Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Jangan Hakimi, Pahami: Kisah Penyintas PTSD dan Cara Mendukung Mereka

Beraupost • Jumat, 18 April 2025 | 13:35 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami PTSD/freepik
Ilustrasi seseorang yang mengalami PTSD/freepik

BerauPostPTSD atau Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan mental yang dialami seseorang setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan.

Peristiwa ini bisa berasal dari berbagai peristiwa ekstrim seperti korban KDRT, pelecehan seksual, kecelakaan berat, bencana alam, kehilangan orang terdekat, ataupun kejadian yang mengancam nyawa.

Penyintas PTSD sering dibayangi dengan rasa takut, cemas, dan terancam, meskipun saat situasi di sekitarnya terlihat aman. Hal ini terjadi karena kilas balik atau flashback berupa kenangan yang tiba-tiba muncul.

Gejala PTSD muncul dengan mengalami mimpi buruk yang berulang, menutup diri dan menarik dari lingkungan sosial, sulit merasakan emosi (mati rasa), mudah kaget, dan marah tanpa alasan yang jelas.

PTSD sangat menghambat diri untuk berkembang. Gangguan ini bisa menghambat produktivitas dan pertumbuhan pribadi.

Penyintas PTSD sering merasa kewalahan, kesulitan fokus, dan tidak bisa menyelesaikan tugas karena energi yang berkurang.

Mereka akhirnya berisiko tinggi mengalami pengangguran karena sering dianggap tidak cocok untuk memikul beban tanggungjawab di tempat kerja.

Bukan hanya kenangan buruk yang akan didapat bagi penderita PTSD, seseorang yang menderita PTSD lebih rentan terhadap masalah pernikahan.

Mereka bisa merasa sangat lelah karena menghadapi tantangan keuangan, kehilangan teman, atau kehilangan kedekatan secara emosional.

Dampaknya juga bahkan dapat mengganggu kesehatan fisik seperti gangguan pernapasan, disfungsi seksual, dan penyakit jantung. Stres dan hormon dari PTSD bisa menyebabkan peradangan dan kerusakan tubuh.

Sayangnya banyak penyintas PTSD yang mencoba mengobati dirinya dengan cara yang salah. Coping yang tidak sehat untuk lari dari masalah bagi penyintas PTSD seperti rokok berlebihan dan konsumsi terhadap alkohol, justru tidak mengobati mereka dan memperburuk kondisi.

Penting bagi masayrakat untuk lebih memahami PTSD dan tidak langsung memberi label negatif kepada penderita.

Jangan serta merta melabeli mereka sebagai sosok pemalas, namun pahami bahwa mereka juga sedang berjuang melawan sakit yang belum sembuh. Hal tersebut adalah langkah awal untuk membangun empati terhadap seasama.

Mengutip dari laman verywellmind.com berikut penjelasan lengkap mengenai PTSD.

Pemicu PTSD

Orang yang menderita gangguan PTSD bisa mudah kewalahan karena dipicu oleh faktor internal dan eksternal.

Meskipun menghindari pemicu PTSD itu wajar. Namun, terapi terbaik justru belajar menghadapinya.

Gejala PTSD dapat mempengaruhi kesehatan mental, kondisi fisik, pekerjaan, dan hubungan anda. Seseorang penderita PTSD akan merasa terisolasi, kesulitan mempertahankan pekerjaan, tidak mempercayai orang lain, serta kesulitan dalam mengekspresikan emosi.

Dampak PTSD ini bisa mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Anda memerlukan terapi untuk menemukan kembali semangat hidup dan harapan anda tentang kehidupan.

Cara Coping PTSD

Edukasi diri

Penting untuk mencari orang yang dapat memberikan rasa aman dan suportif. Dengan begitu Anda bisa menjelaskan apa yang sedang Anda alami dan meminta bantuan secara lebih jelas.

Menemukan koneksi yang mendukung

Pertemuan dengan komunitas atau forum daring bisa membantu Anda keluar dari isolasi. Akhirnya Anda akan menyadari bahwa diri ini tidak sendiri dan bisa belajar dari pengalaman orang lain untuk mendapatkan pemulihan.

Luangkan waktu bersama orang lain

Orang dengan penyakit PTSD cenderung lebih menarik diri, ketakutan, kemarahan, kebingungan, atau rasa kelelahan yang mengganggu. Menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga bisa meningkatkan suasana hati Anda.

Mindfulness

Stres dan kecemasan tinggi membuat cara mindfulness seperti berdoa, meditasi, atau latihan terhadap kesadaran diri sangat bermanfaat bagi Anda. Tujuan dari mindfulness adalah memberikan tempat bagi diri sendiri untuk hadir tanpa ketakutan akan penilaian.

Olahragas

Menggerakkan tubuh Anda bisa membantu otak untuk mengatur emosi. Tips untuk memulai aktivitas olahraga ini adalah mencari aktivitas fisik yang paling Anda sukai.

Kemudian Anda bisa berolahraga dengan mendengarkan musik agar tidak membosankan. Jangan lupakan untuk mengkonsumsi air yang cukup. Ajaklah teman agar aktivitas olahraga ini menjadi menyenangkan dan lebih konsisten.

Konseling

Berbicara dengan konselor atau terapis bisa membantu Anda untuk mengurangi beban emosional. Temukan terapis yang bisa Anda percaya dan hadir secara konsisten. Tempat terapi adalah ruang paling aman bagi anda untuk memproses semuanya tanpa takut dinilai.

Menulis jurnal

Menulis jurnal bisa membantu anda menyalurkan pikiran dan emosi. Menulis jurnal bisa mengurangi flashback, mimpi buruk, dan kenangan traumatis.

Tempat kerja

Orang dengan PTSD lebih sering sulit untuk berkonsentrasi. Mereka selalu dihantui dengan masalah tidur yang bisa mempengaruhi ketepatan waktu, fokus, dan efisiensi. Mereka juga lebih rentan terhadap pengangguran. Anda bisa mendiskusikan dengan atasan terkait:

Jadwal kerja yang fleksibel

Waktu istirahat saat mengalami kewalahan psikis

Menata ulang ruang kerja. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#kesehatan mental #korban kekerasan #PTSD