Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Cuma Bikin Wangi, Ini 5 Efek Samping Perawatan Ratus Area Sensitif

Beraupost • Minggu, 3 Agustus 2025 | 10:20 WIB

Ilustrasi perawatan. (Freepik)
Ilustrasi perawatan. (Freepik)

BERAU POST - Beberapa tahun terakhir, praktik perawatan tubuh tradisional kembali populer di tengah masyarakat modern, salah satunya adalah ratus.

Ratus adalah metode perawatan kewanitaan yang berasal dari budaya tradisional Indonesia, terutama Jawa, yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. 

Pada praktiknya, ratus dilakukan dengan cara membakar ramuan herbal tertentu, seperti akar-akaran, bunga-bungaan, dan rempah-rempah, untuk menghasilkan uap yang diarahkan ke area genital perempuan. 

Adapun tujuannya yakni untuk menjaga kebersihan organ intim, menghilangkan bau tidak sedap, meningkatkan kesegaran, hingga dipercaya dapat memberikan efek relaksasi atau bahkan meningkatkan gairah seksual.

Penting untuk menggali informasi lebih dalam tentang apa saja efek samping yang mungkin timbul akibat penggunaan ratus secara rutin maupun sesekali.

Berikut efek samping dari penggunaan ratus dari sisi medis, dermatologis, hingga dampaknya terhadap kesehatan reproduksi perempuan, menurut dr.Herpramanto Sp.OG, Subsp F.E.R: 

1. Risiko Iritasi dan Luka Bakar

Area genital wanita merupakan bagian tubuh yang sangat sensitif. Paparan langsung terhadap uap panas dari pembakaran ratus dapat menyebabkan iritasi kulit, kemerahan, atau bahkan luka bakar ringan hingga sedang. 

“Penggunaan alat yang tidak higienis atau jarak yang terlalu dekat antara sumber uap dan kulit juga bisa meningkatkan risiko kerusakan jaringan kulit di sekitar vagina. Maka dari itu, penggunaan ratus ini cukup 1-2 kali saja dalam sebulan,” kata dia saat dihubungi Berau Post, melalui Zoom.

2. Ketidakseimbangan pH Vagina

Vagina memiliki ekosistem bakteri baik yang menjaga keseimbangan pH dan mencegah infeksi.

Paparan bahan kimia dari uap herbal atau suhu panas yang berlebihan bisa mengganggu keseimbangan ini. 

“Akibatnya, seseorang bisa lebih rentan terhadap infeksi jamur, bakteri, atau bahkan vaginosis bakteri yang ditandai dengan keputihan tidak normal dan bau tak sedap,” jelasnya. 

3. Reaksi Alergi

Efek samping lainnya yakni datang dari reaksi alergi. Beberapa bahan herbal yang digunakan dalam ratus bisa memicu reaksi alergi pada sebagian individu.

Terutama mereka yang memiliki kulit sensitif atau riwayat alergi terhadap bahan tertentu. 

“Reaksi yang mungkin timbul meliputi gatal-gatal, ruam, hingga pembengkakan pada area genital,” kata dia. 

4. Risiko Infeksi Saluran Reproduksi

Jika prosedur ratus tidak dilakukan secara higienis atau dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi, risiko infeksi saluran reproduksi bisa meningkat. 

Uap panas yang masuk ke dalam vagina juga bisa membuka jalan bagi bakteri untuk naik ke saluran atas seperti rahim dan saluran tuba, yang dalam kasus parah bisa menyebabkan penyakit radang panggul atau pelvic inflammatory disease. 

“Tapi kalau tempat ratusnya itu bersih, bahan herbalnya bagus, aman-aman saja digunakan, tapi jangan terlalu sering,” imbuhnya. 

5. Tidak Terbukti Secara Ilmiah

dr.Herpramanto mengakui, memang banyak klaim manfaat dari ratus yang belum diuji secara klinis. 

Meskipun beberapa orang merasa lebih segar setelah melakukannya, efek tersebut bisa jadi hanya bersifat sementara atau sugestif. 

“Tanpa bukti ilmiah yang kuat, penggunaan ratus sebagai metode perawatan rutin sangat berisiko jika tidak dikombinasikan dengan pemahaman medis yang tepat,” pungkasnya. 

Ratus sebagai praktik tradisional memang memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi dalam perawatan kewanitaan.

Namun, penting lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih jenis perawatan tubuh, terutama yang berkaitan dengan kesehatan organ reproduksi. 

Oleh sebab itu, dr.Herpramanto mengatakan bahwa sebelum memutuskan untuk melakukan ratus, sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis atau ginekolog. 

Perawatan tradisional tidak selalu buruk, namun perlu dilakukan dengan pemahaman yang seimbang antara budaya dan ilmu pengetahuan modern agar manfaatnya bisa maksimal tanpa mengorbankan kesehatan. (nad/smi)

Editor : Nurismi
#kewanitaan #perawatan