Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Nakal! Ini 6 Alasan Anak Sering Tantrum di Tempat Umum yang Wajib Kamu Pahami

Beraupost • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 11:05 WIB

Ilustrasi anak tantrum. (Freepik)
Ilustrasi anak tantrum. (Freepik)

BERAU POST - Anak yang menangis kencang, berteriak, memukul, atau berguling di tempat umum, kerap menjadi pemandangan yang mengundang perhatian.

Banyak orang tua merasa frustrasi ketika anak mereka menunjukkan perilaku tantrum di tempat umum.

Psikolog Anak di Everwill Clinic Berau, Eka Misniar Dika, M.Psi., Psikolog menerangkan tantrum pada anak terutama balita, sebenarnya adalah bagian dari perkembangan normal.

Menurut dia, anak usia dini juga memang belum memiliki kontrol emosi yang matang dan belum bisa memahami norma sosial secara menyeluruh, termasuk kapan dan di mana perilaku tertentu dianggap tidak pantas.

"Namun, ketika tantrum terjadi secara berulang dan tidak mengenal tempat atau waktu, orang tua perlu lebih waspada dan memahami bahwa ada berbagai faktor penyebab di baliknya, baik dari sisi perkembangan emosi, pengasuhan, hingga kebiasaan lingkungan," jelasnya kepada Berau Post, saat ditemui di Everwill Clinic Berau, Jumat (1/8).

Selain itu, tidak mengenal tempat saat tantrum bukan berarti anak dengan sengaja bersikap tidak sopan atau menantang otoritas.

Dalam banyak kasus, perilaku tersebut merupakan bentuk luapan emosi yang tidak tertahan, yang muncul saat anak merasa tidak nyaman, kewalahan, atau tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Kemudian, kemampuan berpikir logis dan kendali diri anak belum berkembang secara penuh sehingga mereka tidak bisa membedakan antara ruang publik dan ruang pribadi.

Oleh sebab itu, peran orang tua dalam mendampingi dan membimbing emosi anak menjadi sangat penting.

Untuk memahami lebih lanjut, berikut penjelasan lengkap mengenai penyebab anak sering tantrum dan tidak mengenal tempat saat meluapkan emosinya, menurut Psikolog Anak di Everwill Clinic Berau, Eka Misniar Dika, M.Psi., Psikolog:

1. Belum Matangnya Kemampuan Mengatur Emosi

Pada usia dini, otak anak terutama bagian yang mengatur kontrol diri (prefrontal cortex), masih dalam tahap perkembangan.

Dengan begitU, mereka belum memiliki kemampuan untuk menahan dorongan emosi, terutama saat merasa frustrasi, marah, atau kecewa.

"Akibatnya, ledakan emosi bisa terjadi kapan saja, termasuk di tempat umum, karena anak belum mampu mempertimbangkan konteks situasi. Dan saat anak sedang tantrum di tempat umum, sebaiknya seorang ibu, atau orang tua di diamkan saja, biarkan anak itu menangis, dan setelahnya baru memberikan validasi terkait apa yang dirasakan oleh anak tersebut," jelasnya.

2. Tidak Mengenal Norma Sosial

Anak-anak belum memahami konsep malu atau norma sosial seperti orang dewasa. Mereka tidak tahu bahwa menangis keras di mal atau berteriak di tempat ibadah dianggap tidak pantas. Bagi mereka, ketika emosi memuncak, tempat bukanlah hal yang penting.

"Inilah sebabnya mengapa peran edukasi dan pembiasaan dari orang tua sangat krusial dalam membentuk kesadaran situasional anak," kata dia,

3. Lingkungan yang Terlalu Stimulatif

Tempat umum sering kali memiliki banyak rangsangan visual dan suara yang bisa membuat anak kewalahan, seperti suara ramai, lampu terang, antrean panjang, atau keramaian orang.

Overstimulasi ini bisa menyebabkan anak merasa tidak nyaman, kelelahan, dan akhirnya tantrum. Hal ini umum terjadi di tempat seperti supermarket atau pusat hiburan keluarga.

4. Keinginan yang Tidak Tercapai

Tantrum di tempat umum sering kali dipicu karena anak menginginkan sesuatu, diantaranya seperti mainan, makanan, atau perhatian, namun keinginannya tidak dikabulkan.

"Ketika anak tantrum sebaiknya jangan ditanggapi, biarkan mereka menangis hingga merasa lelah, dan setelah itu bisa nasehati mereka bahwa tantrum di tempat umum itu tidak boleh karena mengganggu orang-orang sekitar," ungkap Eka.

5. Kurangnya Persiapan atau Antisipasi dari Orang Tua

Kadang anak tantrum di tempat umum karena mereka sudah terlalu lapar, lelah, atau bosan, tetapi tetap diajak keluar rumah tanpa persiapan.

Anak yang tidak nyaman secara fisik akan lebih mudah meledak emosinya. Oleh karena itu, orang tua perlu memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi sebelum mengajaknya ke tempat umum.

6. Tidak Adanya Latihan Kontrol Diri

Anak perlu dilatih untuk mengenali dan mengelola emosinya. Apabila sejak kecil tidak diajarkan cara menenangkan diri, menunggu giliran, atau mengenal kata "tidak”, maka mereka cenderung meledak saat menghadapi situasi sulit.

"Jadi anak-anak kita ini perlu diajarkan untuk latihan mengkontrol dirinya. Salah satunya yaitu bisa dengan cara teknik meniup balon, yang gunanya agar anak dapat mudah mengatur pernafasannya. Namun, pelatihan ini tidak bisa instan dan perlu dilakukan secara berulang melalui rutinitas dan teladan dari orang tua," tandasnya.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Dengan begitu, Eka menyarankan agar orang tua tidak hanya fokus pada “memadamkan” tantrum, tetapi lebih pada membangun pemahaman emosi dan kedisiplinan yang positif sejak dini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

1. Berikan batasan yang jelas dan konsisten. Anak perlu tahu mana perilaku yang bisa diterima dan mana yang tidak, termasuk di tempat umum.

2. Beri waktu tenang sebelum tantrum terjadi. Amati tanda-tanda anak mulai lelah atau frustrasi, dan beri jeda sejenak agar mereka bisa menenangkan diri.

3. Persiapkan anak sebelum pergi ke tempat umum. Jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta apa yang akan terjadi jika mereka tantrum.

4. Latih anak mengenal emosi. Gunakan bahasa sederhana untuk mengenalkan perasaan seperti marah, kecewa, atau lelah, dan ajarkan cara menghadapinya.

5. Tunjukkan ketenangan saat anak tantrum. Jangan membalas dengan kemarahan, karena itu hanya memperburuk situasi.

Tantrum yang terjadi di tempat umum sering kali bukan karena anak “tidak tahu malu” atau “sengaja cari perhatian”, melainkan karena mereka belum mampu mengatur emosinya sendiri.

Penting bagi orang tua untuk memahami akar dari perilaku ini dan merespons dengan cara yang membangun, bukan menghukum secara spontan.

Dengan pendekatan yang tepat, anak akan belajar bahwa emosi itu boleh, tapi perlu disampaikan dengan cara yang sesuai. (nad/smi)

Editor : Nurismi
#anak tantrum #mengatasi