BERAU POST - Pasar saham Indonesia dibuka zona merah di level 7.374 pada perdagangan Senin (9/3).
Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan tetap membara di level 7.334, turun 3,31 persen atau 250,9 poin, pada pukul 11.19 WIB menjelang penutupan pasar sesi pertama.
Mengutip data RTI Business, pada perdagangan awal sesi ini ada sebanyak 7.955 saham tercatat menguat, 728 saham melemah, dan 33 saham tidak mengalami pergerakan alias stagnan.
Sementara itu, volume transaksi di perdagangan tercatat 28.145 saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 12.772 triliun. Adapun frekuensi transaksi tercatat 1.456.007 kali.
Di sisi lain, pada perdagangan awal pekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah tercatat turun 76 poin atau 0,45 persen menjadi Rp 17.001 per dolar AS.
Merespons hal itu, Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa pelemahan rupiah dan IHSG disebabkan oleh sejumlah faktor eksternal dan internal.
Salah satunya, dipicu oleh terpilihnya pemimpin baru Iran pengganti Ayatollah Ali Khamenei, yakni Mojtaba Khamenei.
"Jadi ini sudah ada pergantian kepemimpinan di Iran, yang kita lihat bahwa pemimpin yang baru ini pun juga adalah pemimpin yang fundamentalis Islam," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (9/3).
Sehingga, kata dia, kemungkinan besar dalam 6 bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan.
Bahkan Presiden AS Donald Trump mengatakan akan memusnahkan dan mengganti rezim yang ada di Iran.
Ini yang membuat ketegangan di Timur Tengah melonjak tinggi berakibat terhadap penutupan Selat Hormuz.
Di sisi lain, di Selat Hormuz terdapa sejumlah kilang-kilang milik negara lain. Terdiri dari Uni Emirat Arab, kemudian Irak, Arab Saudi dan lain-lain.
Imbas terganggunya pasokan energi global, sejumlah negara itu kemudian memutuskan untuk mengurangi produksinya.
"Mengurangi produksi inilah yang membuat harga minyak mentah dunia, baik yang crude oil maupun Brent, ini pun juga melonjak tinggi. Bahkan saat ini di USD 117 antara crude oil dan Brent crude oil," jelasnya.
Sejalan dengan itu, Ibrahim menyebut bahwa banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah akan mencapai level USD 200 per barel.
Hal itu akan terjadi apabila dalam jangka waktu 1 bulan belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah.
Terlebih, ada potensi konflik akan semakin meluas karena diprediksi akan terjadi perang darat antara Amerika-Israel dan Iran yang kemungkinan besar sulit sekali untuk menguasai wilayah-wilayah Iran.
"ni yang harus diperhatikan oleh Trump untuk melakukan operasi militer via darat. Ini yang membuat harga minyak naik, kemudian harga gas alam naik dan ini akan berdampak terhadap turunan-turunannya," tambahnya.
Tak hanya faktor eksternal, dari segi internal pemerintah sudah menjelaskan bahwa selama 20 hari ke depan untuk minyak BBM ini masih akan cukup stabil.
Tetapi kalau seandainya harga di atas USD 92 per barel, maka pemerintah akan mengurangi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kita melihat bahwa hari ini harga crude oil dan Brent crude oil itu di atas USD 100-117. Artinya apa? Bahwa kemungkinan besar pemerintah akan mengalami defisit anggaran itu 3,6 persen," ujar Ibrahim
"Ini yang membuat ketegangan tersendiri carut-marut di dalam negeri dampak dari eksternal. Itu yang pertama. Yang kedua tentang masalah pertemuan kemarin antara Presiden dengan para ulama yang meminta pemerintah Indonesia keluar dari Board of Peace (BOP)," tukasnya. (jpg/smi)
Editor : Nurismi