BERAU POST - Hembusan udara sejuk dan suara dengungan kipas angin sering dianggap "obat" mujarab untuk mengatasi gerah dan susah tidur.
Tapi, benarkah kebiasaan ini benar-benar baik untuk kesehatan? Mari kita cari tahu fakta di baliknya.
Dilansir dari The Washington Post, penggunaan kipas angin saat tidur memang dapat memberikan manfaat tertentu bagi sebagian orang.
Menurut para ahli tidur, kipas membantu tidur lebih baik karena dua faktor utama, yakni menghasilkan angin sejuk dan menciptakan suara putih (white noise) yang menenangkan.
Kipas tidak benar-benar menurunkan suhu ruangan, tetapi menciptakan efek wind chill, yaitu sensasi sejuk yang muncul saat angin menggantikan udara hangat dan membantu menguapkan keringat dari kulit.
Departemen Energi Amerika Serikat menyatakan bahwa kipas mendinginkan orang, bukan ruangan.
Efek ini sangat membantu bagi mereka yang merasa panas saat malam terlebih di daerah pada penduduk seperti Surabaya dan Jakarta.
Namun, tidak semua kipas cocok digunakan. Kipas langit-langit cenderung terlalu senyap jika tujuannya untuk mendapatkan suara putih.
Di sisi lain, kipas osilasi (kipas berdiri) bisa mengganggu tidur karena angin dan suaranya yang tidak konsisten.
Menurut Norah Simpson, profesor klinis dari Stanford University, kipas jenis box fan merupakan pilihan yang ideal karena memberikan dengungan stabil tanpa perubahan angin. Selain itu, cara penggunaan kipas juga memengaruhi efektivitasnya.
John Saito dari American Academy of Sleep Medicine menyarankan agar kipas diarahkan ke pintu atau jendela terbuka untuk membantu sirkulasi udara dan membuang karbon dioksida yang menumpuk di ruangan.
“Jika Anda menggunakan kipas untuk mendinginkan diri, itu bagus. Tapi kalau ruangan pengap, Anda sebaiknya mengarahkan kipas untuk meniupkan udara keluar melalui pintu atau jendela,” ujar Saito dikutip dari The Washington Post.
Bagi mereka yang mengalami tinnitus (telinga berdenging), suara putih dari kipas juga dapat menyamarkan suara dengingan, sehingga tidur menjadi lebih tenang.
Hal ini dijelaskan oleh Michelle Drerup, direktur bidang pengobatan tidur perilaku di Cleveland Clinic.
Meskipun demikian, kipas bukan solusi medis untuk gangguan tidur seperti insomnia atau sleep apnea.
Para ahli menegaskan bahwa penggunaan kipas tidak boleh menggantikan pengobatan profesional.
Bahkan, penggunaan terus-menerus kipas angina dapat menimbulkan ketergantungan dan membuat seseorang sulit tidur tanpa suara kipas.
Selain itu, tidak semua orang cocok tidur dengan kipas. Penderita alergi, asma, atau mata kering justru bisa mengalami gangguan karena debu dan alergen yang tersebar oleh kipas.
Mereka yang sensitif terhadap angin juga sebaiknya menghindari penggunaan kipas secara langsung.
Beberapa tips yang dapat diterapkan dalam penggunaan kipas angin saat tidur dapat dimulai dengan memilih kipas jenis box fan.
Jenis kipas ini menghasilkan suara putih yang stabil tanpa perubahan arah angin, sehingga lebih nyaman bagi sebagian orang.
Selain itu, sebaiknya atur timer agar kipas mati otomatis setelah beberapa jam guna menghindari paparan angin terus-menerus sepanjang malam.
Jika Anda hanya membutuhkan suara menenangkan tanpa embusan angin langsung, pertimbangkan untuk menggunakan ponsel untuk mendengarkan suara putih melalui YouTube atau aplikasi lain.
Tidur dengan kipas angin dapat menjadi solusi sederhana untuk tidur lebih nyenyak, terutama bagi yang merasa panas atau butuh ketenangan suara.
Namun, kebiasaan ini tidak selalu cocok untuk semua orang. Kenali kebutuhan tubuh Anda dan gunakan kipas dengan bijak agar manfaatnya terasa tanpa menimbulkan gangguan baru. (jpg/smi)
Editor : Nurismi