Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Gak Cuma Kamu! Kenali Duck Syndrome, Kondisi yang Bikin Terlihat Strong Padahal Aslinya Kewalahan

Beraupost • Rabu, 10 September 2025 | 13:40 WIB
Ilustrasi berusaha untuk tenang di tengah masalah yang dihadapi. (Freepik)
Ilustrasi berusaha untuk tenang di tengah masalah yang dihadapi. (Freepik)

BERAU POST - Pernahkah kamu berusaha tenang agar kelihatan strong, padahal aslinya sedang panik dan kewalahan?

Hati-hati, bisa jadi itu tanda kamu mengalami duck syndrome. Fenomena ini ternyata banyak dialami Gen Z, terutama siswa, mahasiswa, atau pun yang baru lulus kuliah. Yuk, cari tahu informasi lengkapnya di sini.

Apa Itu Duck Syndrome?

Melansir dari laman Ruang Guru, duck syndrome adalah kondisi ketika seseorang terlihat tenang di luar, padahal ia panik dan berjuang di dalam.

Ibarat bebek yang lagi berenang. Bebek kelihatan tenang di permukaan, padahal aslinya berusaha keras agar tetap bertahan di atas air.

Duck syndrome, menurut Medicine Net, memang tidak secara resmi masuk ke dalam penyakit mental tertentu.

Tapi, jika dibiarkan, duck syndrome bisa jadi pemicu masalah mental, seperti gangguan kecemasan dan juga depresi.

Ciri-Ciri Duck Syndrome

Ciri-ciri duck syndrome yang mungkin tanpa disadari sering dialami Gen Z adalah:

• Selalu merasa diawasi orang lain.
• Panik atau ngerasa gagal kalau nggak bisa memenuhi ekspektasi keluarga atau lingkungan.
• Ngerasa hidup orang lain lebih "beruntung".
• Memaksakan diri untuk selalu terlihat oke.
• Sering susah tidur, pusing, atau susah konsentrasi.

Jika kamu relate dengan poin-poin di atas, bisa jadi kamu sedang ada di fase duck syndrome.

Kenapa Gen Z Rentan Duck Syndrome?

Berdasarkan Medicine Net, duck syndrome paling sering muncul pada usia remaja yang mulai beranjak dewasa. Beberapa penyebabnya antara lain:

• Mulai tinggal jauh dari keluarga saat kuliah atau bekerja.
• Tuntutan akademis dan organisasi yang lebih berat dibanding SMA.
• Ekspektasi tinggi dari keluarga atau lingkungan.
• Helicopter parenting, orang tua yang terlalu ikut campur dalam kehidupan anak.
• Perfeksionisme, selalu ingin terlihat sempurna.
• Pengaruh sosial media, harus tampil sukses dan bahagia.
• Ada trauma masa lalu yang belum selesai.

Meskipun bukan termasuk diagnosis gangguan mental, duck syndrome bisa memicu masalah psikologis serius, seperti anxiety atau gangguan kecemasan, depresi, hingga masalah kepercayaan diri.

Apalagi untuk Gen Z yang hidup di era serba cepat ini, jika tidak segera ditangani, efeknya bisa panjang.

Tips Mengatasi Duck Syndrome agar Mental Tetap Sehat

Gen Z perlu sadar jika tidak ada hidup yang sempurna. Semua orang punya struggle masing-masing. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
 
- Self love: Belajar mencintai diri kamu sendiri.
- Me time: Luangkan waktu buat diri sendiri.
- Hidup sehat: Cukup tidur, olahraga, makan bergizi.
- Kenali kapasitas diri: Belajar atau bekerja sesuai kemampuan.
- Positive thinking: Jangan bandingkan pencapaian dengan orang lain.
- Hiatus: Rehat sebentar dari sosial media kalau bikin overthinking.
- Cari bantuan profesional: Konsultasi ke psikolog atau psikiater kalau udah berat.

Setiap tahapan hidup pasti punya tantangannya masing-masing. Namun, ingat, mental health sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Jadi jangan ragu untuk cerita, istirahat, atau cari bantuan profesional jika dibutuhkan. Jangan terlalu memaksakan diri kamu ya. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#kesehatan mental #Tenang