BERAU POST - Catastrophizing adalah pola pikir negatif ketika seseorang berfokus pada kemungkinan terburuk dan meyakini hal itu akan terjadi, meskipun tidak realistis.
Terapi dan obat-obatan dapat membantu mengurangi atau menghentikan kebiasaan ini.
Pola pikir ini termasuk distorsi kognitif. Contoh umum misalnya, “Jika saya gagal ujian ini, saya akan gagal sepanjang hidup,” atau “Jika pasangan saya meninggalkan saya, saya tidak akan pernah bahagia lagi”.
Dokter sering menyebutnya sebagai “magnifying” karena situasi yang kecil dianggap jauh lebih parah daripada kenyataannya.
Melansir Medical News Today, catastrophizing dapat memperburuk kondisi fisik dan mental. Misalnya, penderita nyeri kronis yang cenderung berpikir demikian bisa merasakan nyeri lebih hebat.
Penyebab Utama Catastrophizing
Belum ada kesepakatan tunggal tentang penyebab pasti, namun beberapa faktor diduga berperan.
Depresi dapat membuat seseorang terus memikirkan emosi negatif. Kecemasan yang tinggi juga meningkatkan risiko
Selain itu, perbedaan dalam sistem pengaturan perilaku otak (BIS-BAS) dapat memengaruhi kecenderungan ini.
Sensitivitas interoseptif, yaitu kepekaan berlebihan terhadap perubahan tubuh seperti detak jantung, juga bisa memicu kekhawatiran berlebih.
Trauma masa kecil, pengalaman kejadian menakutkan, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) turut meningkatkan peluang seseorang untuk mengalami catastrophizing.
Kecemasan sering berkaitan erat dengan pola pikir katastrofik. Orang dengan gangguan kecemasan cenderung khawatir berlebihan terhadap situasi seperti ujian, pergi sendiri, atau interaksi sosial.
Perbedaan utama antara kecemasan dan catastrophizing adalah kecemasan kadang memiliki manfaat, misalnya membantu melindungi diri dari bahaya.
Sebaliknya, catastrophizing tidak memberi keuntungan apa pun dan justru menyita energi emosional.
Depresi juga dapat memicu pikiran katastrofik karena rasa putus asa berkepanjangan. Orang yang depresi kerap membayangkan skenario terburuk dalam berbagai situasi.
Catastrophizing pada Nyeri Kronis
Istilah “pain catastrophizing” merujuk pada kekhawatiran berlebihan terhadap rasa sakit, merasa tidak berdaya, dan sulit mengabaikan ketidaknyamanan.
Studi tahun 2019 menunjukkan tingkat tertinggi perilaku ini pada penderita nyeri menyeluruh.
Tinjauan tahun 2020 menegaskan bahwa pikiran katastrofik dapat meningkatkan intensitas nyeri dan membuatnya lebih melemahkan.
Namun, sebagian pihak menilai istilah ini dapat menstigma penderita nyeri kronis karena terkesan meremehkan pengalaman mereka.
Pengobatan Medis dan Terapi Mendukung
Setiap orang wajar merasakan takut dan cemas sesekali, tetapi kekhawatiran terus-menerus memerlukan perhatian khusus.
Jika ada kondisi medis seperti depresi, dokter mungkin meresepkan antidepresan.
Jenis antidepresan yang sering digunakan meliputi selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) seperti fluoxetine dan paroxetine, serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRI) seperti duloxetine dan venlafaxine, tricyclic antidepressants (TCA) seperti amitriptyline, serta antidepresan atipikal seperti bupropion dan trazodone.
Untuk kecemasan, dokter dapat meresepkan beta-blocker guna mengurangi gejala fisik seperti jantung berdebar, benzodiazepine sebagai obat penenang cepat, atau buspirone (Buspar) yang bekerja lebih lambat namun lebih ringan.
Mindfulness, yaitu kesadaran penuh pada saat ini tanpa terjebak pada masa lalu atau masa depan, dapat membantu mengurangi depresi dan kecemasan.
Terapi berbasis mindfulness (MBCT) terbukti efektif mencegah kambuhnya depresi.
Terapi kognitif, perawatan diri yang baik, pengobatan bila diperlukan, serta praktik mindfulness dapat membantu mengurangi pikiran katastrofik.
Dengan dukungan yang tepat, seseorang dapat belajar menghadapi tantangan tanpa membayangkan skenario terburuk setiap saat. (jpg/smi)
Editor : Nurismi