Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Cuma Penampilan, Rambut Rontok Ternyata Sinyal Bahaya Kesehatan Tubuh

Beraupost • Kamis, 11 September 2025 | 11:45 WIB
Ilustrasi rambut rontok. (Freepik)
Ilustrasi rambut rontok. (Freepik)

BERAU POST - Rambut rontok adalah masalah umum yang sering dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda awal terganggunya kesehatan tubuh.

Kerontokan rambut berlebihan bukan hanya mengganggu penampilan, tetapi juga dapat menurunkan rasa percaya diri seseorang dalam berinteraksi sehari-hari.

Penting untuk mengenali penyebab rambut rontok sejak awal agar bisa menemukan solusi yang tepat dan mencegah kerusakan menjadi lebih parah.

Lantas, apa saja faktor yang bisa menyebabkan rambut rontok berlebihan hingga akhirnya membuat kesehatan rambut semakin menurun?

Dilansir dari laman Halodoc.com, berikut delapan penyebab kerontokan pada rambut yang perlu dikenali.

1. Stres Berat

Stres berkepanjangan dapat memicu kondisi medis bernama telogen effluvium, yang ditandai dengan rambut rontok sekitar 2 hingga 4 bulan setelah stres.

Tubuh yang mengalami tekanan mental atau fisik akan mengalihkan energi dari pertumbuhan rambut ke fungsi vital lain sehingga rambut mudah rontok.

Kondisi ini biasanya bersifat sementara, namun jika tidak segera diatasi, stres berulang dapat memperburuk siklus pertumbuhan rambut.

2. Diet Ketat

Rambut membutuhkan asupan nutrisi lengkap seperti protein, vitamin B, zinc, dan zat besi agar dapat tumbuh sehat serta kuat.

Diet ketat atau pola makan yang tidak seimbang sering menyebabkan rambut menjadi rapuh, kusam, dan rentan mengalami kerontokan dalam jumlah banyak.

Jika ingin menurunkan berat badan, pastikan tetap memperhatikan kebutuhan gizi harian agar tidak mengorbankan kesehatan rambut.

3. Penurunan Berat Badan Mendadak

Turunnya berat badan secara drastis, terutama akibat pembatasan kalori ekstrem, dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi dan nutrisi penting.

Dalam beberapa kasus, kondisi seperti anoreksia nervosa membuat rambut kehilangan kekuatan dan akhirnya rontok lebih cepat dari biasanya.

Selain itu, stres akibat perubahan tubuh mendadak juga memperparah kerontokan rambut sehingga tubuh membutuhkan waktu lama untuk memulihkannya.

4. Kehamilan dan Persalinan

Kadar hormon yang meningkat saat hamil membuat banyak rambut tetap berada di fase pertumbuhan sehingga terlihat lebih tebal dan sehat.

Namun, setelah persalinan, perubahan hormon drastis memicu kerontokan besar-besaran, biasanya tiga hingga empat bulan setelah melahirkan.

Kondisi ini disebut telogen effluvium pascapersalinan dan meski menakutkan, biasanya bersifat sementara hingga hormon kembali stabil.

5. Menopause

Penurunan hormon estrogen saat menopause dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut, menyebabkan tekstur rambut berubah dan lebih mudah rontok.

Selain faktor hormonal, usia juga berperan penting dalam menurunkan elastisitas kulit kepala, yang berdampak langsung pada kekuatan rambut.

Meski alami, menjaga pola makan sehat dan perawatan rutin bisa membantu memperlambat proses kerontokan saat fase menopause.

6. Efek Samping Obat-obatan

Beberapa obat memiliki efek samping berupa kerontokan rambut, misalnya beta-blockers, retinoid, hingga antikoagulan yang memengaruhi siklus rambut.

Jika mengalami kerontokan setelah mengonsumsi obat tertentu, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk mencari alternatif yang lebih aman.

Menghentikan obat tanpa petunjuk medis justru bisa berbahaya sehingga langkah terbaik adalah melakukan evaluasi bersama tenaga medis profesional.

7. Kondisi Kesehatan Tertentu

Gangguan kesehatan seperti penyakit tiroid, alopecia areata, hingga autoimun dapat menyerang folikel rambut dan memicu kerontokan serius.

Pada alopecia areata, sistem imun tubuh keliru menyerang akar rambut sehingga pertumbuhannya terganggu dan menyebabkan area kepala botak.

Kondisi medis ini biasanya memerlukan pengobatan khusus jangka panjang agar rambut bisa kembali tumbuh secara sehat.

8. Operasi atau Terapi

Operasi atau terapi skala besar seperti kemoterapi dapat menekan fungsi tubuh sehingga rambut berhenti tumbuh dan akhirnya rontok.

Kerontokan akibat pengobatan biasanya bersifat sementara, rambut akan tumbuh kembali setelah proses pemulihan tubuh selesai.

Namun, dalam beberapa kasus, rambut bisa tumbuh dengan tekstur atau warna berbeda setelah fase pemulihan berlangsung.

Beberapa faktor lain yang meningkatkan risiko rambut rontok antara lain riwayat keluarga dengan kebotakan, usia lanjut, pola makan tidak seimbang, dan perawatan rambut yang salah.

Dilansir dari laman RS Pondok Indah, menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, dan perawatan rambut yang tepat dapat membantu mencegah kerontokan.

Jika rambut rontok berlebihan tidak kunjung membaik, segera lakukan konsultasi medis agar mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai penyebab utamanya. (jpg/smi)
 

 

Editor : Nurismi
#rambut rontok #kesehatan #stres