Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Simulasi ReforMiner: Jika Harga BBM Naik Rp1.000, Negara Hemat Rp47 Triliun Tapi Inflasi Bakal Terkerek

Nurismi • Selasa, 14 April 2026 | 06:50 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. Harga minyak mentah acuan Brent naik 8 persen pada Minggu (12/4) ke level USD 103 per barel. (Freepik)
Ilustrasi Selat Hormuz. Harga minyak mentah acuan Brent naik 8 persen pada Minggu (12/4) ke level USD 103 per barel. (Freepik)

BERAU POST - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun.

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers mengenai kebijakan harga BBM bersubsidi dan transportasi udara di Jakarta, Senin (6/4).

Menurut, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, keputusan pemerintah menahan kenaikan harga BBM cukup populis di tengah naiknya harga crude imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Asumsi harga minyak dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel. Namun saat ini, harga minyak berada pada rentang USD 100-115 per barel.

Bahkan Al Jazeera melaporkan, pada Minggu (12/4) kemarin, harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional, sudah naik di atas 8 persen menyentuh level USD 103 per barel, usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Iran.
 
ReforMiner Institute telah menyusun simulasi 5 skenario kenaikan harga BBM serta dampaknya terhadap fiskal APBN dan makro ekonomi (inflasi serta pertumbuhan ekonomi).

"Secara keseluruhan, manfaat fiskal yang dihasilkan bersifat signifikan dan langsung, sementara dampak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi relatif terbatas namun tetap perlu dikelola," jelas Komaidi dalam laporan diskusi beberapa waktu lalu.

Kenaikan harga BBM secara langsung memangkas beban subsidi dan kompensasi ratusan triliun rupiah. Defisit anggaran menyempit dan laju penambahan utang negara dapat ditekan secara signifikan.

Jika harga BBM dinaikkan Rp 500 per liter, maka penghematan subsidi dan kompensasi Rp 23,95 triliun. Harga BBM dinaikkan Rp 1.000 per liter, besaran penghematannya Rp 47,91 triliun.
 
Jika harga BBM dinaikkan Rp 1.500 per liter, maka penghematan subsidi dan kompensasi Rp 71,86 triliun. Harga BBM dinaikkan Rp 2.000 per liter, dapat penghemat Rp 95,81 triliun. Dan, harga BBM dinaikkan Rp 2.500 per liter, penghematannya Rp 119,77 triliun.

Namun di sisi lain, kebijakan kenaikan harga BBM memicu lonjakan inflasi, terutama memukul sektor transportasi darat dan logistik. Selain itu, menggerus daya beli dan menciptakan pengereman pada laju pertumbuhan PDB nasional.

Lantas seberapa besar dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi?

"Kenaikan harga BBM memberikan trade-off yang jelas antara perbaikan fiskal dan tekanan makroekonomi," pungkas Komaidi.
 

Editor : Nurismi
#bbm #simulasi #harga minyak dunia