BERAU POST - Masa kecil adalah fase yang sangat krusial dalam pembentukan karakter, emosi, dan kesehatan mental seseorang.
Pada tahap ini, anak-anak sangat sensitif terhadap lingkungan sekitar, terutama pola asuh orang tua.
Psikolog Anak di Everwill Clinic Berau, Eka Misniar Dika, M.Psi., Psikolog menerangkan, apa yang anak-anak alami, dengar, dan rasakan akan membentuk fondasi psikologis yang bertahan hingga dewasa.
Sayangnya, tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan pengertian.
Beberapa anak jadinya justru terbiasa hidup dalam tekanan, kemarahan, dan hukuman verbal dari orang tua mereka.
"Kalimat-kalimat seperti "Kamu nggak becus!", "Dasar bodoh!", atau "Kenapa sih kamu selalu salah?" sering kali terlontar tanpa disadari, namun dapat menimbulkan luka batin yang mendalam hingga mereka dewasa," jelasnya kepada Berau Post, saat ditemui di Everwill Clinic Berau, Jumat (1/8).
Sebagian orang tua mungkin menganggap, memarahi anak adalah bagian dari proses mendidik.
Namun, jika dilakukan secara terus-menerus, dalam nada tinggi, disertai kata-kata kasar atau merendahkan, maka hal itu bukan lagi menjadi bentuk didikan, melainkan bentuk kekerasan emosional.
Terlebih trauma yang ditinggalkan dari perlakuan tersebut tidak hanya bertahan dalam jangka pendek, tetapi bisa membekas hingga anak tumbuh dewasa dan bahkan menjadi orang tua kelak.
Dalam banyak kasus, anak-anak yang sering dimarahi tanpa alasan yang jelas atau tanpa pendekatan yang bijak berpotensi kehilangan rasa percaya diri, mengalami kecemasan berlebihan, hingga sulit membentuk hubungan interpersonal yang sehat.
Berikut dampak trauma pada Anak yang sering dimarahi menurut Psikolog Anak di Everwill Clinic Berau, Eka Misniar Dika, M.Psi., Psikolog:
1. Menurunnya Harga Diri dan Rasa Percaya Diri
Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh amarah sering merasa bahwa diri mereka selalu salah atau tidak cukup baik.
Hal ini menyebabkan mereka memiliki citra diri yang buruk, meragukan kemampuan sendiri, dan takut mengambil keputusan.
Jadi anak-anak yang semasa kecilnya sering dimarahi, dibentak, ataupun dikasari orang tuanya baik secara verbal ataupun fisik, akan membuat anak tumbuh menjadi manusia yang tidak percaya diri.
"Selalu merasa bersalah, engga enakan terhadap orang lain, hingga takut ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Untuk itu, sebagai orang tua harus bisa lebih mengontrol diri saat sedang emosi kepada anak," jelasnya.
2. Kecenderungan Mengembangkan Gangguan Kecemasan
Sering dimarahi menciptakan rasa takut yang konstan. Dalam jangka panjang, ini dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan seperti overthinking, fobia sosial, atau serangan panik.
"Banyak pasien saya yang mengalami serangan panik, dan overthinking akibat semasa kecilnya selalu dibentak sama orang tuanya. Dan rasa trauma atau luka tersebut cukup susah dihilangkan. Satu-satunya cara yaitu dengan memaafkan," kata dia.
3. Kesulitan dalam Mengelola Emosi
Anak yang tidak pernah diajarkan cara mengelola konflik secara sehat akan kesulitan mengekspresikan emosinya.
Anak yang sulit dalam mengelola emosinya, mereka bisa tumbuh menjadi individu yang meledak-ledak atau justru memendam perasaan terlalu dalam.
4. Relasi yang Tidak Sehat di Masa Dewasa
Luka batin yang tidak terselesaikan membuat seseorang sulit membangun hubungan yang sehat, baik dengan pasangan, teman, maupun rekan kerja.
"Jadi mereka ketika tumbuh menjadi dewasa biasanya akan cenderung curiga, terlalu sensitif terhadap kritik, atau justru terlalu pasrah dalam hubungan yang toksik," jelasnya.
5. Risiko Mengulang Pola yang Sama
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kemarahan bisa jadi meniru pola yang sama saat mereka menjadi orang tua.
Tanpa kesadaran dan pemulihan, siklus kekerasan emosional dapat terus berulang dari generasi ke generasi.
Untuk itu, anak yang memiliki trauma, harus segera diberikan pertolongan, minimal ke psikolog jika belum terkena psikis.
Sedangkan yang sudah terkena mental atau psikis, dianjurkan untuk segera konsultasi ke psikiater.
Dengan begitu, penting bagi setiap orang tua untuk memahami bahwa cara mereka memperlakukan anak hari ini akan membentuk masa depan anak tersebut.
Menurut Eka, memarahi anak boleh saja jika memang ada perilaku yang harus diluruskan, namun harus dilakukan dengan pendekatan yang sehat, penuh empati, dan proporsional.
"Daripada marah-marah, lebih baik orang tua belajar mengenali emosi mereka sendiri dan memahami kebutuhan anak secara lebih mendalam. Ingat, anak yang tumbuh dalam cinta dan penerimaan akan lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup dibandingkan anak yang tumbuh dalam ketakutan dan tekanan," tegasnya.
Jika anak Anda sudah menunjukkan tanda-tanda trauma akibat pola asuh di masa lalu, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog anak.
Pemulihan memang membutuhkan waktu, tetapi dengan pendekatan yang tepat, luka masa kecil bukanlah sesuatu yang tak bisa disembuhkan. (jpg/smi)
Editor : Nurismi