BERAU POST - Sakit perut disertai dengan keluhan tinja berdarah yang berlangsung lama, Anda perlu waspada.
Gejala ini bukan hanya sekedar masalah pencernaan ringan, melainkan bisa menjadi tanda awal dari gangguan serius di saluran cerna, seperti infeksi, radang usus, hingga kanker kolorektal.
Darah dalam tinja bisa berasal dari bagian usus manapun, tergantung jenis dan warnanya. Jika darah tampak merah cerah, bisa jadi sumbernya dari rektum atau anus, seperti akibat wasir (hemoroid) atau fisura anus.
Namun jika berwarna gelap atau kehitaman, bisa berasal dari perdarahan di usus halus atau lambung.
Darah dalam tinja disebut sebagai hematochezia (darah merah) atau melena (darah gelap), dan keduanya menandakan kondisi medis yang memerlukan evaluasi segera, dilansir dari laman Mayo Clinic.
Berikut beberapa penyebab umum nyeri perut dan BAB berdarah;
1. Wasir (Hemoroid), Pembuluh darah di anus atau rektum bawah membengkak, sering menyebabkan nyeri dan pendarahan saat buang air besar.
2. Fisura Ani, Luka kecil pada dinding anus akibat konstipasi atau BAB keras. Biasanya disertai rasa nyeri tajam saat BAB.
3. Infeksi saluran cerna, Bakteri seperti e-coli, Salmonella, atau shigella bisa menyebabkan diare berdarah, kram perut, dan mual.
4. Radang Usus (IBD), Penyakit crohn dan kolitis ulseratif adalah dua bentuk IBD yang dapat memicu peradangan kronis, nyeri perut, diare berdarah, dan penurunan berat badan.
5. Polip dan Kanker Usus Besar, Kanker kolorektal bisa muncul tanpa gejala di awal. Tanda awalnya adalah BAB berdarah, perubahan pola BAB, hingga rasa perut tidak nyaman yang menetap.
Anda harus segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti, darah dalam tinja lebih dari satu kali.
Nyeri perut tak kunjung hilang, berat badan turun drastis tanpa sebab, anemia atau lemas berkepanjangan, riwayat keluarga dengan kanker usus.
Jika penyebabnya ringan seperti wasir, pengobatan bisa berupa salep topikal, obat anti nyeri, atau perbaikan pola makan.
Namun untuk kondisi yang lebih serius seperti IBD atau kanker, penanganan bisa mencakup pengobatan imunosupresif, operasi, hingga kemoterapi.
Langkah pencegahan yang bisa dilakukan, konsumsi serat tinggi untuk mencegah konstipasi, perbanyak air putih, hindari mengejan saat BAB, lakukan skrining kanker usus secara rutin jika berusia di atas 45 tahun. (jpg/smi)