Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

8 Kebiasaan Sehat Gen Z dan Milenial yang Sering Dikira Malas, Padahal Cerdas Emosional

Beraupost • Jumat, 1 Agustus 2025 | 08:50 WIB
Hal yang Dilakukan Gen Z dan Milenial demi Kesehatan Mental yang Sering Dianggap ‘Malas’ oleh Boomer. (Freepik)
Hal yang Dilakukan Gen Z dan Milenial demi Kesehatan Mental yang Sering Dianggap ‘Malas’ oleh Boomer. (Freepik)

BERAU - Hustle culture dianggap sudah bukan eranya.  Sekarang, yang lebih penting adalah self-care.

Kalau dulu lembur sampai malam dianggap keren, sekarang justru dianggap enggak cerdas. Gen Z dan milenial punya cara pandang berbeda tentang kerja dan hidup.

Tapi di sinilah jebakannya, banyak dari perubahan yang lebih tenang dan reflektif ini masih sering dicap sebagai “kemalasan”.

Kalimat legendaris seperti, “Sekarang tidak ada yang mau kerja keras lagi,” sering muncul hanya karena seseorang berani mengambil cuti kesehatan mental atau menolak lembur. 

Mereka lebih pilih work-life balance daripada gaji besar yang bikin stres. Penasaran apa aja kebiasaan mereka yang bikin beda banget sama generasi sebelumnya? Yuk, simak di sini!

Dilansir dari VegOut, berikut delapan hal yang sering dilakukan generasi muda untuk menjaga kesehatan mental.

1. Mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah

Milenial dan Gen Z semakin ahli berkata “tidak” pada hal-hal yang menguras energi—tanpa permintaan maaf panjang atau alasan yang dibuat-buat. 

Mereka memilih untuk melewatkan acara sosial yang terasa seperti beban, menolak pekerjaan ekstra yang tidak realistis, dan menjaga jarak dari drama keluarga.

Bagi generasi yang tumbuh dengan sopan santun sebagai kewajiban, ini bisa terasa kasar. Tapi sebenarnya ini soal batasan diri dan menghargai energi sendiri.

“Kamu tidak bisa sembuh di lingkungan yang membuatmu sakit,” kata terapis Whitney Goodman. Dan terkadang, penyembuhan dimulai dari satu kata: tidak.

2. Beristirahat sebelum benar-benar kelelahan

Boomer terbiasa baru berhenti saat tubuh memaksa. Sementara generasi muda memilih jeda sebelum titik puncak. Mereka tidur siang, jalan-jalan sebentar, atau mengambil cuti mental health.

Bukan karena malas tapi karena tahu tubuh dan pikiran butuh pemeliharaan, bukan pemaksaan. Seperti kata pakar produktivitas Devon Price, istirahat bukan penghambat produktivitas, tapi justru kuncinya.

3. Mengaktifkan “Jangan Ganggu” sebagai perisai mental

Boomer mungkin melihat mode “Do Not Disturb” di ponsel sebagai tanda kurang sopan. Tapi bagi Gen Z dan milenial, ini adalah bentuk kontrol atas ruang mental.

Menolak panggilan atau pesan sejenak bukan berarti anti-sosial melainkan memberi otak ruang untuk bernapas. Karena kenyataannya, keterhubungan 24/7 adalah resep cepat menuju kecemasan.

4. Keluar dari pekerjaan toksik meskipun belum ada cadangan

Boomer sering mengutamakan loyalitas meskipun pekerjaan terasa menyiksa. Sementara generasi muda? Mereka lebih memilih mundur demi kesehatan mental, bahkan jika belum ada “rencana B”.

Bagi sebagian orang, ini terdengar impulsif. Tapi sebenarnya, ini adalah bentuk kesadaran diri: tahu kapan harus berhenti sebelum tubuh menyerah.

5. Pergi ke terapi, bukan sekadar bertahan

Generasi boomer besar tanpa kosa kata tentang trauma atau kecemasan. Sementara generasi muda? Terapi kini sama umumnya seperti ngopi sore.

Bukan karena mereka lemah. Justru karena mereka ingin belajar mengenal emosi, menyembuhkan luka masa lalu, dan berfungsi lebih sehat dengan bantuan profesional.

6. Memulai pagi dengan lembut, bukan panik

Alih-alih disambut alarm memekakkan telinga dan email kantor, Gen Z dan milenial memilih rutinitas “pagi yang lembut”: menyalakan lilin, menulis jurnal, stretching, atau sekadar duduk diam.

Boomer mungkin menganggapnya sebagai kemewahan. Tapi justru inilah bentuk pengaturan ritme hidup yang sehat. Memulai hari dengan tenang bisa berdampak besar pada energi dan fokus sepanjang hari.

7. Memilih pekerjaan bergaji lebih rendah demi kesehatan mental

Tidak semua orang muda mengejar jabatan tinggi dan gaji besar. Banyak yang lebih memilih pekerjaan dengan waktu kerja manusiawi, manajemen yang suportif, dan cukup waktu pulang sebelum matahari terbenam.

Bagi generasi boomer, keputusan seperti ini mungkin terdengar aneh. Tapi bagi mereka yang sudah melihat dampak stres kronis, memilih damai lebih berharga dari sekadar nominal.

8. Menolak budaya kerja keras dengan suara lantang

Dulu, kesibukan adalah status sosial. Sekarang? Istirahat yang cukup justru jadi simbol kebijaksanaan. Gen Z dan milenial tidak malu-malu mengatakan tidak pada hustle culture.

Mereka bekerja dengan cerdas, bukan sampai tumbang. Dan mereka sadar bahwa kesehatan mental bukanlah harga yang pantas dibayar demi terlihat sibuk.

Seperti yang dikatakan salah satu kreator Gen Z, “Aku tidak hidup sejauh ini hanya untuk membiarkan kapitalisme menghancurkan sistem sarafku.” Blak-blakan? Ya. Tapi juga sangat masuk akal.

Generasi muda bukan malas. Mereka sadar. Mereka belajar mendengar tubuh dan batin. Dan jika itu membuat hidup lebih seimbang, siapa yang benar-benar rugi?

Kalau ingin menyebut mereka sesuatu, sebut saja: cerdas emosional. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#milenial #kerja #generasi z #boomer