BERAU POST - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto perihal pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.600 per USD tidak berdampak terhadap orang di desa menuai kritikan.
Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menegaskan bahwa statement Presiden Prabowo salah dan gegabah.
"Saya kira itu statement yang salah dan gegabah. Karena nanti dia (desa) akan mempunyai pengaruh juga terhadap kenaikan dolar tadi itu ya," kata Fahmy, Minggu (17/5).
Fahmy menjelaskan, orang-orang di desa memang tak menggunakan dolar untuk bertransaksi sehari-hari secara langsung.
Namun, ada dampak tidak langsung dari pelemahan rupiah yang banyak tidak disadari masyarakat.
Dia mencontohkan salah satunya adalah kedelai yang selama ini diimpor dari Amerika Serikat (AS) menggunakan dolar.
"Nah, begitu harga rupiahnya jeblok maka harga kedelai itu jadi mahal sekali. Perajin tahu tempe yang ada di desa-desa, dia jadi membeli kedelai dengan harga mahal dan tidak bisa menjual harga tahunya lebih mahal lagi itu. Itu pengaruh juga terhadap orang-orang desa, orang-orang kecil gitu," jelasnya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga berdampak pada impor pupuk. Alhasil, harganya akan naik jika memang pemerintah tak bisa memberikan subsidi. Selanjutnya, harga pupuk yang sampai ke petani akan mahal dan membebani mereka.
"Jadi, apa yang dikatakan oleh Prabowo itu tidak benar, secara langsung maupun tidak langsung tadi. Dan saya khawatir justru ucapan yang sangat gegabah ini justru akan memicu kenaikan. Hari ini saya kira naik lagi menjadi Rp 17.600," ungkapnya.
Bahkan, dirinya tak memungkiri pelemahan rupiah juga memberikan pengaruh langsung, tak hanya untuk masyarakat di perkotaan, tetapi juda perdesaan. Salah satunya ongkos haji yang akan menjadi lebih mahal.
"Untuk ongkos haji memang harus beli dolar jadi lebih mahal juga gitu ya. Itu pengaruh langsung tadi yang memang digunakan," tutupnya.
Editor : Nurismi