Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Jangan Anggap Sepele! 4 Tanda Psikologis Depresi yang Sering Terabaikan

Beraupost • Jumat, 21 Maret 2025 | 11:20 WIB
ilustrasi orang yang depresi. (Freepik)
ilustrasi orang yang depresi. (Freepik)

BerauPostDepresi mudah diabaikan atau salah didiagnosis jika tidak ditangani dengan benar karena gangguan suasana hati ini dapat melemahkan seseorang.

Individu yang depresi dapat menjalani kehidupan normal jika mereka mendapatkan bantuan dan penanganan yang tepat.

Depresi muncul dalam berbagai cara dan meskipun ada gejala fisik depresi, ada beberapa tanda psikologis umum yang tidak boleh Anda abaikan.

Menurut konsultan psikiater dari The London Psychiatry Centre Rafael Euba, berikut empat tanda psikologis halus dari orang yang depresi, seperti dilansir Yourtango.

  1. Kehilangan minat

Ketidakmampuan untuk menikmati hal-hal yang dulu Anda sukai, ditambah dengan hilangnya minat pada aktivitas sosial, seperti menghabiskan waktu dengan teman-teman menjadi salah satu tanda utama bahwa Anda menarik diri.

Anda ingin bersemangat dengan hobi kesukaan dan orang-orang terdekat, tetapi Anda tampaknya tidak lagi tertarik atau peduli.

  1. Kelelahan dan sulit tidur

Sadar atau tidak, beban pikiran dan kekhawatiran dapat menyebabkan Anda sulit tidur dan insomnia.

Yang ingin Anda lakukan hanyalah tidur dan melarikan diri dari dunia untuk sementara waktu, tetapi pada saat yang sama, Anda tidak dapat tidur karena semua pikiran di benak.

Sebuah studi menjelaskan bahwa ada hubungan kuat antara kelelahan, kurang tidur, dan depresi.

Kelelahan merupakan gejala yang umum terjadi dan gangguan tidur muncul pada individu dengan depresi, yang berpotensi memengaruhi diagnosis dan pengobatan.

Gangguan tidur dapat memengaruhi sistem stres tubuh, yang berpotensi mengganggu ritme sirkadian dan meningkatkan kerentanan terhadap depresi.

  1. Reaksi mental yang parah

Orang yang mengalami depresi dapat menunjukkan reaksi yang lebih tinggi terhadap interaksi sosial yang positif maupun negatif.

Sebuah studi menyimpulkan bahwa hal ini berpotensi menyebabkan perilaku maladaptif dan isolasi sosial.

  1. Pesimis yang terus-menerus

Meskipun perasaan putus asa, mudah tersinggung, dan sedih merupakan bagian dari pengalaman manusia, Anda perlu menyadari kapan dan berapa lama perasaan itu berlangsung.

Penelitian juga menunjukkan hubungan yang kuat antara pesimisme dan peningkatan risiko depresi.

Selain itu, orang yang pesimis sekaligus mengalami masalah terus-menerus dan penuh tekanan memiliki gejala depresi yang lebih tinggi saat ditindaklanjuti.(jpg/smi)

Editor : Nurismi
#depresi #kesehatan mental #psikologis #psikiater