Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Defisit APBN Tembus Rp 240 Triliun, Menkeu Purbaya: Sengaja Kita Percepat Belanja Sejak Awal Tahun!

Nurismi • Rabu, 8 April 2026 | 05:30 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi keterangan ketika ditemui di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Rabu (1/4/2026). (ANTARA)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberi keterangan ketika ditemui di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Rabu (1/4/2026). (ANTARA)

BERAU POST - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait membengkaknya defisit anggaran di awal tahun 2026.

Ia menegaskan, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari strategi pemerintah yang mempercepat realisasi belanja negara sejak awal tahun.

Menurut Purbaya, langkah ini sengaja ditempuh untuk menghindari pola lama, di mana belanja pemerintah cenderung menumpuk di akhir tahun. Pola tersebut dinilai kurang optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
 
“Defisit yang membesar di awal tahun itu karena kita percepat belanja pemerintah. Saya ingin menciptakan kondisi di mana belanja itu lebih merata sepanjang tahun, tidak seperti sebelumnya yang menumpuk di akhir tahun sehingga dampak ekonominya tidak maksimal,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (6/4).
 
Ia menjelaskan, percepatan belanja ini membuat defisit tampak lebih besar di awal tahun, namun hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari kebijakan fiskal yang diambil pemerintah.

Lebih lanjut, Purbaya menyoroti bahwa hampir seluruh kementerian dan lembaga mengalami peningkatan belanja yang relatif merata.

Namun, ada satu pos yang paling menonjol, yakni belanja dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang memiliki porsi anggaran cukup besar.

“Jadi defisit yang besar itu adalah konsekuensi logis dari kebijakan kita. Yang mana yang paling besar, Anda tahu ada berapa sebetulnya, hampir merata. Tapi yang menonjol ya BGN lah, karena memang anggarannya besar,” tegasnya.
 
Meski demikian, pemerintah memastikan kualitas belanja tetap menjadi perhatian utama.

Purbaya menegaskan akan terus melakukan pemantauan ketat terhadap penggunaan anggaran oleh kementerian dan lembaga.

Ia bahkan tidak segan memberikan peringatan hingga menghentikan pembayaran jika ditemukan belanja yang tidak tepat sasaran.

“Kita akan monitor terus dari waktu ke waktu. Jadi saya akan lihat kalau belanjanya yang ngawur-ngawuran, kan pasti ada tuh. Nanti kita kasih peringatan ke kementerian/lembaga terkait dan kalau akan diteruskan kita bisa kasih peringatan bahwa yang ini gak akan saya bayar. Saya bisa begitu rupanya,” tukasnya.
 
Untuk diketahui, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat defisit sebesar Rp 240,1 triliun hingga 31 Maret 2026. Defisit itu setara dengan 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
 
Purbaya membeberkan bahwa sepanjang Kuartal I-2026, pendapatan negara terkumpul Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan (yoy).

Di sisi lain, belanja negara sudah terealisasi Rp 815 triliun atau melonjak 31,4 persen yoy.

Belanja pemerintah pusat menjadi kontributor utama dengan nilai Rp 610,3 triliun atau naik 47,7 persen.
Adapun transfer ke daerah tercatat Rp 204,8 triliun atau sedikit terkoreksi 1,1 persen.
 

Editor : Nurismi
#defisit anggaran #menteri keuangan #belanja negara