Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Cuma Buat Ridwan Kamil, Ini 7 Fungsi Penting Tes DNA yang Jarang Diketahui

Beraupost • Jumat, 8 Agustus 2025 | 08:10 WIB
Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjawab pertanyaan awak media usai menjalani tes DNA di Bareskim Polri, Jakarta, Kamis (7/8/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjawab pertanyaan awak media usai menjalani tes DNA di Bareskim Polri, Jakarta, Kamis (7/8/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

BERAU POST - Ridwan Kamil akhirnya memutuskan untuk tes DNA, untuk membuktikan klaim Lisa Mariana yang mengaku mempunyai anak dari mantan Gubernur Jawa Barat tersebut.

Namun, di balik itu, tes DNA ternyata menyimpan segudang rahasia lain yang jauh lebih penting untuk kesehatan dan masa depan.

Lebih dari sekadar membuktikan hubungan darah, teknologi ini adalah kunci untuk mendeteksi penyakit, merancang pengobatan yang lebih efektif, hingga membantu pasangan yang ingin memiliki anak sehat.

Namun, fungsi tes DNA bukan cuma sebatas urusan silsilah keluarga. Tes ini bisa jadi alat deteksi dini penyakit, jadi panduan pengobatan yang lebih akurat, sampai membantu pasangan yang ingin punya anak.

Dengan perkembangan teknologi medis, tes DNA kini bisa dilakukan lewat sampel air liur, darah, atau jaringan tubuh lainnya, dan hasilnya membuka banyak informasi penting tentang tubuh seseorang.

Berikut ini tujuh jenis tes DNA beserta fungsinya yang perlu diketahui masyarakat luas, terutama dalam konteks kesehatan dan perencanaan masa depan, dikutip dari laman Ciputra Hospital, Kamis (7/8).

1. Tes Pralahir (Prenatal Test)

Tes ini dilakukan saat janin masih dalam kandungan, dan bertujuan mendeteksi kemungkinan kelainan genetik atau kromosom sedini mungkin.

Biasanya disarankan untuk ibu hamil dengan risiko tinggi, seperti yang punya riwayat penyakit keturunan atau hamil di usia matang.

Tes ini membantu orang tua dan dokter dalam merencanakan penanganan medis lebih awal bila diperlukan.

Selain itu, tes pralahir bisa jadi sumber ketenangan batin bagi calon orang tua. Dengan mengetahui kondisi janin secara detail, mereka bisa menyiapkan segala hal, termasuk mental, jika ternyata dibutuhkan perhatian medis khusus.

2. Tes Diagnostik

Jenis tes ini dilakukan saat seseorang sudah menunjukkan gejala penyakit tertentu. Tujuannya untuk memastikan apakah gejala itu terkait dengan kelainan genetik tertentu atau bukan.

Dengan kata lain, ini adalah alat bantu diagnosa yang bisa menghindarkan pasien dari kesalahan penanganan medis.

Sebagai contoh, pada kasus penyakit langka atau kronis yang sulit diidentifikasi, tes DNA bisa menjadi kunci diagnosis. Ini memungkinkan dokter menyusun perawatan yang lebih tepat sasaran sesuai kondisi pasien.

3. Uji Pembawa (Carrier Screening)

Uji pembawa dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang memiliki gen pembawa penyakit keturunan, walau orang itu sendiri tampak sehat.

Ini penting terutama bagi pasangan yang ingin menikah atau punya anak, untuk menghindari risiko menurunkan penyakit ke generasi berikutnya.

Namun, fungsi tes DNA bukan cuma sebatas urusan silsilah keluarga. Tes ini bisa jadi alat deteksi dini penyakit, jadi panduan pengobatan yang lebih akurat, sampai membantu pasangan yang ingin punya anak.

Dengan perkembangan teknologi medis, tes DNA kini bisa dilakukan lewat sampel air liur, darah, atau jaringan tubuh lainnya, dan hasilnya membuka banyak informasi penting tentang tubuh seseorang.

Berikut ini tujuh jenis tes DNA beserta fungsinya yang perlu diketahui masyarakat luas, terutama dalam konteks kesehatan dan perencanaan masa depan, dikutip dari laman Ciputra Hospital, Kamis (7/8).

1. Tes Pralahir (Prenatal Test)

Tes ini dilakukan saat janin masih dalam kandungan, dan bertujuan mendeteksi kemungkinan kelainan genetik atau kromosom sedini mungkin.

Biasanya disarankan untuk ibu hamil dengan risiko tinggi, seperti yang punya riwayat penyakit keturunan atau hamil di usia matang.

Tes ini membantu orang tua dan dokter dalam merencanakan penanganan medis lebih awal bila diperlukan.

Selain itu, tes pralahir bisa jadi sumber ketenangan batin bagi calon orang tua. Dengan mengetahui kondisi janin secara detail, mereka bisa menyiapkan segala hal, termasuk mental, jika ternyata dibutuhkan perhatian medis khusus.

2. Tes Diagnostik

Jenis tes ini dilakukan saat seseorang sudah menunjukkan gejala penyakit tertentu. Tujuannya untuk memastikan apakah gejala itu terkait dengan kelainan genetik tertentu atau bukan.

Dengan kata lain, ini adalah alat bantu diagnosa yang bisa menghindarkan pasien dari kesalahan penanganan medis.

Sebagai contoh, pada kasus penyakit langka atau kronis yang sulit diidentifikasi, tes DNA bisa menjadi kunci diagnosis.

Ini memungkinkan dokter menyusun perawatan yang lebih tepat sasaran sesuai kondisi pasien.

3. Uji Pembawa (Carrier Screening)

Uji pembawa dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang memiliki gen pembawa penyakit keturunan, walau orang itu sendiri tampak sehat.

Ini penting terutama bagi pasangan yang ingin menikah atau punya anak, untuk menghindari risiko menurunkan penyakit ke generasi berikutnya.

Jika kedua pasangan ternyata membawa gen yang sama, anak mereka berisiko 25% mewarisi penyakit tersebut secara penuh.

Tes ini bisa jadi dasar bagi pasangan dalam membuat keputusan soal pernikahan, program kehamilan, hingga rencana reproduksi alternatif seperti IVF atau adopsi.

4. Tes Presimptomatik

Buat yang punya riwayat keluarga dengan penyakit genetik tertentu, tes ini bisa jadi penyelamat.

Ia dilakukan sebelum gejala penyakit muncul, untuk melihat apakah seseorang berisiko mengidap penyakit yang sama di masa depan.

Tes ini memberi kesempatan untuk melakukan deteksi dini dan intervensi lebih awal.

Misalnya, seseorang yang terbukti punya gen penyebab kanker bisa mulai rutin menjalani pemeriksaan, menjalani gaya hidup sehat, atau bahkan menjalani tindakan preventif medis.

5. Tes Farmakogenetik

Respons tiap orang terhadap obat bisa berbeda, tergantung dari kondisi genetik mereka.

Nah, tes farmakogenetik bisa mengungkap gen mana yang berpengaruh terhadap metabolisme obat, sehingga dokter bisa menentukan jenis dan dosis obat yang paling cocok bagi pasien.

Tes ini membantu menghindari efek samping, meningkatkan efektivitas pengobatan, dan mempercepat proses penyembuhan.

Cocok banget untuk pasien dengan penyakit kronis atau yang sudah menjalani berbagai jenis terapi tanpa hasil maksimal.

6. Tes Pra-implantasi (PGT - Preimplantation Genetic Testing)

Bagi pasangan yang menjalani program bayi tabung (IVF), tes ini dilakukan untuk menyaring embrio yang sehat sebelum ditanamkan ke dalam rahim.

Tujuannya agar peluang kehamilan meningkat dan risiko keguguran atau penyakit genetik pada bayi bisa diminimalisir.

Tes ini sering digunakan oleh pasangan yang memiliki riwayat penyakit keturunan atau yang telah mengalami keguguran berulang akibat masalah genetik.

7. Skrining Bayi Baru Lahir

Begitu bayi lahir, tes ini bisa langsung dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik atau gangguan metabolisme sejak dini.

Beberapa kondisi seperti hipotiroid bawaan atau fenilketonuria bisa ditangani dengan baik bila diketahui sejak awal, sehingga tumbuh kembang anak tidak terganggu.

Tes ini kini menjadi standar di banyak rumah sakit karena manfaatnya yang besar dalam pencegahan komplikasi jangka panjang.

Kesimpulan 

Tes DNA bukan lagi sesuatu yang tabu atau cuma dilakukan dalam kasus ekstrem. Justru di era sekarang, tes ini bisa jadi alat bantu kesehatan yang sangat berguna untuk siapa saja.

Baik untuk mendeteksi penyakit, merancang pengobatan, hingga merencanakan keluarga, tes DNA membuka jalan menuju hidup yang lebih sehat dan terencana.

Jadi, kalau kamu penasaran dengan kondisi genetikmu, atau ingin tahu lebih banyak soal risiko penyakit keturunan dalam keluarga, tidak ada salahnya mempertimbangkan tes DNA sebagai langkah awal pencegahan. (jpg/smi)

 

Editor : Nurismi
#Lisa Mariana #ridwan kamil #tes dna