BERAU POST - Batik tulis Berau merupakan salah satu kekayaan budaya khas Kalimantan Timur yang memiliki daya tarik tersendiri melalui keunikan motif dan proses pembuatannya.
Dari sekian banyak motif yang berkembang di Kabupaten Berau, terdapat beberapa motif yang dikenal paling rumit dalam proses pembuatannya karena memiliki detail tinggi, filosofi mendalam, serta membutuhkan ketelitian luar biasa dari para pembatik.
Pemilik Toko Mosho Batik Berau sekaligus pengrajin batik, Mochamad Shodik mengatakan, salah satu motif yang paling rumit dalam batik tulis Berau adalah Motif Singa Lela dan Pesut Mahakam, yang sering kali dikombinasikan dalam satu kain batik.
Menurut dia, kombinasi ini tidak hanya menampilkan visual yang rumit, tetapi juga menyimpan makna historis dan filosofis yang kuat.
Berikut alasan dan penjelasan terkait rumitnya motif batik tulis Berau:
1. Motif Singa Lela: Simbol Keberanian dan Kekuasaan
Motif Singa Lela diangkat dari sosok keris pusaka Kesultanan Gunung Tabur yang melegenda di Berau.
Dalam visual batik, Singa Lela digambarkan sebagai makhluk berkepala singa dengan ornamen tubuh yang rumit, mencerminkan kekuatan, kewibawaan, dan semangat perlawanan terhadap penjajah.
Shodik mengatakan, penerapan motif SInga Lela dalam batik tulis membutuhkan ketelitian yang tinggi karena detail kepala dan tubuh singa dihiasi ornamen-ornamen kecil menyerupai ukiran logam. Kemudian, aksen sulur-suluran khas Kalimantan menambah kompleksitas desain.
"Penggunaan warna kontras dan gradasi alami dari pewarna alam membuat proses pewarnaan memerlukan perhitungan yang matang,"kata Shodik saat ditemui Berau Post, di Toko Mosho Batik, Tanjung Redeb.
2. Motif Pesut Mahakam: Harmoni Alam dan Budaya
Pesut Mahakam, mamalia air endemik Kalimantan Timur, juga menjadi motif populer dalam batik Berau. Namun, motif ini menjadi sangat rumit ketika dibuat dalam versi batik tulis.
Shodik menerangkan, hal tersebut lantaran bentuk tubuh pesut harus digambarkan mengalir di antara ombak dan flora sungai yang sangat rinci.
"Biasanya dikombinasikan dengan motif tumbuhan air seperti teratai, eceng gondok, dan akar sungai, menuntut komposisi desain yang seimbang. Jadi dalam pengerjaannya agak rumit dan dibutuhkan effort yang besar. Makannya untuk harga batik tulis ini bisa mencapai Rp 800.000 - Rp 1.000.000," jelasnya.
Tak hanya itu, dia mengatakan bahwa motif batik tulis Pesut Mahakam sangat rumit karena tiap garis dan gradasi pewarnaannya dibuat manual dengan canting, sehingga memerlukan waktu pengerjaan yang lebih lama dibanding motif biasa.
3. Tingkat Kesulitan dalam Proses Batik Tulis Berau
Motif-motif di atas menjadi rumit bukan hanya karena desainnya, tetapi karena teknik pengerjaan batik tulis yang diantaranya memerlukan, ketelitian tinggi dalam mencanting, terutama pada motif dengan banyak lekukan halus dan pola simetris.
Kemudian, adanya proses pewarnaan berulang dengan teknik tutup-buka lilin untuk menghasilkan variasi warna dan kedalaman motif.
"Ditambah harus adanya kesabaran ekstra karena satu lembar kain bisa memakan waktu pengerjaan hingga 2–3 bulan untuk motif rumit seperti Singa Lela atau Pesut Mahakam. Jadi wajar kalau harga batik tulis ini mahal. Paling murahnya itu seharga Rp 500.000 mbak," kata dia.
Makna Filosofis dan Nilai Seni Tinggi
Lebih lanjut, Shodik menuturkan bahwa motif rumit dalam batik tulis Berau bukan hanya soal estetika, tetapi juga mengandung nilai sejarah, identitas budaya lokal, dan pesan pelestarian lingkungan.
Misalnya, Singa Lela yang melambangkan perjuangan rakyat Berau melawan kolonialisme.
Kemudian, Pesut Mahakam mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian sungai dan satwa lokal.
"Dan kombinasi keduanya menciptakan narasi visual tentang hubungan manusia, budaya, dan alam. Jadi memang batik tulis Berau ini cukup rumit untuk dikerjakan, makannya yang pesan batik tulis Berau harus sabar menunggu," tandasnya.
Proses panjang dan kerumitan desain menjadi bukti bahwa batik tulis Berau bukan hanya sekadar kain, melainkan karya seni warisan bangsa yang patut dilestarikan dan dihargai. (jpg/smi)
Editor : Nurismi