Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Di Balik Gerak Sulit: Mengungkap Dunia Anak dengan Gangguan Motorik

Beraupost • Jumat, 18 April 2025 | 12:30 WIB
Orang dengan gangguan motorik umumnya mengalami kesulitan dalam aktivitas gerak, seperti menulis. (freepik)
Orang dengan gangguan motorik umumnya mengalami kesulitan dalam aktivitas gerak, seperti menulis. (freepik)

BerauPost - Bayangkan seorang anak yang kesulitan mengancingkan baju, mengayuh sepeda, atau menulis di buku catatan sekolah. Hal-hal yang bagi banyak anak terasa wajar, bisa jadi tantangan besar bagi mereka yang mengalami gangguan motorik.

Gangguan ini bukan sekadar soal kecerobohan atau malas bergerak, tapi berkaitan langsung dengan cara otak berkomunikasi dengan tubuh.

Anak-anak dengan gangguan motorik mengalami hambatan dalam mengontrol dan mengoordinasikan gerakan, baik yang halus seperti menulis, maupun yang besar seperti berlari. Akibatnya, mereka sering dianggap berbeda oleh lingkungan sekitarnya.

Kesulitan mereka dalam beraktivitas fisik seringkali disalahpahami sebagai kurangnya niat atau motivasi. Padahal, di balik gerakan yang terlihat canggung, ada perjuangan besar yang mungkin tak terlihat mata.

Itulah mengapa penting bagi orang tua, guru, dan masyarakat untuk memahami gangguan motorik ini secara lebih dalam—agar anak-anak yang mengalaminya bisa mendapatkan dukungan, bukan justru tekanan.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diketahui soal gangguan motorik, dikutip dari Lumen Learning.

Jenis-jenis Gangguan Motorik yang Sering Terjadi

Gangguan motorik pada anak dan remaja dapat terbagi dalam beberapa jenis. Salah satu yang cukup umum adalah Developmental Coordination Disorder (DCD) atau gangguan koordinasi perkembangan.

Anak dengan DCD biasanya tampak lebih canggung dibanding teman-teman sebayanya. Mereka sering menjatuhkan barang, kesulitan menjaga keseimbangan saat berjalan atau berlari, dan butuh waktu lebih lama dalam belajar keterampilan motorik seperti menggunting atau menulis.

Ini bukan karena mereka malas belajar, tapi karena koordinasi antara otak dan otot-otot mereka tidak berjalan optimal.

Meski begitu, anak dengan DCD umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang normal, bahkan bisa sangat pintar dalam hal-hal lain seperti berpikir logis atau menyelesaikan soal matematika.

Sayangnya, karena kesulitan fisik mereka terlihat lebih nyata, potensi akademis ini kadang tertutupi oleh stigma bahwa mereka "tidak bisa apa-apa".

Hal ini bisa berdampak pada kepercayaan diri anak, apalagi jika mereka terus-menerus dibandingkan dengan anak lain yang tidak mengalami kondisi serupa.

Jenis gangguan lain yang cukup sering ditemui adalah Tic Disorder, yaitu munculnya gerakan atau suara yang terjadi secara tiba-tiba dan berulang, tanpa bisa dikendalikan. Misalnya, anak sering berkedip dengan cepat, menggelengkan kepala, atau mengeluarkan suara-suara tertentu tanpa alasan.

Jika tic ini berlangsung lebih dari satu tahun dan mencakup kombinasi antara gerakan dan suara, maka bisa jadi anak tersebut mengalami Tourette Syndrome.

Meskipun tics biasanya tidak menimbulkan rasa sakit secara fisik, mereka bisa sangat mengganggu secara sosial. Anak dengan tics bisa menjadi bahan olokan teman, mengalami kesulitan di sekolah, atau bahkan merasa malu dengan dirinya sendiri.

Di sinilah pentingnya pemahaman dan empati dari lingkungan sekitar agar anak bisa tumbuh tanpa merasa dikucilkan.

Penyebab Gangguan Motorik: Bukan Salah Siapa-siapa

Gangguan motorik bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersifat neurologis, genetik, maupun lingkungan. Beberapa anak mungkin sudah membawa kerentanan genetik sejak lahir, sementara yang lain mengalami gangguan ini akibat cedera otak atau komplikasi saat kelahiran.

Sistem saraf pusat yang tidak berkembang optimal juga bisa menjadi penyebab gangguan motorik. Dalam beberapa kasus, gangguan ini muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti ADHD atau autisme.

Penting untuk digarisbawahi bahwa gangguan motorik bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah atau karena anak kurang dilatih. Orang tua sering merasa bersalah karena mengira telah gagal mendidik anaknya.

Padahal, ini adalah kondisi medis yang membutuhkan pemahaman dan penanganan yang tepat. Menyalahkan diri sendiri atau anak hanya akan memperparah kondisi, terutama secara emosional.

Dampak Psikologis dan Sosial: Lebih dari Sekadar Fisik

Gangguan motorik tidak hanya berdampak pada gerakan tubuh anak, tapi juga bisa berpengaruh besar terhadap kondisi psikologis dan sosial mereka. Anak-anak yang mengalami gangguan ini sering kali merasa frustasi karena tidak bisa mengikuti ritme teman-temannya.

Mereka mungkin merasa malu, tidak percaya diri, atau bahkan menarik diri dari pergaulan. Di sekolah, mereka bisa kesulitan mengikuti pelajaran yang membutuhkan keterampilan motorik, seperti olahraga atau menulis.

Hal ini bisa membuat mereka merasa tertinggal dan terasing. Jika lingkungan tidak  mendukung, mereka bisa menjadi korban bullying atau ejekan, yang tentu memperparah tekanan psikologis yang mereka rasakan. Oleh karena itu, pendampingan emosional sangat penting bagi anak-anak dengan gangguan ini.

Penanganan dan Dukungan: Langkah-Langkah yang Bisa Diambil

Kabar baiknya, gangguan motorik bisa ditangani dengan intervensi yang tepat. Terapi okupasi adalah salah satu metode yang banyak digunakan untuk membantu anak melatih keterampilan motorik halus dan kasar.

Dalam terapi ini, anak akan diajak bermain dan beraktivitas yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan tubuhnya. Semakin dini terapi dimulai, biasanya hasilnya akan lebih baik. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#kesehatan #motivasi #gangguan motorik