Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Kenapa Sulit Tidur Sebelum Flight Pagi? 7 Tipe Kepribadian Ini Penyebabnya

Beraupost • Sabtu, 9 Agustus 2025 | 15:25 WIB
Seseorang yang mengalami kesulitan tidur di malam sebelum penerbangan pagi (Freepik)
Seseorang yang mengalami kesulitan tidur di malam sebelum penerbangan pagi (Freepik)

BERAU POST - Susah memejamkan mata di malam sebelum penerbangan pagi? Anda tidak sendirian.

Meskipun jam sudah larut malam, pikiran terus saja berputar, mulai dari takut ketinggalan pesawat, khawatir ada barang yang kelupaan, hingga membayangkan petualangan seru yang akan datang.

Psikologi menemukan bahwa ada pola-pola kepribadian tertentu yang membuat seseorang lebih rentan mengalami pre-flight insomnia.

Dilansir dari Geediting, jika Anda sering gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak sebelum penerbangan pagi, mungkin Anda memiliki salah satu atau beberapa dari tujuh ciri kepribadian berikut ini.

1. Perfeksionis (Perfectionist)

Orang dengan kecenderungan perfeksionis cenderung sangat memikirkan setiap detail kecil dalam rencana perjalanan mereka.

Mereka takut ada sesuatu yang terlewatkan, seperti dokumen penting, jadwal keberangkatan, atau persiapan lainnya.

Ketakutan akan "tidak siap" ini menyebabkan pikiran terus bekerja bahkan saat tubuh sudah lelah, sehingga sulit bagi mereka untuk tertidur.

Pikiran mereka dipenuhi oleh daftar tugas yang harus diperiksa ulang.

2. Anxious Thinker (Pemikir yang Cemas)

Jika Anda termasuk orang yang mudah merasa cemas terhadap hal-hal yang belum terjadi, terutama yang berkaitan dengan "kemungkinan buruk" di masa depan, Anda mungkin mengalami kesulitan tidur sebelum penerbangan.

Pikiran seperti “Bagaimana kalau saya tertinggal pesawat?” atau “Bagaimana kalau saya lupa membawa sesuatu yang penting?” terus mengganggu.

Individu dengan kecenderungan anxious thinking cenderung terjebak dalam lingkaran pikiran negatif (rumination) yang mempersulit proses relaksasi menjelang tidur.

3. Light Sleeper (Tidur Ringan dan Mudah Terbangun)

Ada juga tipe orang yang secara biologis memang tidur dengan fase yang lebih ringan, di mana suara kecil atau gangguan pikiran sederhana dapat membuat mereka sulit tidur nyenyak.

Bagi tipe light sleeper, malam sebelum penerbangan terasa lebih rentan karena otak mereka waspada terhadap bunyi alarm atau rasa takut akan kesiangan.

Sehingga mereka sering terbangun berkali-kali di malam hari.

4. Overthinker (Pemikir Berlebihan)

Mirip dengan anxious thinker, seorang overthinker memiliki kecenderungan untuk memikirkan terlalu banyak skenario, bukan hanya yang bersifat negatif tetapi juga netral atau bahkan positif.

Mereka bisa terjaga karena membayangkan setiap langkah perjalanan, dari proses check-in, prosedur keamanan, hingga membayangkan tempat tujuan.

Mereka sulit mematikan alur pikirannya, terutama di malam-malam penting seperti sebelum penerbangan pagi.

5. High Responsibility Persona (Memikul Beban Tanggung Jawab Besar)

Jika Anda tipe orang yang merasa bertanggung jawab penuh atas keberhasilan perjalanan—baik untuk diri sendiri maupun orang lain (keluarga, rekan kerja, dll)—kemungkinan Anda akan terjaga di malam sebelum penerbangan.

Orang-orang dengan sense of responsibility yang tinggi cenderung merasa bahwa jika terjadi kesalahan, itu adalah akibat kelalaian mereka sendiri.

Hal ini menciptakan tekanan batin yang mengganggu kualitas tidur.

6. Highly Anticipative (Sangat Bersemangat dan Antusias)

Tidak semua insomnia sebelum terbang disebabkan oleh kecemasan. Ada juga yang tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat.

Jika Anda termasuk orang yang memiliki sifat antisipatif tinggi terhadap pengalaman baru, otak Anda bisa jadi terlalu aktif membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan terjadi.

Efeknya, tubuh ingin tidur, tetapi otak Anda seperti “tidak mau ketinggalan” merasakan euforia tersebut.

7. Time-Control Freak (Obsesi terhadap Kontrol Waktu)

Beberapa orang memiliki obsesi kuat untuk “mengendalikan waktu”. Mereka merasa harus selalu berada di depan jadwal, memastikan tidak ada penundaan, dan sangat benci dengan situasi mendadak yang bisa mengganggu agenda mereka.

Sebelum penerbangan pagi, pikiran mereka terus-menerus memikirkan tentang alarm, transportasi menuju bandara, estimasi waktu tempuh, dan lain-lain.

Akibatnya, ketegangan ini membuat mereka sulit untuk masuk ke fase tidur nyenyak.
Kenapa Tidur Menjadi Sulit Sebelum Penerbangan Pagi?

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah “anticipatory anxiety” atau kecemasan antisipatif.

Otak manusia secara alami akan lebih waspada menjelang aktivitas penting yang memiliki konsekuensi tinggi, seperti penerbangan.

Hal ini adalah bentuk mekanisme pertahanan agar Anda "tidak ketinggalan" momen penting tersebut.

Namun, bagi orang dengan kecenderungan kepribadian tertentu seperti yang dijelaskan di atas, tingkat kewaspadaan ini meningkat secara berlebihan, hingga mengganggu kualitas tidur.

Tips Mengatasi Sulit Tidur Sebelum Penerbangan

Jika Anda merasa salah satu atau beberapa ciri di atas ada dalam diri Anda, berikut adalah beberapa strategi yang bisa dicoba:

Persiapkan segala sesuatu sehari sebelumnya agar Anda tidak memikirkan hal-hal kecil saat akan tidur.

Gunakan teknik relaksasi seperti meditasi ringan, pernapasan dalam, atau mendengarkan suara alam.

Pasang alarm ganda, sehingga Anda tidak gelisah memikirkan kemungkinan “tertidur lelap dan kesiangan”.

Tidur lebih awal dari biasanya, meski Anda tahu mungkin Anda tidak akan langsung tertidur, agar tubuh punya cukup waktu beradaptasi.

Jangan memaksakan tidur. Kadang-kadang lebih baik menerima bahwa Anda hanya akan mendapat sedikit tidur, daripada memaksa diri dan malah membuatnya lebih buruk.

Kurangi paparan cahaya biru (gadget) setidaknya 1 jam sebelum tidur.

Penutup

Kesulitan tidur sebelum penerbangan pagi memang sering dianggap sepele, namun ternyata ada kaitannya dengan kepribadian dan kecenderungan psikologis seseorang.

Apakah Anda termasuk perfeksionis, overthinker, atau pemilik sense of responsibility yang tinggi?

Dengan memahami kecenderungan diri sendiri, Anda bisa menemukan strategi terbaik agar tidur malam sebelum perjalanan menjadi lebih berkualitas. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#susah tidur #penerbangan pagi