BERAU POST - Ada pepatah lama yang mengatakan, 'sebuah apel di pagi hari adalah emas tapi di malam hari, racun.'
Namun, seberapa akurat anggapan ini? Apel, yang kaya akan antioksidan, sering kali menjadi makanan pokok dalam banyak rutinitas sarapan.
Sementara penderita gula darah tinggi atau pradiabetes bertanya-tanya, apakah mereka dapat dengan aman mengkonsumsi buah manis ini.
Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea dan Asosiasi Diabetes Korea, bahkan penderita diabetes dapat mengonsumsi apel dalam batas tertentu.
Buah yang mengandung banyak karbohidrat dan gula ini, dapat meningkatkan kadar glukosa darah jika dikonsumsi berlebihan.
Ukuran porsi yang tepat, bagi seseorang yang mengelola gula darah adalah sekitar sepertiga apel berukuran sedang (100 gram), yang setara dengan satu buah apel berukuran standar.
Sebagai perbandingan, setengah melon atau jeruk (100 gram), sepotong besar semangka (250 gram), seperempat buah pir, sepuluh buah stroberi, atau satu buah tomat besar (350 gram) juga dianggap sebagai satu porsi.
Jika seseorang sudah mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar seperti nasi, roti, atau mie, sebaiknya batasi asupan buah setelahnya.
Beberapa orang memilih untuk minum jus apel atau makan bubur apel di pagi hari. Namun, kebiasaan ini dianggap tidak sehat.
Membuat jus buah mengurangi kandungan serat pangannya, terutama jenis buah yang membantu mengendalikan lonjakan gula darah.
Buah utuh dan sayuran mentah, merupakan pilihan yang lebih baik untuk menjaga indeks glikemik tetap rendah.
Serat pangan merupakan salah satu komponen buah dan sayur yang paling bermanfaat, tidak hanya berkontribusi pada kontrol gula darah, tetapi juga menurunkan kadar trigliserida dan meningkatkan kesehatan kardiovaskular.
Untuk memaksimalkan kandungan seratnya, apel sebaiknya dicuci bersih dan dimakan beserta kulitnya.
Jadi, apakah apel benar-benar 'racun' di malam hari? Jawabannya adalah tidak selalu, tetapi ada peringatannya.
Makan apel sebagai hidangan penutup di larut malam bisa jadi masalah, terutama bagi mereka yang punya masalah pencernaan.
Konsumsi apel dapat merangsang sekresi asam lambung berlebihan di malam hari, yang berpotensi menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu tidur.
Namun, jika makan malam selesai sebelum pukul 20.00, makan dua atau tiga potong kecil apel sebagai hidangan penutup umumnya tidak berbahaya.
Setelah perut agak kenyang, efek negatif dari konsumsi apel berkurang. Sebaliknya, makan apel di pagi hari membantu melancarkan pencernaan dan buang air besar, sehingga membuat Anda merasa lebih segar di awal hari.
Dikutip dari Korea Times, apel kaya akan pektin, sejenis serat larut yang membantu membersihkan usus, membuang kolesterol jahat, dan mencegah kenaikan tekanan darah secara tiba-tiba.
Hal ini berkontribusi pada pengurangan risiko aterosklerosis, yaitu penyempitan arteri.
Apel juga mengandung kalium, yang membantu membuang natrium dari tubuh dan menurunkan tekanan darah, tetapi penderita masalah ginjal perlu berhati-hati.
Senyawa lain seperti asam tartrat dan asam sitrat, membantu mengurangi kelelahan serta meningkatkan kesehatan kulit.
Asam klorogenat, polifenol yang banyak ditemukan pada kulit apel, menawarkan manfaat antioksidan, antikanker, penurun kolesterol, dan pengatur gula darah. Mengkonsumsi kulit apel adalah kunci untuk mendapatkan manfaat kesehatan ini.