Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Di Balik Gaya Koboy Menkeu Purbaya, Ada Hubungannya dengan Daya Beli Ekonomi dan Kepercayaan Publik

Beraupost • Rabu, 29 Oktober 2025 | 05:20 WIB
Menyoroti gaya komunikasi Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa yang kini dinilai meningkatkan kepercayaan publik. (Instagram.com/@purbayayudhi_official)
Menyoroti gaya komunikasi Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa yang kini dinilai meningkatkan kepercayaan publik. (Instagram.com/@purbayayudhi_official)

BERAU POST - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa kembali menjadi sorotan publik usai pernyataannya yang ceplas-ceplos.

Terhadap sejumlah isu kebijakan dianggap terlalu berani dan berpotensi memicu gesekan di kalangan pejabat Istana RI.

Kendati demikian, di balik gaya komunikasinya yang kerap disebut “koboy”, Purbaya menegaskan semua yang ia sampaikan memiliki dasar data dan hasil survei yang jelas.

Hal itu disampaikannya sekaligus menjawab kritik mantan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Hasan Nasbi yang sempat menilai cara bicaranya bisa melemahkan soliditas pemerintahan.

Purbaya menilai, setiap ucapan dan kebijakan yang diambilnya selalu diukur dampaknya terhadap tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah.

“Saya selalu pakai survei ke masyarakat apakah saya mengurangi kepercayaan masyarakat ke pemerintah apa tidak?" kata Purbaya kepada awak media di Menara Bank Mega, Jakarta, Senin, 27 Oktober 2025.

"Kalau dari angka terakhir ini, baru keluar angka survei bulan Oktober yang dilakukan oleh LPS,” imbuhnya.

Lantas, bagaimana poin-poin penting terkait gaya komunikasi Menkeu Purbaya yang kerap dianggap seperti koboy itu berhubungan dengan tingkat kepercayaan publik? Berikut ulasannya.

Purbaya menjelaskan, hasil survei terbaru menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah masih stabil.

Bahkan cenderung meningkat setelah sempat turun di pertengahan tahun akibat maraknya aksi demonstrasi pada akhir Agustus 2025 lalu.

Menkeu RI itu lantas menyoroti gaya komunikasi dirinya yang terkesan ceplas-ceplos.

Purbaya menyebut, keputusan pemerintah yang tegas justru berhasil mengembalikan sentimen positif publik terhadap kinerja ekonomi nasional.

“Ini kemarin waktu bulan Juli, Agustus, September turun terus terjadi banyaknya demo. Tapi kita lakukan kebijakan yang mungkin untuk bagian kalangan agak drastis agak ceplas-ceplos," terang Purbaya.

"Tapi justru ini berhasil mengembalikan sentimen masyarakat. Pemerintah justru sekarang stabil lagi,” jelasnya.

Purbaya menegaskan, stabilitas pemerintahan kini berada dalam posisi baik di mata publik.

“Jadi stabilitas pemerintahan amat baik di mata masyarakat kecuali di mata orang itu ya. Kenapa? Karena daya belinya juga membaik,” tegasnya.

Purbaya mengaitkan naiknya kepercayaan publik dengan meningkatnya daya beli masyarakat.

Bagi dia, pemulihan ekonomi menjadi faktor utama dalam menjaga legitimasi pemerintah di mata rakyat.

Dalam penjelasannya, Purbaya menegaskan adanya hubungan erat antara kondisi ekonomi dengan tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

Menkeu RI itu menyebut, penurunan kepercayaan biasanya terjadi ketika ekonomi sedang melemah, sementara dukungan publik meningkat saat daya beli membaik.

“Sepertinya saya koboy, tapi yang saya lakukan adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah itu juga atas perintah Bapak Presiden," terang Purbaya.

"Jadi saya tidak berani gerak sendiri. Jangan dianggap saya koboy, saya perpanjangan tangan dari Bapak Presiden,” pungkasnya.

Sebelumnya, Hasan Nasbi mengingatkan agar Purbaya berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan di ruang publik.

Kala itu, mantan Kepala Komunikasi Istana RI itu menilai gaya komunikasi yang terlalu keras bisa memunculkan kesan saling serang di antara pejabat pemerintah.

“Kalau kita bicara dalam konteks pemerintah, sesama anggota kabinet tidak bisa baku tikam terus-menerus di depan umum. Karena itu akan melemahkan pemerintah,” ujar Hasan melalui YouTube pribadinya, pada Minggu, 26 Oktober 2025.

Hasan Nasbi menegaskan, perbedaan pandangan sebaiknya disampaikan di ruang tertutup, bukan di depan publik.

“Kalau mau baku tikam di ruang tertutup, mau saling koreksi, mau saling debat, silakan,” terangnya.

“Tapi kalau di ruang terbuka, nanti justru menghibur orang-orang yang tidak suka dengan pemerintah,” jelas Hasan Nasbi.

Menariknya, gaya terbuka Purbaya terhadap kritik publik bukan hal baru, terlebih setelah menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani pada awal September 2025 lalu.

Kala itu, Purbaya pernah secara terbuka meminta masyarakat untuk menilai dan mengkritiknya habis-habisan jika kebijakannya tidak berdampak positif.

“Jadi ke depan teman-teman media mohon beri saya waktu untuk bekerja dengan baik,” kata Purbaya usai serah terima jabatan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 9 September 2025.

“Nanti kalau beberapa bulan baru kritik habis-habisan,” sambungnya.

Kala itu, Purbaya juga berterima kasih kepada Sri Mulyani yang telah membangun pondasi fiskal kuat bagi Indonesia dan berjanji untuk melanjutkan warisan kebijakan tersebut.

“Mudah-mudahan saya bisa meneruskan apa yang Ibu sudah buat dan saya mohon doa serta bimbingannya ke depan,” tuturnya.

Hingga kini, gaya “koboy” Purbaya justru dipandang sebagian pihak sebagai cara komunikatif yang efektif, selama tetap berpijak pada data dan hasil survei yang nyata. (smi)

Editor : Nurismi
#Purbaya Yudhi Sadewa #menkeu #Gaya Komunikasi