BERAU POST - Rencana pengembangan 13 sumur minyak dan gas (migas) baru di kawasan transmigrasi Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, diproyeksi membawa nilai ekonomi hingga triliunan rupiah.
Proyek ini menjadi bagian dari pemanfaatan potensi energi di kawasan transmigrasi yang kini mulai dilirik sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memastikan bahwa pengembangan 13 sumur ini merupakan proyek baru di luar 79 sumur-sumur yang telah lebih dulu dieksplorasi.
Adapun potensi cadangan dari sumur tersebut diperkirakan mencapai 1 juta barel minyak dan 11,64 miliar kaki kubik gas. Pengelolaannya akan dilakukan oleh Pertamina melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan transmigrasi.
"Untuk potensi gasnya itu 11,64 miliar kaki kubik. Untuk minyaknya 1 juta barel," kata Djoko di Kantor Kementerian Transmigrasi (Kementrans), Senin (4/5).
Nilai ekonomi dari pengembangan sumur-sumur tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp2,5 triliun. Angka ini berasal dari kombinasi potensi cadangan minyak dan gas yang akan dikembangkan.
"Jadi secara total akan menghasilkan revenue pada kita ya, itu sekitar Rp2,5 triliun," kata Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia Sunaryant.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanegara menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari transformasi pendekatan pembangunan kawasan transmigrasi.
Ia menyebut, potensi ekonomi seperti migas menjadi “gula” yang akan menarik investasi dan menciptakan pusat pertumbuhan baru.
“Dari total 79 sumur yang telah dilakukan eksplorasi, kami mendapat informasi dari Kepala SKK Migas ada ditemukan potensi 13 sumur baru minyak dan gas yang berada di kawasan transmigrasi Samboja,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran sumur migas tersebut tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga membuka peluang efek berganda bagi masyarakat sekitar, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga tumbuhnya usaha kecil.
Proyek ini dijadwalkan mulai memasuki tahap pengeboran dalam waktu dekat, sekaligus menjadi langkah awal optimalisasi aset lahan transmigrasi untuk sektor energi.
"Jadi kami dari Transmigrasi sekarang itu betul-betul fokus adalah bagaimana menciptakan pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi yang baru, sehingga masyarakat yang pindah ke lokasi tersebut itu bisa betah karena ada pekerjaannya, ada sesuatu yang dikerjakan, ada produktivitasnya," tukasnya.
Editor : Nurismi