BERAU POST - Setiap manusia tumbuh dan berkembang melalui berbagai tahapan kehidupan, dan masa kanak-kanak adalah fase paling awal sekaligus paling membentuk karakter seseorang di kemudian hari.
Masa kecil bukan hanya tentang bermain, belajar, dan tumbuh secara fisik, tapi juga tentang bagaimana seseorang mengalami dan menginternalisasi kasih sayang, keamanan, perlindungan, dan rasa diterima. Di sinilah konsep inner child atau “anak dalam diri” menjadi sangat relevan.
Psikolog Anak di Everwill Clinic Berau, Eka Misniar Dika, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa inner child merujuk pada bagian dalam diri seseorang yang membawa kenangan, emosi, dan luka batin dari masa kecil, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.
"Jadi inner child ini adalah cerminan dari pengalaman masa lalu yang tidak selalu kita sadari, namun terus memengaruhi cara berpikir, merespons, dan menjalin hubungan di usia dewasa," imbuhnya kepada Berau Post, saat ditemui di Everwill Clinic Berau, Jumat (1/8).
Lebih lanjut, Eka mengatakan bahwa banyak orang dewasa sering kali merasa marah berlebihan, sangat takut ditolak, sulit percaya kepada orang lain, atau merasa tidak pantas dicintai.
Perasaan-perasaan ini sering kali tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar dari pengalaman masa kecil yang tertanam dalam bawah sadar.
Bahkan, ia bilang, ketika seseorang merasa telah melupakan kejadian di masa kecil, tubuh dan alam bawah sadarnya tetap menyimpannya dalam bentuk luka psikologis.
Luka inilah yang menciptakan inner child yang terluka, yaitu bagian dari diri kita yang belum mendapatkan ruang untuk dipahami, dipeluk, dan disembuhkan.
Tak hanya itu, Eka menekankan \ keberadaan inner child tidak selalu berarti seseorang memiliki trauma besar.
Bahkan dalam keluarga yang tampak harmonis pun, inner child bisa terbentuk akibat pengalaman kecil yang secara emosional dirasakan dalam oleh seorang anak.
Pasalnya, anak-anak sangat sensitif terhadap perlakuan orang dewasa di sekitarnya.
"Karena anak-anak belum memiliki kapasitas mental untuk memahami situasi tersebut secara logis, mereka menyerapnya apa adanya dan menjadikannya bagian dari keyakinan tentang diri mereka sendiri," jelasnya.
Untuk memahami mengapa inner child bisa terbentuk dan terus hidup dalam diri seseorang hingga dewasa, penting untuk melihat beberapa penyebab utamanya.
Berikut ini adalah beberapa faktor yang paling sering memunculkan inner child menurut Psikolog Anak di Everwill Clinic Berau, Eka Misniar Dika, M.Psi., Psikolog:
1. Pengalaman Emosional yang Tidak Terselesaikan
Salah satu penyebab utama terbentuknya inner child adalah pengalaman emosional yang tidak pernah diselesaikan saat masa kecil.
Anak-anak yang mengalami kesedihan, rasa takut, atau kemarahan namun tidak diberi ruang untuk mengungkapkan dan memproses perasaan tersebut cenderung menyimpannya dalam diri.
"Seiring waktu, emosi yang tertahan ini berkembang menjadi luka batin yang muncul kembali dalam bentuk kecemasan atau perilaku tidak sehat di masa dewasa," jelasnya.
2. Kurangnya Kasih Sayang dan Dukungan Emosional
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak menunjukkan kasih sayang secara konsisten atau tidak mendukung secara emosional, akan merasa tidak dicintai atau tidak cukup berharga.
Perasaan ini membentuk luka pada inner child yang kemudian muncul dalam bentuk perasaan minder, sulit percaya diri, atau selalu merasa perlu membuktikan diri di hadapan orang lain.
"Maka dari itu, kita kalau sedang emosi dengan anak, sebaiknya jangan dibentak, tapi kita atur dulu emosi kita, barus setelah itu menegur anak dengan acara yang lembut dan dapat dipahami oleh anak," tuturnya.
3. Polah Asuh yang Kaku, Keras, atau Tidak Konsisten
Anak-anak sangat dipengaruhi oleh cara orang tua mendidik mereka. Pola asuh yang terlalu otoriter, keras, atau tidak konsisten (kadang terlalu sayang, kadang terlalu dingin) dapat membuat anak bingung dan tidak merasa aman.
Dengan begitu, mereka juga lebih cenderung membentuk persepsi bahwa dunia tidak dapat dipercaya, dan ini tertanam dalam diri mereka hingga dewasa.
4. Tuntutan dan Ekspektasi yang Terlalu Tinggi
Anak-anak yang selalu dituntut untuk menjadi sempurna, berprestasi, atau menjadi anak baik demi menyenangkan orang tua sering kali mengorbankan kebutuhan emosional mereka sendiri.
Hal ini tentunya akan menimbulkan luka batin berupa rasa bahwa mereka hanya layak dicintai jika memenuhi syarat tertentu, bukan karena diri mereka yang sebenarnya.
"Maka menjadi orang tua yang tidak perlu berekspektasi lebih kepada anak, atau jangan memberikan beban yanng tidak sesuai dengan kemampuan anak tersebut. Karena jika anak terlalu di tuntut untuk menjadi sempurna, nantinya dia akan merasa bahwa mereka hanya layak disayangi atau dicintai saat mereka bisa memenuhi ekspektasi kedua orang tuanya," tegasnya.
5. Pelecehan atau Kekerasan Fisik dan Verbal
Pengalaman pelecehan, baik secara fisik maupun verbal, meninggalkan luka paling dalam. Anak yang mengalami kekerasan sering kali membawa perasaan takut, tidak aman, dan tidak berharga sepanjang hidupnya. Trauma ini bisa bersembunyi dalam inner child yang selalu siaga, sensitif, dan mudah merasa terancam.
6. Penelantaran Emosional
Tidak selalu karena kekerasan, inner child juga bisa terbentuk akibat penelantaran emosional.
Anak yang tidak pernah diajak bicara dari hati ke hati, tidak dipeluk, atau tidak diperhatikan saat mengalami kesulitan bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang kesepian dan merasa tidak layak mendapatkan cinta.
"Untuk itu, sebagai orang tua, kita harus bisa mempunyai waktu khusus bersama anak, agar bisa bonding, dan berbicara dari hati ke hati, sehingga anak merasa dicintai secara utuh. Kemudian, jangan lupa untuk terus menanyakan kabar atau perasaan yang sedang anak kita alami," jelasnya.
Dengan begitu, Eka menjelaskan bahwa Inner child bukan sekadar konsep psikologis, tapi kenyataan emosional yang hidup dalam banyak orang.
Ia terbentuk dari berbagai pengalaman masa kecil yang belum sepenuhnya dipahami atau diselesaikan.
Memahami penyebab utama keberadaan inner child membantu seseorang untuk lebih menyadari akar dari luka batin dan pola perilaku yang merugikan.
"Dengan mengenali dan menyembuhkan inner child, seseorang dapat membebaskan diri dari belenggu masa lalu dan mulai membangun kehidupan yang lebih sehat secara emosional. Proses ini memang tidak instan, namun sangat penting untuk pertumbuhan pribadi dan kebahagiaan sejati," pungkasnya.
Editor : Nurismi