Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Cuma Perang Iran, Lonjakan Harga Minyak Goreng Ternyata Dipicu Meroketnya Harga Kemasan Plastik!

Nurismi • Senin, 27 April 2026 | 05:10 WIB
Ilustrasi minyak goreng. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Ilustrasi minyak goreng. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

BERAU POST - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menilai kenaikan harga minya goreng tidak hanya dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia akibat perang di Iran.

Menurutnya, kenaikan harga plastik juga turut menyumbang lonjakan harga. Tungkot mengatakan, penutupan Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah mengakibatkan pasokan bahan baku terganggu. Akibatnya kenaikan harga produk turunan energi fosil seperti plastik tak bisa dihindari. 

"Harga energi fosil dunia meningkat dari sekitar USD 60 per barel sebelum perang menjadi lebih dari USD 110 per barel. Akibatnya, semua produk turunan dari energi fosil seperti plastik mengalami kenaikan," kata Tungkot di Jakarta, Sabtu (25/4).
 
Kondisi ini memiliki dampak langsung kepada masyarakat. Terlebih Indonesia menjadi salah satu negara konsumsi minyak goreng tertinggi di dunia.
 
Tungkot menjelaskan, ada tiga jenis minyak goreng sawit yang dikonsumsi oleh masyarakat di dalam negeri, yakni minyak goreng sawit (MGS) kemasan premium dengan berbagai merek, MGS MinyaKita dengan segmen masyarakat berpendapatan rendah dan UMKM, serta MGS curah untuk industri pangan.
 
Dari ketiga jenis minyak goreng sawit tersebut, pemerintah bisa mengendalikan harga dan ketersediaan MGS MinyaKita. Sedangkan MGS premium dan curah dikendalikan oleh pasar.

"Harga dan ketersediaan MGS MinyaKita ini dikendalikan pemerintah melalui kebijakan DMO (domestic market obligation), pengendalian penyaluran (D1, D2), dan HET (harga eceran tertinggi)," imbuhnya.
 
Sejauh ini kenaikan harga terlihat pada kategori Dalam periode Januari 2026-minggu ke-3 April 2026, harga MGS premium naik dari Rp 21.166 per liter menjadi Rp 21.793 per liter. Kemudian harga MGS curah naik dari Rp 17.790 per liter menjadi Rp 19.486 per liter.

"Hal yang menarik, harga MGS Minyakita pada periode yang sama justru turun dari Rp 16.865 menjadi Rp 15.949 per liter, mendekati HET Rp 15.700 per liter," jelasnya.

Penurunan harga MGS MinyaKita dinilai imbas dari kebijakan DMO yang dilakukan oleh pemerintah. Kebijakan ini efektif dalam menjaga pasokan MGS untuk memenuhi HET.
 
"Namun apakah harga MGS MinyaKita dapat dipertahankan ke depan dengan kenaikan harga kemasan plastik? Ini tergantung pemerintah apakah akan akomodatif dengan perubahan harga kemasan dalam HET," pungkasnya.

Editor : Nurismi
#kenaikan harga #MinyaKita