Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

China ‘Nyontek’ Hasil Studi Kelayakan Kereta Cepat Milik Jepang, Pengamat Sebut Jadi Penyebab Biaya Membengkak

Beraupost • Jumat, 14 November 2025 | 05:35 WIB
Pengamat sebut pembengkakan biaya Whoosh karena studi kelayakan di awal yang tak maksimal. (Instagram/keretacepat_id)
Pengamat sebut pembengkakan biaya Whoosh karena studi kelayakan di awal yang tak maksimal. (Instagram/keretacepat_id)

BERAU POST - Polemik utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh kini tengah jadi sorotan dengan pembengkakan biaya atau cost overrun hingga 1,21 miliar dollar Amerika atau sekitar Rp19,96 triliun.

Akademisi Sulfikar Amir, mengungkapkan bahwa pembengkakan tersebut bisa terjadi karena metode studi kelayakan yang dilakukan China.

Sulfikar mengatakan bahwa China melakukan studi kelayakan selama 3 bulan melalui hasil data studi Jepang terhadap rencana proyek kereta cepat di Indonesia selama 4 tahun.

Studi Kelayakan China dari Studi Milik Jepang

Sulfikar mengatakan bahwa China sama saja melakukan studi kelayakan berdasarkan studi pihak lain.

“Mereka (China) mengambil studi kelayakan Jepang, dipelajari lalu membikin proposal studi kelayakan terhadap studi kelayakan,” kata Sulfikar Amir dikutip dari podcast Forum Keadilan TV pada Kamis, 13 November 2025.

“Kalau Jepang kan mereka ke lapangan, ngukur, ditimbang kemudian melakukan survei 4 tahun,” lanjutnya.

Dosen Nanyang Technological University (NTU), Singapura itu menyebut bahwa studi yang dilakukan China tidak empirik atau situasi yang tidak didasarkan pada peristiwa nyata melalui penelitian atau observasi.

“Harusnya nggak (boleh), karena studinya tidak empirik. Lalu, mereka membuat proposal dengan jalur yang sangat aneh, berhentinya di Halim di Jakarta kemudian di Bandung di Tegalluar. Belakangan ditambah Padalarang,” jelas Sulfikar.

“Mereka (China) buat proposal seakan-akan bisa lebih murah dari Jepang 6,2 miliar dolar Amerika, mereka tawarkan 5,5 miliar dolar Amerika,” lanjutnya.

Studi Kelayakan Tanpa Turun Lapangan Jadi Penyebab Pembengkakan Biaya

Pembengkakan atau cost overrun yang kini ditanggung oleh proyek Whoosh adalah hasil dari studi kelayakan China yang tak turun ke lapangan.

“Mereka nggak melakukan studi kelayakan dengan bener secara empirik berdasarkan data di lapangan, sehingga wajar saja kalau tidak akurat perhitungannya,” ucap Sulfikar.

“Makanya, cost overrun tinggi karena tidak ada studi yang dilakukan dengan benar. Jepang pun kalau melakukan, pasti ada cost overrun tapi akan minim karena mereka sudah mengukur semuanya,” tambahnya.

Sedangkan China, kata Sulfikar, melakukan studi lapangan justru saat proyek sedang berjalan.

Perencanaan Proyek Whoosh Disebut ICW Tak Matang

Dalam siaran podcast lain, aktivis dan peneliti ICW, Almas Sjafrina, sempat menyinggung tentang perencanaan proyek Whoosh yang tidak matang hingga membuat seolah kelabakan dalam pembayaran utangnya.

“Yang membuat bingung kok sekarang baru ribut gimana cara bayarnya, ini harusnya sudah dipikirkan sebelum programnya, proyeknya jalan,” kata Almas dikutip dari video yang diunggah di kanal YouTube Bambang Widjojanto pada Selasa, 11 November 2025.

“Sebetulnya, ini menunjukkan bagaimana pemerintah kita itu belum matang di level perencanaan persiapan udah jalan duluan,” lanjutnya.

Almas menambahkan bahwa akibat dari perencanaan yang kurang tepat itu membuat perhitungannya meleset ketika proyek Whoosh mulai berjalan.

“Makanya, ada penghitungan yang meleset, berapa sih proyeksi pendapatan dari Whoosh yang harapannya itu bisa membantu untuk membayar ke China dan sebagainya,” ucapnya.

“Problem pertama menurut saya di situ adalah perencanaan dan persiapannya,” imbuh Almas.

Menurutnya, sebelum proyek Whoosh dimulai, harus ada kajian panjang dan mendalam.

“(Kajian) soal kebutuhannya, siapa target penumpangnya. Padahal, kalau perencanaan beres, 50 persen pekerjaan itu sudah selesai,” tegasnya.
***

Editor : Nurismi
#china #kereta cepat #WHOOSH #studi kelayakan