Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tarif Perdagangan AS Balik Arah: Harapan Investor Diuji, IHSG Tetap Perkasa!

Beraupost • Senin, 2 Juni 2025 | 08:10 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump umumkan tarif impor baru ke berbagai negara (Dok. Reuters/Carlos Barria)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump umumkan tarif impor baru ke berbagai negara (Dok. Reuters/Carlos Barria)

BerauPost - Harapan investor terhadap perbaikan tensi perdagangan global kembali diuji. Usai keputusan pengadilan perdagangan Amerika Serikat (AS) mengenai kebijakan tarif pemerintahan Donald Trump berbalik arah.

Situasi ini menimbulkan ketidakpastian lanjutan meski terdapat sejumlah katalis positif yang menahan gejolak pasar. 

Analis pasar modal Hans Kwee menyatakan, pelaku pasar sempat mendapatkan angin segar ketika pengadilan menyatakan Trump dinilai telah melampaui kewenangannya dan memerintahkan penghentian bea masuk.

Tapi harapan itu menjadi semu setelah pengadilan banding federal mengembalikan tarif tersebut.

"Tarif AS mungkin tetap ada, tetapi pelaku pasar berharap efek kejutnya sudah mulai berkurang, dalam hal ini kenaikan (tarif yang) besar," terangnya, Minggu (1/6).

Mengingat, ekspektasi investor sudah mulai menyesuaikan. Apalagi tensi perang tarif berangsur menurun. Terutama, sejak pertemuan pemimpin AS dan Tiongkok di Jenewa pada 11-12 Mei 2025 lalu. 

 Dari sisi kebijakan moneter, pasar menanti sikap The Federal Reserve (The Fed) yang dinilai akan lebih berhati-hati dalam mengambil langkah lanjutan. Bank sentral AS itu kemungkinan masih menantikan lebih banyak data untuk membuat keputusan lanjutan.

Pelaku pasar memperkirakan probabilitas pemotongan bunga Fed funds rate (FFR) dilakukan pada pertemuan September 2025 mendatang. 

Dari kawasan Eropa, sentimen positif muncul setelah Trump menunda rencana tarif 50 persen terhadap produk impor dari Uni Eropa.

Meski, investor juga masih menanti kesepakatan akhir keduanya. Mengingat, hubungan dagang Uni Eropa dan AS adalah yang terbesar di dunia.

Di sisi lain, retorika Trump yang berubah-ubah membuat pasar keuangan was-was. Volatilitas tetap membayangi.

"Pasar gelisah karena ucapan Trump sering berubah, mulai menuduh Tiongkok, lalu menyampaikan optimisme kesepakatan, dagang dengan Tiongkok" kata dosen Magister Fakultas Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya itu.

Di tengah dinamika global ini, pasar saham Indonesia menunjukkan performa positif. Indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil membalikkan tren penurunan awal tahun dengan kenaikan signifikan selama Mei 2025. Didukung oleh aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik.

"Kenaikan IHSG masih berpeluang berlanjut. IHSG berpeluang menguat dengan support di level 7.129-7.009 dan resistance di 7.280-7.300," beber Hans.

Bursa Efek Indonesia mencatat, nilai beli bersih investor asing sebanyak Rp 1,367 triliun pada perdagangan Rabu (28/5).

Meski, IHSG ditutup melemah 0,32 persen di 7.175,819. "Sepanjang 2025, investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp 45,187 triliun," ujar pelaksana harian Sekretaris Perusahaan BEI Valentina Simon. 

Terpisah, Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman memperkirakan, The Fed bakal memangkas suku bunga acuannya empat kali tahun ini.

Proyeksi tersebut lebih agresif dibanding konsensus pasar yang memperkirakan dua kali penurunan FFR. Sejalan dengan analisis internal Citi Indonesia yang menilai perekonomian AS masih kuat. 

"Pertumbuhan ekonomi AS saat ini sebagian besar didorong oleh pola konsumsi yang bersifat front loading. Terutama dalam pembelian barang-barang yang mengalami kenaikan harga akibat potensi kenaikan tarif," ungkapnya. 

Nantinya, ketika dampak kenaikan tarif mengerek harga-harga barang ekspor maupun impor, maka permintaan akan mulai melemah. 

Jika demikian, diperkirakan pertumbuhan ekonomi AS bisa terkontraksi di kuartal III 2025. Pelemahan ekonomi itu yang kemudian menjadi pemicu utama bagi The Fed untuk mulai menurunkan suku bunga. 

"Perkiraan kami, penurunan suku bunga pertama (Fed Rate) akan terjadi di Agustus," ucap Helmi. The Fed terakhir kali memangkas suku bunga acuannya pada Desember 2024. Hingga saat ini masih mempertahankannya di level 4,25 persen. (jpg/smi)

Editor : Nurismi
#kebijakan tarif #Berbalik Arah #ihsg #uni eropa