Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Belanja Impulsif Bikin Dompet Kering? Ini 3 Jurus Jitu Mengatasinya Agar Tidak Mudah Tergoda Diskon

Beraupost • Rabu, 17 September 2025 | 10:50 WIB
Ilustrasi belanja implusif. (Freepik)
Ilustrasi belanja implusif. (Freepik)

BERAU POST - Media sosial saat ini selain sebagai media untuk berbagai pesan namun juga sebagai etalase produk yang dapat diperjual belikan.

Aktivitas transaksi pun semakin dengan adanya dompet digital atau e-wallet yang menggantikan uang tunai maupun perbankan.

seringkali membuat kita tergoda untuk melakukan belanja impulsif.

Fenomena ini tidak hanya mengancam kesehatan finansial, tetapi juga membawa dampak psikologis, seperti rasa penyesalan setelah membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
 
Belanja impulsif melalui dompet digital dan media sosial bisa jadi kebiasaan yang nantinya sulit dihindari.

Setiap notifikasi diskon, unggahan produk baru dari influencer, atau iklan yang dipersonalisasi seolah menjadi godaan yang sulit diabaikan.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat menguras tabungan dan membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi berantakan.

Namun, masih terdapat cara mengendalikan kebiasaan belanja impulsif ini dan bukanlah hal yang mustahil.

Dengan beberapa strategi praktis, agar bisa kembali memegang kendali atas keuangan dan terbebas dari jebakan belanja impulsif.

Berikut ini dampak belanja impulsif pada dompet digital dan media sosial serta 3 cara mengendalikan kebiasaan boros ini yang dikutip dari Forbes dan Nerdwallet:

Dampak Negatif Belanja impulsif

1. Penyesalan Pembeli

Dampak belanja impulsif adalah rasa senang saat membeli barang secara spontan biasanya cepat memudar.

Mereka seringkali menyesal setelah menyadari barang yang dibeli tidak sesuai kebutuhan atau gaya hidup mereka.

Contohnya, membeli pakaian yang tidak pas atau gawai yang tidak berfungsi sesuai ekspektasi.

2. Tekanan Keuangan

Belanja impulsif bisebakan platform belanja sering mendorong penemuan barang baru yang cenderung membeli sesuatu yang tidak direncanakan.

Pembelian impulsif secara terus-menerus dapat merusak anggaran karena pengeluaran yang berlebih. 

Kebiasaan belanja impulsif yang menyebabkan pengeluaran berlebih dalam banyak kasus ekstrim bahkan dapat memicu penumpukan utang.

3. Pengambilan Keputusan yang Buruk

Pembelian impulsif sering dilakukan tanpa riset, perbandingan, harga, atau pertimbangan matang.

Perilaku belanja impulsif ini dapat menurunkan kepuasan terhadap barang yang dibeli secara keseluruhan.

Dampak belanja impulsif membuat kurang menghargai barang yang Anda miliki karena didapatkan tanpa perencanaan dan usaha.

Tiga Cara Mengendalikan Belanja Impulsif

1. Otomatiskan Tabungan Anda

Salah satu cara paling ampuh untuk mengendalikan belanja impulsif dengan cara menabung sebelum sempat membelanjakan uang.

Transfer sebagian gaji secara otomatis ke rekening tabungan atau dana pensiun sebelum digunakan untuk belanja.

Dengan begitu, gaji atau penghasilan diutamakan untuk tabungan dan sisinya dibelanjakan untuk kebutuhan lainnya.

2. Berhenti Mengikuti dan Berhenti Berlangganan

Godaan belanja biasanya datang dari promosi yang terus-menerus muncul di media sosial atau notifikasi toko online.

Untuk mengurangi paparan ini, berhentilah mengikuti akun-akun toko online atau influencer yang sering memicu untuk belanja.

Hapus juga langganan promosi dari merek-merek yang membuat tergoda. Cara ini membantu menjauhkan godaan dari belanja impulsif.

3. Buat Daftar Keinginan dengan Masa Tunggu

Kemudahan berbelanja online seringkali memicu pembelian instan. Untuk mengatasinya, buatlah daftar keinginan dan terapkan masa tunggu.

Setiap kali Anda ingin membeli sesuatu yang tidak mendesak, catat di daftar tersebut. Terapkan masa tunggu selama beberapa hari atau minggu sebelum membelinya.

Setelah masa tunggu berakhir, tinjau kembali daftar belanja. Seringkali, keinginan tersebut akan hilang dengan sendirinya, dan akan terhindar dari pengeluaran yang tidak perlu. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#belanja #online #media sosial