Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dolar AS Menggila, Pupuk Indonesia Garansi Harga Pupuk Subsidi Tidak Bakal Naik

Nurismi • Kamis, 21 Mei 2026 | 05:15 WIB
Command Center Pupuk Indonesia, Graha Phonska, Jakarta Pusat, Rabu (20/5)/(Dimas Choirul/Jawapos.com)
Command Center Pupuk Indonesia, Graha Phonska, Jakarta Pusat, Rabu (20/5)/(Dimas Choirul/Jawapos.com)

BERAU POST - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian sejumlah industri, termasuk sektor pupuk yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Meski begitu, Pemerintah melalui PT Pupuk Indonesia memastikan harga pupuk subsidi untuk petani tidak akan terdampak langsung oleh kondisi tersebut.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia, Yehezkiel Adiperwira mengatakan, pihaknya saat ini fokus menjaga agar petani tetap mendapatkan pupuk dengan harga sesuai ketentuan pemerintah.

“Fokus kami yaitu memastikan bahwa petani di Indonesia, terutama petani subsidi, itu tidak terdampak atas pelemahan nilai tukar ini. Karena untuk petani subsidi sudah ditetapkan dalam HET (Harga Eceran Tertinggi). Yang kemarin sudah diturunkan 20 persen,” ujarnya dalam acara PI Insight di Command Center Pupuk Indonesia, Graha Phonska, Jakarta Pusat, Rabu (20/5).

Ia menjelaskan, hingga saat ini alokasi pupuk subsidi yang diberikan pemerintah mencapai sekitar 9,84 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3,74 juta ton telah terealisasi dan sisanya masih bisa ditebus oleh petani.

“Sehingga masih ada sekitar 6,1 juta ton yang masih bisa ditebus oleh petani Indonesia yang memang memenuhi syarat untuk menebus pupuk subsidi itu,” katanya.

Di tengah tekanan kurs, perusahaan juga mengaku belum berfokus pada penyesuaian harga, melainkan memperkuat efisiensi operasional dan menjaga pasokan bahan baku impor melalui kontrak jangka panjang.

“Fokus kami adalah melakukan efisiensi dari proses bisnis kami. Jadi, alih-alih untuk kami terkait dengan harga bahan baku yang dari impor, saat ini fokus pertama kami melakukan efisiensi di internal kami,” ucap Yehezkiel.

Menurutnya, langkah pengamanan stok bahan baku sudah dilakukan sehingga kebutuhan produksi pupuk hingga akhir tahun dinilai aman.

“Kemudian yang kedua, terkait dengan bahan baku impor, saat ini stok kami itu kami sudah melakukan long-term contract. Jadi secara tidak langsung harga sudah kami bisa maintain dan kami sudah memiliki stok yang memenuhi untuk memproduksi pupuk sampai dengan akhir tahun ini,” lanjutnya.

Selain pelemahan rupiah, biaya gas disebut menjadi faktor utama dalam struktur produksi pupuk nasional. Yehezkiel menyebut porsi biaya gas mencapai sekitar 70 hingga 80 persen dari total biaya produksi.

“Nah, jadi kalau kita bongkar biaya produksi mayoritas kita itu memang didominasi dari biaya gas, kurang lebih sekitar 70-80 persen,” katanya.

Ia mengatakan kebutuhan gas perusahaan tahun ini sebesar 830 Million Metric British Thermal Units (MMbtu) telah terpenuhi.

Namun, baru sekitar 16 persen yang mendapatkan skema HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu), sementara sisanya masih menggunakan harga formula.

“Padahal diharapkan memang dengan adanya penerapan HGBT di alokasi gas kami, itu bisa membantu harga produksi untuk pupuk, terutama untuk yang non-subsidi ya, itu bisa lebih terjangkau untuk petani yang tadi tidak mendapat alokasi di subsidinya,” tuturnya.

Meski demikian, perusahaan menegaskan saat ini fokus utama tetap pada efisiensi internal sambil menunggu kebijakan terkait gas dari pemerintah dan Kementerian ESDM. 
 

Editor : Nurismi
#dolar amerika #pupuk bersubsidi #Tidak Naik