Minyakita Mulai Turun! Bapanas Klaim Harga Kini Mendekati HET Usai Sempat Tembus Rp17 Ribu

Nurismi • Dipublikasikan Selasa, 21 April 2026 | 05:15 WIB
Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa (Nurul Fitriana/JawaPos.com)

BERAU POST - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim bahwa harga Minyakita sudah turun mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET) di sejumlah daerah.

Berdasarkan catatan Bapanas, harga minyakita pasca bulan Ramadhan terhitung selama periode 21 Maret - 18 April 2026 tercatat sudah turun mendekati HET menjadi sebesar Rp 16.824 per liter, dari sebelumnya mencapai Rp 16.866 per liter.

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menegaskan, saat ini harga Minyakita justru sudah mulai turun. Dari selisih antara HET dan harga jual sebesar 7,43 persen menjadi 7,16 persen.

"Sebenarnya bukan naik, sudah mulai turun kalau Minyakita ya. Dari Rp 17 ribu ke Rp 16 ribu,” ujar Ketut saat ditemui usai Media Briefing di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat, Senin (20/4).
 
Ketut menyebut, sebelumnya harga Minyakita sempat berada di kisaran Rp 17 ribu per liter. Namun kini rata-rata sudah turun menjadi sekitar Rp 16 ribu per liter.
 
Bahkan, kata dia, di beberapa wilayah, harga sudah kembali sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Menurut dia, salah satu faktor yang sempat mendorong kenaikan harga ialah penyerapan Domestic Market Obligation (DMO) yang saat ini lebih banyak dialokasikan untuk bantuan pangan.

"Tentu memang sekarang ini kan serapan DMO itu dominan ke bantuan pangan," jelasnya,

Selain itu, kata Ketut, rantai distribusi yang terlalu panjang juga membuat harga di tingkat konsumen menjadi lebih mahal. Ketut menjelaskan, idealnya distribusi dilakukan langsung dari produsen ke pengecer.

Namun yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya perantara tambahan atau jalur pemasaran di luar skema utama, sehingga harga jual menjadi lebih tinggi.

“Biasanya di lapangan yang kami lihat ada semacam marketing-marketing yang lepas ini. Nah ini yang agak sulit kita tertibkan, ini yang sedikit membuat harga lebih tinggi,” jelasnya.

Bapanas pun mengaku terus memperketat pengawasan distribusi dan harga di pasar. Langkah itu dinilai efektif menekan harga Minyakita agar kembali stabil dan sesuai ketentuan pemerint
 
Ke depan, Bapanas juga mengusulkan agar Perum Bulog maupun ID Food memperoleh alokasi 60 persen DMO. Dengan begitu, pengawasan distribusi dan stabilisasi harga dinilai akan lebih mudah dilakukan.

"Kalau nanti usulan kita bahwa Bulog maupun ID Food memperoleh 60 persen DMO, itu akan lebih mudah kita melakukan pemantauan. Tentu sebenarnya jaringnya kepanjangan, biasanya kalau menyebabkan terlalu tinggi dari produsen kemudian D1, D2, harusnya kan langsung ke pengecer," bebernya.

"Biasanya di lapangan yang kami lihat ada semacam marketing-marketing yang lepas ini. Nah ini yang agak sulit kita tertibkan, ini yang agak sedikit membuat harga lebih tinggi," pungkas Ketut.

Editor : Nurismi
penurunan harga Bapanas MinyaKita