Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Sekadar Tren! Ini 6 Alasan Kuat Gen Z Lebih Pilih Childfree

Beraupost • Minggu, 3 Agustus 2025 | 13:20 WIB

Ilustrasi pasangan gen z. (Freepik)
Ilustrasi pasangan gen z. (Freepik)

BERAU POST - Fenomena child free atau keputusan sadar untuk tidak memiliki anak telah menjadi topik hangat di berbagai diskusi publik.

Khususnya di kalangan Generasi Z, mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an.

Keputusan ini bukan hanya sekadar tren sementara, tetapi mencerminkan perubahan paradigma sosial yang lebih dalam mengenai makna kebahagiaan, keluarga, dan masa depan.

Dulu, memiliki anak dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan dewasa yang “lengkap”, bahkan sebagai tolok ukur kesuksesan seseorang.

Namun kini, semakin banyak anak muda, khususnya dari Gen Z, yang secara terbuka menyatakan tidak ingin memiliki keturunan.

Psikolog Klinis dan Founder Integra Well-Being Center Berau, Gardhika Rizky Sudarsono, M.Psi., Psikolog menerangkan fenomena child free ini bukan tanpa sebab.

Melainkan banyak faktor kompleks yang mendorong keputusan ini, mulai dari tekanan ekonomi, kesadaran akan krisis lingkungan, hingga perubahan nilai dan identitas individu dalam masyarakat modern.

"Memang kalau saya lihat, generasi Z, yang tumbuh di tengah percepatan teknologi,  cenderung lebih reflektif dan kritis terhadap keputusan-keputusan besar dalam hidup, termasuk soal memiliki anak. Mereka menyadari bahwa membesarkan anak bukan hanya soal kesiapan fisik dan biologis, tapi juga kesiapan emosional, finansial, bahkan etis," jelas Gardhika saat dihubungi Berau Post, Sabtu (2/8).

Berikut beberapa penyebab utama mengapa Generasi Z lebih memilih hidup child-free menurut Gardhika:

1. Kekhawatiran Ekonomi dan Ketidakpastian Masa Depan

Banyak Gen Z merasa dunia saat ini jauh dari kata stabil. Harga kebutuhan hidup terus meningkat, biaya pendidikan tinggi melambung, serta sulitnya memiliki rumah dan pekerjaan tetap menjadi pertimbangan besar.

Terlebih, Gen-Z bayak yang melihat realita hidup orang tua atau generasi sebelumnya yang harus berjuang keras demi membesarkan anak, dan banyak yang merasa tidak ingin mengulangi siklus tersebut.

"Dalam dunia yang serba tidak pasti, memiliki anak memang bisa terasa seperti beban tambahan yang tidak semua orang sanggup pikul," imbuhnya

2. Kesadaran Lingkungan dan Krisis Iklim

Gen Z adalah generasi yang sangat sadar akan isu lingkungan. Banyak di antara mereka yang merasa membawa anak ke dunia yang sedang menuju krisis iklim dan bencana ekologis besar adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab.

"Jadi beberapa pasien saya yang konsultasi soal child free ini, mereka khawatir anak-anak yang dilahirkan sekarang akan tumbuh di dunia yang lebih panas, penuh bencana alam, dan terbatas sumber daya alamnya. Keputusan untuk tidak memiliki anak dianggap sebagai kontribusi nyata terhadap pengurangan jejak karbon," jelas Gardhika

3. Prioritas pada Kesejahteraan Pribadi dan Kemandirian

Generasi Z cenderung lebih menekankan pentingnya self-care, kesehatan mental, dan kebebasan pribadi.

Banyak diantara mereka yang ingin menjalani hidup dengan penuh makna sesuai pilihan mereka sendiri, tanpa harus terikat oleh norma lama yang mewajibkan pernikahan dan memiliki anak.

"Memang banyak dari mereka yang menilai bahwa kebahagiaan tidak lagi diukur dari status sebagai orang tua, melainkan dari pencapaian diri, pengalaman hidup, dan hubungan yang berkualitas," kata dia.

4. Pandangan Kritis Terhadap Pola Asuh Tradisional

Penyebab paling banyak Gen Z tidak ingin memiliki anak yaitu karena sebagian dari mereka tumbuh dalam keluarga yang penuh tekanan, kekerasan verbal, atau kurang kasih sayang.

Pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan ini membuat mereka meragukan kemampuannya sebagai orang tua atau merasa takut akan mengulangi pola pengasuhan yang sama.

'Keputusan child free mereka ini muncul sebagai bentuk kesadaran dan kehati-hatian agar tidak menciptakan siklus traumatik baru," kata dia

5. Perubahan Nilai Sosial dan Budaya

Seiring berkembangnya zaman, definisi tentang “keluarga” ikut berubah. Bagi Gen Z, memiliki pasangan tanpa anak, hidup sendiri dengan hewan peliharaan, atau membangun komunitas non-keluarga adalah bentuk valid dari kehidupan yang memuaskan.

"Mereka tidak lagi merasa tekanan budaya untuk memenuhi ekspektasi masyarakat soal keluarga ideal. Bahkan di banyak negara, pilihan child free ini semakin diterima dan didukung secara sosial," imbuhnya.

6. Faktor Kesehatan Mental dan Emosional

Beban mental dan emosional yang dialami oleh Gen Z jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya, terutama karena pengaruh media sosial, tekanan prestasi, dan isolasi sosial.

Dalam kondisi seperti ini, banyak yang merasa tidak memiliki kapasitas emosional untuk membesarkan anak.

Dengan begitu, mereka memilih untuk fokus menyembuhkan diri terlebih dahulu sebelum berpikir tentang membentuk keluarga.

Keputusan untuk hidup child free bukan berarti Gen Z membenci anak-anak atau anti terhadap keluarga.

Sebaliknya, keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan yang matang, penuh kesadaran, dan seringkali sangat personal.

Dalam dunia yang berubah dengan cepat dan penuh tantangan, mereka memilih jalur hidup yang menurut mereka paling selaras dengan nilai dan kapasitas diri.

Yang terpenting, pilihan ini mencerminkan keberanian untuk menentukan arah hidup tanpa terikat oleh ekspektasi lama.

Dan di tengah keberagaman pilihan hidup saat ini, hal tersebut patut dihormati. (nad/smi)

 

Editor : Nurismi
#child free #Gen Z