BERAU POST - Momen penutupan akhir perdagangan Indonesia dikejutkan dengan melemahnya nilai tukar atau kurs rupiah sebanyak 54 poin di level Rp 16. 239 perdolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (7/7).
Sebelumnya, rupiah sempat melemah 65 poin ke level Rp 16.182 per dolar AS.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan kurs Rupiah ini disebabkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Yang mulai mengirim surat ke sejumlah negara menjelang akhir batas waktu penundaan tarif impor pada Rabu, 9 Juli mendatang.
Trump mengumumkan bahwa beberapa tarif yang dikenakan akan berada dalam kisaran 10 persen hingga 70 persen dan akan berlaku pada tanggal 1 Agustus.
Bahkan, sejumlah negara yang berpihak pada blok BRICS akan memperoleh tarif tambahan 10 persen atas praktik mereka yang diduga anti-Amerika.
"Sebelumnya pada akhir pekan, Trump mengatakan AS hampir mencapai beberapa perjanjian perdagangan, dengan tarif baru yang akan mulai berlaku pada tanggal 1 Agustus. Pada bulan April, Trump memberlakukan tarif dasar sebesar 10 persen pada sebagian besar negara, dengan bea tambahan mencapai hingga 50 persen," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (7/7).
Lebih lanjut, Ibrahim mengungkapkan bahwa perpanjangan tiga minggu ini memberi negara lain lebih banyak waktu untuk mencapai kesepakatan dengan AS, tetapi kurangnya rincian membuat investor merasa khawatir.
Namun, titik dukungan terbesar dolar adalah penurunan tajam dalam ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada dua pertemuan berikutnya.
"Hal ini terutama didorong oleh proyeksi penggajian yang kuat pada hari Kamis (10/7) yang menunjukkan pasar tenaga kerja tetap tangguh meskipun ada hambatan ekonomi lainnya.," ungkapnya.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (Cadev) Indonesia pada akhir Juni 2025 mencapai USD 152,6 miliar, meningkat dibandingkan posisi pada akhir Mei 2025 sebesar USD 152,5 miliar.
Ibrahim menyampaikan, kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah.
Terutama terjadi di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
"Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," pungkas Ibrahim. (jpg/smi)
Editor : Nurismi