BerauPost - Stres bukan sekadar tekanan emosional semata. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini bisa berdampak langsung pada kesehatan fisik, salah satunya menimbulkan rasa sakit di kepala.
Banyak orang mengaku mengalami pusing, kepala tegang, hingga rasa tidak nyaman di leher dan bahu saat sedang tertekan.
Namun, apakah benar stres dapat menyebabkan sakit kepala atau bahkan migrain?
Dilansir dari Healthline, ada sejumlah penjelasan medis mengenai hubungan stres dengan sakit kepala dan migrain.
Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang penyebabnya, gejala yang muncul, perbedaan antara sakit kepala karena stres dan migrain, serta bagaimana cara meredakannya secara alami maupun medis.
Kenapa Stres Bisa Picu Sakit Kepala?
Stres sering kali memicu ketegangan otot, terutama di area leher, bahu, dan kepala. Ketegangan ini bisa terjadi akibat kontraksi otot yang berulang, misalnya karena postur tubuh yang buruk saat bekerja atau kurang tidur.
Akibatnya, tubuh mencoba mengompensasi dengan cara yang justru menambah beban pada area kepala dan leher.
Selain itu, kondisi seperti kecemasan dan depresi juga berperan dalam memunculkan sakit kepala jenis ini. Inilah yang disebut sebagai tension-type headache atau sakit kepala karena stres.
Para ahli menduga bahwa gangguan pada sistem saraf otonom akibat stres kronis turut memperparah kondisi tersebut.
Cedera kepala ringan juga bisa memperbesar risiko terjadinya sakit kepala karena stres, terutama jika tidak ditangani dengan baik.
Jadi, meskipun terlihat sepele, stres bisa jadi penyebab utama rasa sakit yang terasa menekan di kepala Anda.
Cedera kepala ringan juga bisa memperbesar risiko terjadinya sakit kepala karena stres, terutama jika tidak ditangani dengan baik.
Jadi, meskipun terlihat sepele, stres bisa jadi penyebab utama rasa sakit yang terasa menekan di kepala Anda.
Ciri-Ciri Sakit Kepala karena Stres
Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), sakit kepala akibat stres biasanya ditandai dengan rasa nyeri tumpul yang terasa seperti tekanan di kepala.
Rasa sakit ini sering kali menyebar ke bagian pelipis, kulit kepala, bahkan leher bagian belakang.
Beberapa orang juga mengeluhkan rasa kaku di bahu, sulit tidur, dan nyeri yang terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama.
Rasa sakit ini bisa berlangsung selama 30 menit hingga 7 hari, namun rata-rata muncul selama 4–6 jam.
Tidak seperti migrain, sakit kepala karena stres umumnya tidak disertai dengan mual atau muntah.
Jadi, kalau Anda merasa kepala terasa seperti ditekan tanpa disertai gangguan lambung, besar kemungkinan itu adalah gejala dari sakit kepala akibat stres.
Sakit Kepala dan Migrain, Apa Bedanya?
Meski sama-sama dipicu oleh stres, migrain dan sakit kepala jenis tension-type memiliki perbedaan yang signifikan.
Migrain biasanya menimbulkan rasa nyeri yang berdenyut kuat di salah satu sisi kepala, disertai gangguan penglihatan seperti melihat bintang atau mengalami penglihatan terowongan.
Beberapa gejala lain dari migrain termasuk nyeri di belakang mata, mual, muntah, mudah menguap, kesulitan berkonsentrasi, hingga mati rasa dan kesemutan.
Menurut Healthline, stres adalah pemicu migrain yang paling umum dilaporkan oleh pasien, meski belum ada bukti ilmiah yang mengonfirmasi bahwa stres secara langsung menyebabkan migrain.
Perbedaan utamanya terletak pada intensitas dan gejala penyerta. Migrain bisa bertahan antara 4 hingga 72 jam dan sering kali membuat penderitanya harus menghentikan aktivitas sepenuhnya.
Cara Alami Meredakan Sakit Kepala karena Stres
Jika Anda sering mengalami sakit kepala akibat stres, ada beberapa cara alami yang bisa membantu meringankannya.
Menurut National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH), pengobatan seperti akupunktur dan terapi biofeedback bisa menjadi pilihan non-obat yang efektif.
Selain itu, konsumsi suplemen seperti vitamin B kompleks atau magnesium juga dapat membantu meredakan gejala.
Untuk penanganan cepat, obat pereda nyeri yang dijual bebas seperti ibuprofen, parasetamol, atau aspirin bisa digunakan sesuai dosis yang dianjurkan.
Beberapa langkah sederhana lainnya yang bisa Anda coba di rumah antara lain:
- Minum air putih yang cukup
- Menghindari makanan tinggi histamin (misalnya keju tua, daging asap, bir)
- Mengompres kepala dengan air dingin
- Melakukan yoga atau pijat gua sha
- Menghindari aroma menyengat dan zat aditif seperti nitrat
Lokasi Nyeri yang Umum Terjadi
Sakit kepala karena stres biasanya terasa di area kepala, kulit kepala, leher, dan bahu.
Sementara pada migrain yang dipicu oleh stres, rasa nyeri bisa menjalar hingga ke area mata, bahkan belakang kepala.
Mengenali lokasi nyeri ini penting untuk menentukan penanganan yang tepat. Bila nyeri terasa menekan di seluruh kepala dan tidak disertai mual, itu cenderung merupakan sakit kepala karena stres.
Namun, jika nyeri terasa tajam dan berdenyut di satu sisi kepala disertai gangguan pencernaan, Anda mungkin sedang mengalami migrain.
Kapan Harus Waspada?
Meskipun sebagian besar sakit kepala akibat stres bisa ditangani di rumah, ada beberapa kondisi yang perlu diwaspadai.
Jika nyeri muncul secara tiba-tiba dengan intensitas yang sangat tinggi, berlangsung lebih dari 72 jam, atau disertai gangguan neurologis seperti kebingungan dan mati rasa, segera konsultasikan dengan tenaga medis.
Mengetahui penyebab dan gejala secara tepat adalah langkah awal untuk menangani sakit kepala dengan bijak.
Jangan menyepelekan stres, karena jika dibiarkan, dampaknya bisa berlipat—bukan hanya pada pikiran, tetapi juga pada tubuh Anda. (jpg/smi)