BerauPost - Banyak yang mengira bahwa gaya hidup frugal itu sama dengan hidup pelit atau serba irit. Padahal, keduanya punya filosofi dan dampak yang sangat berbeda.
Perbedaan mendasarnya ada di pola pikir. Orang dengan pola pikir frugal living melihat uang sebagai sarana untuk meraih kualitas hidup yang lebih baik.
Mereka mampu membedakan kapan harus berhemat dan kapan harus berinvestasi demi kenyamanan, efisiensi, atau manfaat jangka panjang.
Sementara, mereka yang pelit terjebak dalam pola pikir sempit untuk mengurangi pengeluaran secara membabi buta.
Yang penting hemat, bahkan kalau itu berarti harus mengorbankan kenyamanan, kualitas, atau efisiensi.
Ironisnya, sering kali gaya hidup ini bisa membuat pengeluaran menjadi lebih boros dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, orang dengan gaya hidup frugal akan lebih memilih untuk membeli sepatu kulit asli yang berkualitas dan lebih mahal, namun bisa tetap awet selama 5-10 tahun ke depan.
Sementara itu, orang pelit akan lebih memilih untuk membeli sepatu murah yang mudah rusak, lalu mengeluh tiap kali harus membeli yang baru.
Jadi, apa rahasianya agar bisa hidup secara frugal tanpa mengorbankan kenyamanan atau kualitas hidup?
Menurut Dr. Laily Dwi Arsyianti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ada beberapa strategi menarik yang layak untuk dipelajari.
1. Hindari flexing di media sosial
Menurut dosen Ekonomi Syari’ah IPB tersebut, gaya hidup frugal bukan hanya soal hemat, tapi juga tentang menahan diri dari goaan flexing atau pamer di media sosial
“Rawan terbawa arus gengsi dan budaya konsumtif nantinya”, tambahnya.
Sering kali, keinginan untuk terlihat keren atau sukses di mata orang lain itulah yang akan mendorong kita untuk membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan.
Dengan melepaskan diri dari tekanan pengakuan sosial, kita bisa lebih fokus untuk menata dan memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting bagi hidup.
2. Rawat dan perbaiki, jangan selalu beli baru
Dr. Laily juga menekankan, daripada terus membeli barang baru, lebih bijak untuk memanfaatkan barang-barang yang masih berfungsi dengan baik.
Kebiasaan membuang barang yang masih berfungsi hanya karena alasan “ketinggalan tren” adalah bentuk pemborosan yang tersembunyi.
Barang elektronik, pakaian, atau perabotan yang masih bagus seharusnya bisa digunakan sampai benar-benar tidak layak pakai.
Dengan memaksimalkan umur pakai barang, kita bisa mengurangi pengeluaran tanpa mengorbankan kualitas hidup.
3. Tunda pembelian kecuali benar-benar dibutuhkan
Selain itu, Dr. Laily juga menghimbau untuk menggunakan strategi belanja yang cerdas.
Membeli tanpa berpikir panjang menjadi salah satu penyebab keuangan bocor tanpa disadari. Sebaiknya, tunggulah selama 7 hari sebelum memutuskan membeli.
Hal ini bisa menjadi filter alami untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan semu. Dengan cara ini, kita bisa berpikir lebih jernih sebelum mengeluarkan uang.
4. Buat rencana keuangan yang jelas
Menurut Dr. Laily, keuangan pribadi sebaiknya dibagi jelas ke dalam tiga kategori: rekening harian, rekening tujuan khusus, dan dana darurat.
Kenapa ini penting? Tanpa pembagian tegas, uang akan mudah bocor ke pengeluaran yang sebenarnya tidak prioritas.
Sebagai dosen Ekonomi Syariah, ia juga menambahkan dari perspektif keilmuannya, bahwa berinvestasi sesuai prinsip syariah merupakan langkah bijak untuk memenuhi kebutuhan di masa depan.
“Beberapa opsi yang direkomenadasikan antara lain deposito bulanan (dengan perpanjangan otomatis) dan tabungan berjangka yang sesuai syariah”, tambahnya. (jpg/smi)
Editor : Nurismi