BERAU POST - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) untuk menjadi pengganti LPG 3kg dapat menghemat subsidi hingga 30 persen.
"Dengan konten yang sama, dengan harga yang sama dengan LPG 3kg, kita bisa menghemat 30 persen. Subsidinya lebih rendah (CNG) daripada subsidi LPG," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman, dikutip dari Antara Kamis (7/5).
Lebih lanjut, Laode menjelaskan bahwa LPG membutuhkan anggaran yang lebih banyak, sebab LPG tak hanya membutuhkan subsidi, tetapi juga harus diimpor dari luar negeri.
“Jadi, ada dua beban sebenarnya dari LPG. Sudah subsidi, dia impor. Ini ada devisa juga kita keluarkan,” ucapnya.
Sementara itu, untuk CNG, Laode menyampaikan Indonesia sudah menghasilkan gas bumi sendiri yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri.
Dengan demikian, setelah melalui proses perhitungan, Laode meyakini Indonesia bisa menghemat 20–30 persen subsidinya apabila beralih dari LPG ke CNG.
Hitungan tersebut, lanjut Laode, masih bisa disimulasikan lebih jauh sebab masih merupakan hitungan awal.
"Artinya, ini kenapa tidak kita manfaatkan? Gasnya juga dari kita sendiri, sehingga kita tidak perlu beli dari luar," ujar Laode.
Usai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa CNG bukan teknologi baru karena telah digunakan di sektor perhotelan, restoran, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, pemanfaatannya selama ini masih terbatas pada tabung berkapasitas besar di atas 10 hingga 20 kilogram. Saat ini, tengah berlangsung penyiapan tabung CNG berukuran kecil seperti LPG 3 kg, sebab CNG memiliki karakteristik yang berbeda apabila dibandingkan dengan LPG.
CNG memiliki tekanan sekitar 250 bar, lebih kuat apabila dibandingkan dengan LPG yang tekanannya berada di kisaran 5–10 bar.
Perbedaan tekanan gas tersebutlah yang menyebabkan desain tabung gas 3 kg harus disesuaikan, sebab berdampak langsung terhadap faktor keselamatan. Uji coba tabung CNG berukuran kecil tersebut membutuhkan waktu kurang lebih 2–3 bulan.
Ia menambahkan, apabila hasil uji coba dinyatakan layak, pemerintah membuka peluang konversi bertahap dari LPG ke CNG untuk kebutuhan rumah tangga.
Menurut Bahlil, CNG memiliki keunggulan karena seluruh bahan bakunya tersedia di dalam negeri, termasuk sumber gas alam yang melimpah.
Selain itu, pemerintah juga menemukan cadangan gas baru di Kalimantan Timur yang berpotensi dialokasikan untuk kebutuhan domestik.
Terkait skema subsidi, lanjut dia, pemerintah masih melakukan kajian menyeluruh. Opsi pemberian subsidi tetap terbuka, namun mekanisme dan volumenya masih dalam pembahasan.
Editor : Nurismi