Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Lampaui Jepang dan Singapura, Ini Alasan JPMorgan Sebut Indonesia Kebal Terhadap Gejolak Harga Minyak Dunia

Nurismi • Jumat, 24 April 2026 | 05:40 WIB
ILUSTRASI: Masyarakat membeli BBM untuk kebutuhan kendaraannya. (Humas Pertamina Patra Niaga)
ILUSTRASI: Masyarakat membeli BBM untuk kebutuhan kendaraannya. (Humas Pertamina Patra Niaga)

BERAU POST - Indonesia disebut sebagai negara yang tangguh menghadapi guncangan harga energi global.

Penilaian itu dikemukakan oleh JPMorgan, perusahaan jasa keuangan dan bank investasi multinasional terbesar di Amerika Serikat (AS).

JPMorgan dalam laporannya bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada 21 Maret 2026. Laporan itu ditulis Michael Cembalest.

Dia menganalisis 52 negara dengan konsumsi energi final terbesar, yang secara kolektif mewakili 82 persen konsumsi energi global.

Dalam indikator Total Protection Factor yang mengukur seberapa besar porsi energi suatu negara terlindungi dari fluktuasi harga minyak dan gas internasional, Indonesia menempati posisi kedua dunia. Posisi itu berada di bawah Afrika Selatan.
 
“Ketika faktor ketergantungan impor energi yang rendah dikombinasikan dengan tingkat ketahanan energi yang tinggi, posisi Indonesia tetap impresif di peringkat ketiga global,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Michael Cembalest melihat kekuatan utama Indonesia terletak pada fondasi energi domestiknya. Sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia dan produsen gas alam terbesar ke-13 secara global, ia melihat Indonesia memiliki kapasitas produksi yang signifikan, mencapai sekitar 2.465 miliar meter kubik pada tahun 2024.
 
“Selain itu, keberagaman bauran energi nasional, yang mencakup tenaga air, panas bumi, dan biodiesel, membuat sistem energi Indonesia lebih tahan terhadap gejolak pada satu komoditas tertentu,” tulisnya.

Lebih jauh JPMorgan mencatat, Insulation Factor Indonesia mencapai 77 persen salah satu yang tertinggi di dunia.

Angka ini mencerminkan kemampuan Indonesia dalam memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya dari sumber domestik.

Kondisi ini sangat kontras dengan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi.

Meski demikian, JPMorgan menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi Indonesia. Produksi minyak domestik yang terus menurun di tengah peningkatan konsumsi, ketergantungan pada pembayaran impor energi dalam dolar AS, serta potensi lonjakan subsidi energi jika harga global tetap tinggi menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi.
 
Dalam laporan tersebut, JPMorgan juga mengidentifikasi sejumlah negara yang paling rentan terhadap guncangan energi global, di antaranya Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, dan Belanda.
Ketahanan yang Kuat

Praktisi energi dan infrastruktur Tommy Jamail Jr. mengatakan, sistem energi Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk menghadapi dinamika global, termasuk potensi gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik.

Menurut dia, dinamika geopolitik memang dapat memengaruhi pasar energi global, namun hal tersebut tidak serta-merta berdampak langsung terhadap ketersediaan BBM di dalam negeri.

“Secara sistem, infrastruktur energi Indonesia telah dirancang untuk menghadapi berbagai dinamika eksternal. Distribusi dan pengelolaan pasokan BBM dilakukan dengan perencanaan yang matang sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan energi,” kata Tommy, belum lama ini.

Tommy menjelaskan tantangan utama sektor energi Indonesia justru lebih banyak berkaitan dengan faktor geografis dan distribusi.

“Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, sistem logistik energi nasional dirancang untuk memastikan pasokan tetap terjaga di berbagai wilayah,” ujarnya.

Selain itu, Indonesia juga memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi volatilitas harga minyak global. Sejumlah krisis energi dunia dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa sistem energi nasional mampu beradaptasi dengan berbagai tekanan eksternal.

Empat krisis global yang dicatat Tommy adalah krisis minyak pada tahun 1973, yaitu embargo minyak yang diprakarsai Arab Saudi terhadap negara-negara yang mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur.

Kemudian krisis ekonomi 2008 yang turut berdampak pada pasokan minyak. Lalu krisis akibat konflik Rusia dan Ukraina pada 2022, serta teranyar krisis Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan AS.

“Sejarah Indonesia sudah sangat panjang dalam menghadapi krisis. Saya yakin kita bisa menghadapi itu dengan baik,” kata Tommy.

Editor : Nurismi
#Gejolak global #JPMorgan #ketahanan energi #harga minyak dunia