Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Rupiah Terkapar di Level Rp 17.382 per Dolar AS, Konflik AS-Iran dan Beban Utang Negara Jadi Pemicu Utama

Nurismi • Sabtu, 9 Mei 2026 | 05:45 WIB
Rupiah melemah lagi terhadap Dolar AS. (Dok JawaPos.com)
Rupiah melemah lagi terhadap Dolar AS. (Dok JawaPos.com)

BERAU POST - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah 49 point di level Rp 17.382 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/5). Sebelumnya, mata uang Garuda melemah 60 point di level Rp 17.359 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan pelemahan mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen global dan domestik.

Mulai dari memanasnya kembali konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga kekhawatiran pasar terhadap posisi utang pemerintah Indonesia yang terus meningkat.

Adapun pasar global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik setelah pertempuran antara AS dan Iran kembali pecah meski Presiden AS Donald Trump mengklaim gencatan senjata tetap berlaku.

Menurut Ibrahim, sempat muncul harapan bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan damai yang bisa membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Jalur strategis tersebut merupakan lintasan utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

“Namun konflik kembali memanas setelah Iran menuding AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Jumat (8/5).
 
Ia menjelaskan, ketegangan di kawasan Timur Tengah membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Apalagi, Selat Hormuz menjadi jalur vital perdagangan energi dunia sehingga setiap eskalasi konflik langsung memicu kekhawatiran pasar global.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang masih bernada hawkish.

Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack menyebut suku bunga kemungkinan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, Presiden The Fed San Francisco Mary Daly menegaskan komitmennya membawa inflasi kembali ke target 2 persen. Di sisi lain, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menyebut inflasi AS masih terlalu tinggi.

Menurut dia, pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa pemangkasan suku bunga AS belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Pasar juga menunggu rilis data ketenagakerjaan AS malam ini. Jika hasilnya lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpotensi kembali menguat,” beber Ibrahim.

Dari dalam negeri, lanjut dia, sentimen negatif datang dari posisi utang pemerintah yang hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut naik hampir 3 persen dibanding posisi Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun.

Selain itu, defisit APBN kuartal I-2026 telah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Sementara realisasi pembiayaan utang mencapai Rp258,7 triliun.

Menurut Ibrahim, meski rasio utang Indonesia masih di bawah batas aman internasional sebesar 60 persen terhadap PDB, pasar tetap mencermati kemampuan pemerintah menjaga penerimaan negara dan pembayaran bunga utang.

“Lembaga pemeringkat juga mulai menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara. Ini menjadi perhatian pasar,” pungkasnya.

Editor : Nurismi
#amerika serikat #pasokan energi #nilai tukar #rupiah