga menjadi kunci untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa depan. (jpg/smi)

 

Editor : Nurismi
#diabetes tipe 5 #diabetes