Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Merasa Terengah-engah Capai Merdeka Finansial? Jangan Khawatir, Kamu Enggak Sendiri!

Beraupost • Selasa, 19 Agustus 2025 | 09:45 WIB
Ilustrasi generasi milenial. (Freepik)
Ilustrasi generasi milenial. (Freepik)

BERAU POST - Di tengah usia yang ke-80 tahun Kemerdekaan Indonesia, kehadirannya telah dimaknai secara luas, salah satunya dikaitkan dengan kemerdekaan finansial.

Jika saja perayaan kemerdekaan mudah dirayakan dengan hanya mengenakan kostum merah putih, atau mengikuti lomba balap karung. Rupanya, kemerdekaan finansial tak semudah dua kegiatan di atas.

Banyak anak-anak muda generasi milenial dan generasi Z di tengah momen kemerdekaan ini, masih merasa terengah-engah untuk mencapai kemerdekaan finansial.

Bahkan, untuk melunasi cicilan saja, perlu banyak-banyak ikhlas karena makan uang tabungan.

Hal ini seperti dialami oleh Erlinda, seorang pekerja swasta milenial di Jakarta. Ia mengaku, pada momen kemerdekaan ini dirinya masih jauh dikatakan merdeka finansial.

Apalagi, ia baru saja bisa bernapas lega karena sedikit demi sedikit bisa kembali menyisihkan gaji untuk menabung.

"Masih jauh, kalau aku masih sangat-sangat jauh dari merdeka finansial. Karena untuk saat ini masih dalam proses, at least aku masih bisa nabung Walaupun itu masih sedikit," kata Erlinda.

Selain itu, hal yang sama juga dirasakan oleh Rara, seorang mahasiswa di salah satu kampus negeri di Yogyakarta.

Dirinya masih jauh untuk bisa disebut sebagai seseorang yang merdeka finansial, salah satunya karena masih mengandalkan uang saku dari orang tua.

"Aku masih jauh banget merdeka finansial. Karena masih belajar ngatur uang dari orang tua untuk kebutuhan kuliah, kosan. Paling penting ya buat makan sehari-hari," ujar Rara.

Arti Merdeka Finansial

Saat ditanya lebih lanjut soal arti merdeka finansial, Rara mengaku momen tersebut sedikit bisa dirasakan ketika akhirnya ia berhasil memiliki dana sisa dari uang saku mingguannya.

Setiap pekan, ia rutin menerima uang saku senilai Rp 250 ribu dari orang tua. Meski dinilai cukup, tapi ia mengaku masih perlu mengotak-atik agar tetap bisa memenuhi semua kebutuhannya.

Apalagi saat ini, karena ia baru saja menjadi perantau di Jogja, justru uang tersebut lebih banyak dibelanjakan untuk printilan di kosannya.

Padahal, ia sangat berharap banyak uang mingguan bisa tersisa dan menjadi dana darurat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tak terduga.

"Merdeka finansial itu menurutku ketika kita bisa mengelola uang dengan baik dan punya dana yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Terutama sebagai anak rantau yang ngekos, mungkin cukup untuk kebutuhan kuliah, paling penting buat makan, dan biaya urgent lainnya," jelas Rara.

Menyoal merdeka finansial, ia mengaku baru akan memperjuangkannya secara bertahap ketika lulus dari bangku kuliah. Pasalnya, ia berkeinginan untuk langsung bekerja.

Dari gaji-gaji bulanannya nanti, ia berniat akan diperbanyak untuk menabung. Apalagi, kelak ia bermimpi untuk bisa memiliki sejumlah aset investasi, salah satunya tanah.

Selain itu, ia juga berkeinginan untuk mengajak kedua orang tuanya keliling dunia.

"Nanti kalau sudah punya gaji sendiri, mau ngalokasiin separuh buat beli aset tanah, dan nabung untuk keliling dunia sama orang tua," tuturnya.

Menyoal merdeka finansial, salah satu anak gen Z ini menargetkan bisa mencapainya pada usia 40 tahun. Tentu, usai dirinya bekerja keras di kisaran usia 21 hingga 30 tahun.

Kemudian, ia akan berjuang kelak bersama suaminya pada rentang usia 30 hingga menjelang 40 tahunan.

"Lulus kuliah 21 tahun dan akan langsung kerja banting tulang, punya suami, abis itu jadi wanita karier dan 40 tahun aku sudah bisa merdeka finansial," imbuhnya.

Sementara itu, makna merdeka finansial menurut Erlinda ketika setiap bulannya sudah bisa memenuhi kebutuhan sendiri, dan tidak pernah terbebani oleh cicilan.

Selain itu, menurutnya merdeka finansial itu ketika uang bulanan untuk keluarga yang tak lagi menjadi beban.

Dalam hal ini, Erlinda memandang, ketika sudah merdeka finansial, maka dana untuk keluarga sudah teralokasikan secara khusus tanpa harus menggeser dan memakai uang lain, termasuk tabungannya.

"Kalau menurut aku, merdeka finansial itu ketika kita udah bisa memenuhi kebutuhan kita, tapi kita juga masih punya uang lebih untuk ditabung dan investasi. Dan udah enggak ada tanggungan apapun, kayak tagihan, cicilan segala macem," tutur perempuan kelahiran tahun 1996 ini.

"Bahkan, untuk memberi dana ke keluarga itu bukan beban lagi. Tapi memang udah ada alokasinya. Memang udah masuk dalam struktur keuangan, sekian-sekian gitu," imbuhnya.

Meski saat ini sudah mulai menabung, Erlinda mengakui perjalanannya baru saja dilakukan kembali.

Karena sebelum-sebelumnya, uang tabungan yang disisihkan digunakan untuk membayar biaya gym.

Ia juga menyampaikan, uang tabungan yang ia sisihkan tiap bulan saat ini baru saja akan dikumpulkan untuk dana darurat.

Hal itu, tentu kata dia, masih sangat jauh untuk bisa mencapai kemerdekaan finansial.

Pasalnya, ia juga memandang merdeka finansial adalah kondisi di mana dirinya bisa untuk menyisihkan pendapatan bulanannya pada alokasi dana pensiun. 

"Jadi kalau menurut aku, ya merdeka finansial tuh kayak kita udah punya alokasi dana pensiun. Dan itu udah pegangan, jadi kalo misal tiba-tiba gak punya uang, yaudah masih tenang-tenang aja. Nah sedangkan aku, masih cuma buat nabung dan bukan dana pensiun, karena kalau tiba-tiba aku pensiun dini, itu belum mencukupi gitu," bebernya.

Perempuan yang saat ini tengah menargetkan bisa mengumpulkan dana darurat sebanyak 6 bulan pengeluaran menegaskan bahwa dirinya belum masuk kategori merdeka finansial.

"Aku, aku menyatakan diriku belum masuk kategori merdeka finansial walaupun masih ada uang yang bisa aku tabung," pungkasnya. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#generasi milenial #finansial #kemerdekaan indonesia #kemerdekaan #generasi z